Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

8 Cara Menulis Hasil Penelitian Menjadi Buku Ilmiah yang Mudah Dipahami

Donny Tabelak • Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:15 WIB
Menulis hasil penelitian menjadi buku bukan sekadar memindahkan isi laporan penelitian atau artikel jurnal ke dalam format buku.
Menulis hasil penelitian menjadi buku bukan sekadar memindahkan isi laporan penelitian atau artikel jurnal ke dalam format buku.

 

radarbali.jawapos.com - Hasil penelitian merupakan salah satu bentuk kontribusi akademik dosen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan di masyarakat. Namun, menghasilkan penelitian saja belum cukup. 

Temuan penelitian perlu dikomunikasikan melalui media yang tepat agar dapat dipahami, dikembangkan, dan dimanfaatkan oleh lebih banyak pihak.

Salah satu bentuk penyebarluasan hasil penelitian yang dapat dilakukan dosen adalah melalui penerbitan buku ilmiah.

Dibandingkan artikel jurnal yang memiliki ruang terbatas dan ditujukan untuk komunitas akademik tertentu, buku ilmiah memberikan ruang lebih luas bagi dosen untuk menjelaskan konsep, temuan, konteks, serta manfaat hasil penelitian kepada pembaca.

Namun, menulis hasil penelitian menjadi buku bukan sekadar memindahkan isi laporan penelitian atau artikel jurnal ke dalam format buku.

Dosen perlu menyesuaikan struktur, gaya bahasa, dan cara penyampaian agar hasil penelitian lebih mudah dipahami oleh pembaca.

Lalu, bagaimana cara menulis hasil penelitian agar menjadi buku ilmiah yang ramah pembaca?

Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan.

Kenapa Hasil Penelitian Sering Sulit Dipahami Pembaca?

Hasil penelitian dosen umumnya diutamakan disebarluaskan dalam bentuk publikasi di jurnal maupun prosiding.

Sehingga disajikan dalam bentuk karya tulis ilmiah seperti artikel ilmiah. Publikasi jenis ini menargetkan pembaca dari kalangan masyarakat ilmiah. Seperti dosen, mahasiswa, dan peneliti. 

Tak hanya itu hasil penelitian dosen juga dituangkan di dalam laporan penelitian. Laporan ini biasanya diserahkan ke berbagai pihak yang mendukung penelitian tersebut.

Misalnya perguruan tinggi tempat dosen mengabdi, penyelenggara hibah, mitra penelitian, dan pihak-pihak lainnya. 

Maka tidak heran, hasil penelitian dipaparkan dosen dalam bahasa ilmiah. Sehingga lebih ramah untuk masyarakat ilmiah dan akademisi. Namun, kurang bisa dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat awam. 

Inilah alasan kenapa hasil penelitian juga harus disebarluaskan dosen melalui penerbitan buku. Baik buku referensi maupun monograf.

Dalam bunga rampai (book chapter), biasanya dari segi bahasa masih terlalu ilmiah karena menggunakan sistematika artikel ilmiah. 

Supaya hasil penelitian yang tercantum di naskah buku referensi maupun monograf bisa dipahami para pembaca luas.

Maka menjadi kebutuhan dan kewajiban untuk dosen memahami bagaimana cara menulis hasil penelitian yang ramah untuk pembaca umum. 
Cara Menulis Hasil Penelitian agar Mudah Dipahami Pembaca

Agar hasil penelitian dapat diterima oleh pembaca yang lebih luas, dosen perlu memperhatikan cara penyajian informasi dalam naskah buku. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan.

1.    Menyusun Hasil Penelitian Secara Runtut
Cara yang pertama, hasil penelitian perlu disampaikan oleh dosen secara runtut. Sehingga membentuk alur penyajian yang jelas dan sesuai alur logika keilmuan.

Penjelasan seperti ini cenderung lebih mudah dipahami dibanding yang alurnya berantakan. 

Dosen perlu memahami betul bagaimana menyajikan hasil penelitian dalam bentuk teks yang terstruktur dan sistematis.

Mengikuti pelatihan menulis dan aktif menulis secara produktif bisa menjadi strategi yang mumpuni. 

2.    Menggunakan Bahasa Akademik yang Komunikatif
Cara menulis hasil penelitian yang mudah dipahami pembaca berikutnya adalah teliti memilih diksi.

Jika hasil penelitian dituangkan dalam karya tulis ilmiah seperti laporan penelitian dan artikel ilmiah. 

Maka akan lebih sering menggunakan istilah ilmiah dan bersifat teknis.

Namun, diksi harus jelas tidak menyebabkan ambigu. Sehingga mudah dipahami pembaca dari kalangan masyarakat ilmiah. 

Jika hasil penelitian dipublikasikan dalam bentuk buku. Maka diksi yang dipilih perlu diksi umum yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Sehingga penjelasan di dalamnya mudah dipahami oleh pembaca, khususnya masyarakat awam. 

3.    Menghubungkan Hasil Penelitian dengan Konteks Aktual 
Hasil penelitian kadang sulit dipahami karena masih asing di telinga.

Dalam kondisi seperti ini, dosen perlu menghubungkan hasil penelitian dengan konteks aktual di lapangan. 

Misalnya, hasil penelitian ditemukan ada korelasi positif antara kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan. Dosen bisa menyebutkan contoh nyata di lapangan.

Misalnya saat orang menggunakan layanan rumah sakit, semakin bagus layanan tenaga medis di dalamnya. Maka semakin puas para pasien yang dirawat. 
 
Memberikan contoh nyata di lapangan dan masih berkaitan erat dengan hasil penelitian.

Cenderung lebih mudah dipahami oleh pembaca dibanding penjelasan hasil penelitian saja sampai panjang lebar. 

