NEGARA, Radar Bali .id– Dunia pendidikan di Kabupaten Jembrana menghadapi tantangan serius. Fenomena siswa baru kelas VII SMP yang belum lancar membaca, menulis, dan berhitung (calistung) kembali ditemukan pada tahun ajaran baru ini.
Bahkan, beberapa siswa dilaporkan sama sekali belum bisa membaca.
Kondisi ini membuat para guru di tingkat SMP harus bekerja ekstra keras. Selain wajib menuntaskan materi kurikulum reguler, mereka dituntut memberikan bimbingan khusus agar siswa yang terbelakang kemampuan calistungnya tidak makin tertinggal.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikpora Jembrana, I Komang Gede Hendra Susanta membenarkan fenomena yang terus berulang setiap tahunnya ini.
”Setiap tahun memang ada, bahkan cukup banyak. Tidak hanya terjadi di satu sekolah, tetapi hampir di semua SMP di Jembrana,” aku Hendra, Selasa (11/8/2026).
Hendra menjelaskan, salah satu pemicu utama kondisi ini adalah perubahan sistem di jenjang sekolah dasar (SD) yang kini tidak lagi menerapkan kebijakan tinggal kelas. Akibatnya, siswa tetap diluluskan walau belum menguasai kemampuan dasar baca-tulis.
Selain itu, sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis zonasi mewajibkan SMP menerima seluruh calon murid di wilayah geografisnya tanpa ada penyaringan akademik. ”Semua anak di wilayah zonasi wajib diterima. Jadi ada yang kemampuan membacanya belum lancar, bahkan belum bisa sama sekali,” terangnya.
Menyikapi persoalan ini, Disdikpora Jembrana menginstruksikan setiap sekolah mendata siswa bermasalah calistung dan memberikan les khusus di luar jam belajar. Hendra juga mengetuk kesadaran para orang tua agar turut mendampingi anak belajar di rumah demi mempercepat penguasaan baca-tulis. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali