Mahasiswa Undiksha Kembangkan Terapi Bermain Berbasis Tutur Yaksha Prashna untuk Tumbuhkan Resiliensi Anak Penderita Kanker

Admin Radar Bali • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:04 WIB
Tim PKM-PM Universitas Pendidikan Ganesha bersama anak-anak penderita kanker dalam pelaksanaan Program Binar Asa di YPKA Bali
Tim PKM-PM Universitas Pendidikan Ganesha bersama anak-anak penderita kanker dalam pelaksanaan Program Binar Asa di YPKA Bali

SINGARAJA, radarbali.jawapos.com Kepedulian terhadap kondisi psikologis anak yang tengah menjalani pengobatan kanker mendorong mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menghadirkan inovasi pendampingan berbasis permainan dan cerita.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Tahun 2026, tim mahasiswa Undiksha mengembangkan program bertajuk “Binar Asa: Merajut Resiliensi Anak Penderita Kanker melalui Terapi Bermain Bermuatan Kisah Reflektif Tutur Yaksha Prashna di YPKA Bali.”

Program tersebut memperoleh pendanaan PKM Tahun 2026 dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak penderita kanker di Yayasan Peduli Kanker Anak (YPKA) Bali.

Tim Binar Asa diketuai oleh Putu Meidyana Ardiyanti, bersama anggota Gek Ayu Prabha Indah Cahya Dewi, Kadek Ardelia Dwi Aprily, Ni Ketut Vera Wulanprataminingsih, dan I Gusti Ayu Chandra Devi, serta didampingi oleh Dr. I Putu Pasek Suryawan, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pendamping.

Binar Asa dirancang untuk membantu anak mengembangkan resiliensi atau kemampuan beradaptasi dan mempertahankan ketangguhan dalam menghadapi berbagai tekanan emosional selama proses pengobatan.

Pendampingan tidak berfokus pada aspek medis, melainkan memberikan ruang bagi anak untuk bermain, bercerita, mengenali perasaan, serta menemukan kembali harapan dan kekuatan dalam dirinya.

Di balik pemilihan Tutur Yaksha Prashna sebagai dasar cerita, terdapat ketertarikan personal dari ketua tim terhadap kisah Mahabharata.

Putu Meidyana Ardiyanti selaku ketua Tim PKM-PM Binar Asa mengatakan bahwa ketertarikannya terhadap kisah tersebut bermula dari kegemarannya menyaksikan serial Mahabharata. 

Salah satu adegan yang paling menarik perhatiannya adalah ketika para Pandawa berada dalam masa pengasingan dan berhadapan dengan Yaksha dalam rangkaian tanya jawab yang dikenal sebagai Yaksha Prashna.

“Awalnya karena saya memang suka menonton Mahabharata. Ada satu scene yang paling saya suka, yaitu ketika Pandawa sedang dalam masa pengasingan dan kemudian bertemu dengan Yaksha.

Setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata dialog dalam Yaksha Prashna ini penuh dengan nilai kebijaksanaan dan pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang kehidupan,” ujar Putu.

Menurutnya, nilai-nilai dalam dialog tersebut memiliki kedekatan filosofis dengan perjalanan anak-anak yang sedang menghadapi kanker.

Jika Pandawa dalam kisah tersebut harus melewati masa pengasingan, menghadapi ketidakpastian, dan tetap bertahan dalam situasi sulit, anak-anak penderita kanker juga menghadapi perjalanan panjang yang tidak mudah selama menjalani pengobatan.

“Yang menarik bagi saya adalah bagaimana adegan antara Yaksha dan Yudisthira mengajarkan tentang bagaimana seseorang tetap bijaksana dan teguh ketika berada dalam kondisi yang sulit.

Hal itu saya lihat memiliki korelasi dengan anak-anak penderita kanker. 

Mereka juga sedang berada dalam sebuah perjalanan yang penuh tantangan, sehingga nilai tentang keberanian, kesabaran, keteguhan, dan harapan terasa relevan untuk mereka,” jelasnya.

Nilai-nilai tersebut kemudian tidak disampaikan dalam bentuk ajaran yang berat, tetapi diadaptasi menjadi cerita yang lebih sederhana dan dekat dengan dunia anak.

Dengan demikian, anak-anak dapat mengenali pesan dalam kisah melalui pengalaman bermain, berdialog, dan berefleksi.

Selain kisah yang digunakan, pemilihan Narrative Play Therapy juga disesuaikan dengan kondisi anak-anak penderita kanker.

Pendekatan ini memungkinkan proses pendampingan dilakukan melalui aktivitas bermain dan bercerita tanpa menuntut banyak aktivitas fisik atau mobilitas dari anak.

“Anak-anak penderita kanker memiliki kondisi yang berbeda-beda dan tidak selalu memungkinkan mereka untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak gerak.

Karena itu, Narrative Play Therapy kami pilih karena anak tetap bisa bermain, bercerita, dan mengekspresikan dirinya dengan aktivitas yang sederhana dan fleksibel,” ungkap Putu. (kal)

Editor : Rosihan Anwar
Undiksha Buleleng