4.    Menyajikan Data dalam Bentuk Teks dan Visual  
Data yang didapatkan dalam kegiatan penelitian, tentunya akan dicantumkan di dalam karya tulis ilmiah.

Baik untuk luaran berbentuk publikasi jurnal, prosiding, maupun penerbitan buku ilmiah. 

Supaya data penelitian tersebut juga mudah dipahami. Maka sebaiknya mencantumkan data dalam dua cara sekaligus.

Yakni dipaparkan dalam bentuk teks, baik angka maupun frasa. Kemudian divisualisasikan, misalnya disajikan dalam tabel maupun grafik. 

Visualisasi data akan memudahkan pemahaman data penelitian tersebut. Sekaligus menarik minat baca para pembaca karya tulis berisi hasil penelitian.

Sebab jika data disajikan dalam teks saja, maka akan sulit dipahami. Pembaca mudah bosan dan tidak membaca keseluruhan naskah. 

5.    Melakukan Parafrase untuk Meningkatkan Keterbacaan 
Cara menulis hasil penelitian agar lebih mudah dipahami pembaca berikutnya adalah melakukan parafrase.

Pada data, kalimat, dan bagian lain di dalam laporan hasil penelitian yang dirasa rumit. Sekaligus tidak umum digunakan dalam komunikasi sehari-hari. 

Maka bisa dipertimbangkan untuk dilakukan parafrase. Tujuannya agar bisa dijelaskan ulang dengan bahasa lebih sederhana.

Sehingga siapapun pembacanya bisa dengan mudah memahami penjelasan tersebut. 

Jadi, parafrase tidak hanya bisa dilakukan dosen dan peneliti dengan maksud menurunkan skor similarity.

Akan tetapi bisa juga diterapkan untuk meningkatkan keterbacaan naskah karya ilmiah.

Sehingga informasi hasil penelitian di dalamnya bisa dengan mudah dipahami pembaca dan kemudian dimanfaatkan. 

6.    Memberikan Penjelasan pada Istilah Ilmiah 
Jika hasil penelitian akan disebarluaskan dalam bentuk penerbitan buku.

Kemudian ada istilah teknis maupun istilah ilmiah yang tidak ditemukan kata ganti yang lebih umum. Maka tidak masalah tetap menggunakan istilah tersebut. 

Namun, bisa menambahkan keterangan penjelas yang memberikan definisi pada istilah tersebut.

Bisa ditempatkan di catatan kaki (footnote), glosarium di halaman belakang buku, atau teknik lainnya sesuai gaya sitasi yang digunakan. 

7.    Menggunakan Kalimat yang Ringkas dan Efektif 
Meningkatkan keterbacaan naskah ilmiah berisi hasil penelitian akan lebih mudah jika disajikan dalam kalimat efektif.

Kalimat yang efektif, salah satu ciri khasnya adalah ringkas. Yakni kalimat pendek, bukan kalimat terlalu panjang. 

Kalimat yang efektif membuat setiap informasi yang dipaparkan lebih mudah dipahami oleh pembaca.

Sebab jika kalimat terlalu panjang, berbelit-belit, dan sejenisnya. Justru bisa membingungkan pembaca. 

8.    Menambahkan Kesimpulan dan Implikasi Penelitian 
Cara berikutnya adalah menambahkan kesimpulan dan ringkasan.

Adanya kesimpulan maupun ringkasan atau keduanya sekaligus sangat membantu pembaca. 

Sebab bisa memudahkan mereka mengetahui hasil penelitian yang dipaparkan penulis. 

Sekaligus implementasi yang disarankan. 
Mengapa Hasil Penelitian Perlu Dikembangkan Menjadi Buku Ilmiah?

Hasil penelitian yang hanya tersimpan dalam laporan penelitian atau artikel jurnal memiliki keterbatasan dalam menjangkau pembaca yang lebih luas.

Melalui proses pengembangan menjadi buku ilmiah, hasil penelitian dapat dikemas dengan struktur dan bahasa yang lebih komunikatif sehingga lebih mudah dipahami serta dimanfaatkan.

Bagi dosen, buku ilmiah seperti monograf maupun buku referensi juga dapat menjadi bentuk kontribusi akademik sekaligus mendukung produktivitas dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Selain itu, buku ilmiah ber-ISBN dapat menjadi rekam jejak akademik yang menunjukkan kepakaran dosen dalam bidang keilmuan tertentu.

Konversi KTI Menjadi Buku Bersama Penerbit Deepublish
Mengubah laporan penelitian atau artikel jurnal menjadi buku ilmiah membutuhkan proses penyesuaian yang tidak sederhana.

Dosen perlu melakukan restrukturisasi naskah, penyuntingan bahasa, hingga memastikan buku sesuai dengan standar penerbitan ilmiah.

Bagi dosen yang ingin mengembangkan hasil penelitian menjadi buku, Penerbit Deepublish menyediakan jasa konversi KTI Deepublish untuk membantu mengubah karya ilmiah menjadi buku berkualitas.

Melalui pendampingan profesional, proses konversi dilakukan mulai dari penyesuaian struktur naskah, penyuntingan, layout, hingga penerbitan buku ber-ISBN.

Dengan pengalaman mendampingi ribuan akademisi di Indonesia, Deepublish membantu dosen mengubah hasil penelitian menjadi karya ilmiah yang lebih luas manfaatnya bagi dunia pendidikan dan masyarakat.

Saatnya jadikan hasil penelitian tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi menjadi buku ilmiah yang dapat dibaca, dipahami, dan memberikan dampak lebih luas.

Editor : Rosihan Anwar
Penerbit Deepublish