SEMARAPURA, Radar Bali.id- Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat Sekolah Dasar (SD) melalui jalur domisili di Kabupaten Klungkung tengah berlangsung sejak tanggal 1 hingga 4 Juli.
Namun, meski proses pendaftaran sudah memasuki hari kedua pada Kamis (2/7/2026), sejumlah SD di Kabupaten Klungkung justru terpantau sangat minim pendaftar.
Salah satu yang cukup memprihatinkan adalah SD Negeri 1 Semarapura Klod Kangin. Sekolah ini tercatat baru menerima pendaftaran dua orang siswa baru hingga hari kedua pelaksanaan SPMB.
Kepala SD Negeri 1 Semarapura Klod Kangin, Ni Nyoman Suardani saat dikonfirmasi, tidak menepis kondisi pelik yang dihadapi sekolahnya tersebut.
Baca Juga: SPMB SMA/SMK Bali 2026: Besok Jalur Zonasi Ditutup, Cek Kuota SMA dan Syarat Berkas Terbaru
Hanya saja, karena masih menyisakan dua hari masa pendaftaran, ia menaruh harapan besar masih ada orang tua anak yang datang mendaftar untuk menuntut ilmu di sekolah yang dipimpinnya itu. ”Mudah-mudahan besok ada lagi (yang mendaftar, Red),” harapnya dengan nada optimis.
Dituturkannya, sejak beberapa tahun terakhir ini jumlah siswa baru yang bersekolah di SD tersebut memang terus mengalami tren penurunan. Di mana pada tiga tahun lalu, sekolah sempat menerima 18 siswa yang mendaftar. Kemudian pada dua tahun lalu mengalami penurunan drastis, yakni hanya lima orang siswa saja. Sementara setahun lalu sempat mengalami sedikit peningkatan meski masih bisa dihitung jari, yakni sembilan siswa.
”Kondisi ini salah satunya tentu berdampak pada perolehan BOSP (Bantuan Operasional Sekolah Pendidikan). Tetapi BOSP yang kami dapat sejauh ini masih dapat membiayai operasional sekolah. Tapi tidak tahu selanjutnya kalau jumlah siswanya masih terus minim,” akunya cemas.
Menurut Suardani, minimnya jumlah siswa yang bersekolah di SD Negeri 1 Semarapura Klod Kangin ini lantaran semakin sedikitnya jumlah anak usia SD yang ada di pemukiman sekitar sekolah. Kondisi objektif itu diperparah lagi dengan lokasi sekolah yang tidak berada di jalan utama, serta berada dekat dengan area kuburan (setra).
Apalagi tidak jauh dari sekolah tersebut, tepatnya dengan radius sekitar 500 meter, berdiri SD Negeri 2 Semarapura Klod Kangin yang lokasinya jauh lebih strategis karena berada tepat di pinggir jalan utama. ”Anak yang bersekolah di tempat kami biasanya anak dari warga pendatang. Sementara anak warga asli daerah sini lebih memilih bersekolah di SD Negeri 2 Semarapura Klod Kangin,” ujarnya berterus terang.
Padahal meski tidak berada di jalan utama, kompleks SD Negeri 1 Semarapura Klod Kangin terbilang luas, bahkan ada TK yang ikut berdiri di halaman sekolah tersebut. Namun karena minimnya anak usia dini di wilayah itu, TK tersebut ikut-ikutan minim siswa. ”Terakhir jumlah anak yang ada di TK itu hanya sekitar 9 orang,” ungkapnya.
Untuk mendongkrak jumlah siswa baru, pihak sekolah mengaku sudah melakukan aksi jemput bola secara langsung bersama para guru. Mulai dari mendatangi dan mengajak para orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sana. Hanya saja karena kendala jarak rumah yang jauh, upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal. Orang tua cenderung menginginkan anaknya bersekolah dekat rumah agar tidak perlu repot antar-jemput lagi. ”Padahal untuk urusan prestasi, sekolah kami mencatatkan sejumlah prestasi,” bebernya.
Lebih lanjut disinggung mengenai kemungkinan terjadinya langkah regrouping (penggabungan sekolah), Suardani berharap besar hal itu tidak sampai terjadi. Mengingat formasi guru yang ada di sekolahnya sangat lengkap, dan kondisi bangunan fisik sekolah pun masih sangat layak serta luas. ”Bila sampai akhir masa pendaftaran nanti masih tetap dua siswa, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Kami berharapnya masih tetap lanjut mengajar meski hanya dua siswa,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Kadisdikpora) Klungkung, I Ketut Sujana saat dikonfirmasi terpisah mengungkapkan bahwa SD Negeri 1 Semarapura Klod Kangin belakangan ini memang kerap kali minim mendapatkan siswa baru. Kondisi ini membuat pihaknya menaruh perhatian khusus.
”Apakah masih layak dipertahankan, kami lihat tahun ini seperti apa perkembangannya. Sebenarnya sekolahnya bagus, ada TK juga di sana. Kemungkinan karena dekat dengan kuburan sehingga ada faktor keresahan dari orang tua. Padahal selama ini tidak terjadi apa-apa di sana,” tandas Sujana.[*]
Editor : Hari Puspita