Investasi Human Capital, SMAN 2 Gerokgak dan ReffTunes Sulap Alat Musik Jadi Panggung Pedagogis

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:44 WIB
INVESTASI NADA: Chris E. Brown, owner ReffTunes Musik Studio, bersama Prof. Nowak Foundation, dengan pendampingan dari SMA Negeri 2 Gerokgak melalui kegiatan ekstrakurikuler Musik dan Vocal. (IST/radarbali.id)
INVESTASI NADA: Chris E. Brown, owner ReffTunes Musik Studio, bersama Prof. Nowak Foundation, dengan pendampingan dari SMA Negeri 2 Gerokgak melalui kegiatan ekstrakurikuler Musik dan Vocal. (IST/radarbali.id)

 

GEROKGAK, radarbali.jawapos.com — Pembinaan minat dan bakat pelajar di bidang seni musik di Kecamatan Gerokgak memasuki babak baru. Bukan sekadar menghadirkan kegiatan pentas atau kompetisi sesaat, sebuah inisiatif pembibitan dan pembinaan musik mulai diarahkan menjadi ekosistem pembinaan bakat pelajar lintas sekolah yang berkelanjutan.

Langkah tersebut ditandai dengan penyerahan bantuan alat musik secara langsung oleh inisiator program pada Jumat, 21 Agustus 2026. Program ini digagas oleh Chris E. Brown, owner ReffTunes Musik Studio, bersama Prof. Nowak Foundation, dengan pendampingan dari SMA Negeri 2 Gerokgak melalui kegiatan ekstrakurikuler Musik dan Vocal.

Yang menarik, bantuan alat musik dalam program ini tidak berdiri sendiri. Ia ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian pembinaan yang lebih luas, meliputi pemberian alat musik, pembinaan keterampilan, kompetisi, penyediaan panggung kreativitas, serta penguatan komunikasi dan koordinasi pembina ekstrakurikuler musik lintas sekolah.

Dengan demikian, substansi program bukan semata-mata persoalan “memberi alat”, tetapi bagaimana alat tersebut menjadi modal awal untuk melahirkan proses belajar, ruang ekspresi, pengalaman tampil, kompetisi sehat dan jejaring pembinaan seni di kalangan pelajar.

 

Dari Bantuan Alat Musik Menjadi Investasi Bakat

Selama ini pembinaan seni di sekolah sering menghadapi persoalan klasik dimana minat siswa sebenarnya cukup besar, tetapi tidak selalu ditopang oleh ketersediaan instrumen, pembina, ruang latihan, kesempatan tampil dan kompetisi yang berkelanjutan.

Di titik inilah program yang digagas Chris E. Brown dan Prof. Nowak Foundation memiliki relevansi yang kuat. Bantuan alat musik dapat dibaca sebagai investasi pendidikan, bukan sekadar bantuan material.

Instrumen musik menjadi sarana agar siswa memiliki kesempatan untuk belajar secara langsung, berlatih secara konsisten dan mengembangkan kemampuan melalui pengalaman.

Program ini juga memiliki nilai strategis karena pembinaannya tidak berhenti pada satu sekolah. Tahap awal menyasar para partisipan Smandara Music Competition, sehingga penerima bantuan mencakup SMP Negeri 2 Gerokgak, SMP Nusa Dua Gerokgak, MTs Sunan Ampel, SMP Satap Gerokgak, SMP Negeri 6 Gerokgak, SMP Negeri 4 Gerokgak, dan MTs Nurul Huda Gondol.

Pola ini penting karena kompetisi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir. Kompetisi justru menjadi pintu masuk untuk memetakan potensi, mempertemukan siswa dan pembina, kemudian dilanjutkan dengan latihan, pembinaan serta pemberian ruang tampil.

Inilah perbedaan antara kegiatan seni dengan sistem pembinaan seni. Kegiatan selesai ketika acara berakhir; pembinaan justru dimulai setelah acara selesai.

Tahap kedua program direncanakan diperluas kepada SMP dan MTs yang belum memperoleh bantuan, sekaligus membuka peluang bagi SMA, SMK dan MA yang melakukan pembinaan musik secara aktif. Jika konsistensi ini dapat dipertahankan, Gerokgak memiliki peluang membangun sebuah jaringan pembinaan musik pelajar yang melampaui sekat satuan pendidikan.

 

Musik Bukan Sekadar Hiburan

Pandangan bahwa musik hanya berada di wilayah hiburan sudah tidak memadai untuk membaca perkembangan pendidikan kontemporer. UNESCO dalam Framework for Culture and Arts Education menempatkan budaya dan seni sebagai bagian penting dari pendidikan yang inklusif dan holistik.

Seni dinilai berkontribusi terhadap kreativitas, berpikir kritis, penghargaan terhadap keberagaman dan kemampuan peserta didik untuk berinteraksi secara bermakna dengan lingkungan sosialnya.

Dalam pandangan ini, pembinaan musik di sekolah sesungguhnya merupakan bagian dari investasi human capital sekaligus social capital. Anak tidak hanya belajar memainkan gitar, drum, keyboard atau bernyanyi, tetapi juga belajar mendengar, mengikuti ritme, bekerja dalam kelompok, mengendalikan ego, menghargai peran orang lain dan bertanggung jawab terhadap hasil bersama.

Karena itu, pembinaan musik pelajar tidak tepat jika ditempatkan sebagai kegiatan “tambahan” yang hanya mengisi waktu luang. Ia dapat menjadi ruang pendidikan karakter yang konkret.

 

Membentuk Kepercayaan Diri dan Identitas Pelajar

Usia SMP/MTs merupakan fase penting dalam pembentukan identitas diri. Pada masa ini siswa sedang mencari pengakuan, kelompok pertemanan, ruang aktualisasi dan bentuk ekspresi yang sesuai dengan dirinya.

Musik dapat menjadi medium yang relatif kuat untuk proses tersebut. Siswa yang semula kurang percaya diri di ruang akademik dapat menemukan keberanian ketika tampil bernyanyi atau memainkan alat musik. Anak yang cenderung individual dapat belajar bekerja dalam kelompok band. Sementara siswa yang memiliki aspirasi menjadi musisi, penyanyi, komposer, produser atau pekerja industri kreatif dapat mulai mengenali potensinya sejak sekolah.

Penelitian Goopy (2023) mengenai musical possible selves pada remaja menunjukkan bahwa identitas musikal anak muda dapat berhubungan dengan cara mereka memandang masa depan pendidikan dan kariernya. Karena itu, sekolah perlu menyediakan jalur yang memungkinkan siswa mengenali dan mengembangkan potensi musiknya secara lebih serius.

Temuan Wang dan Odena (2025) pada sekolah menengah juga menunjukkan bahwa pembelajaran musik berbasis Orff dapat memperkuat persepsi inklusi melalui peningkatan pertemanan, motivasi dan kepercayaan diri siswa.

Artinya, panggung musik sesungguhnya dapat menjadi panggung pedagogis. Anak belajar tampil, menerima kritik, mengatasi kegagalan, menghargai penonton dan kembali berlatih setelah melakukan kesalahan.

 

Kompetisi Harus Menjadi Instrumen Pembinaan

Smandara Music Competition dalam konteks ini memiliki arti penting. Kompetisi memberikan target yang konkret kepada siswa dan pembina. Namun, kompetisi perlu dikelola dengan paradigma yang tepat.

Jika kompetisi hanya mengejar juara, maka yang tumbuh adalah orientasi kemenangan. Tetapi jika kompetisi dijadikan bagian dari ekosistem pembinaan, maka yang tumbuh adalah budaya belajar, sportivitas, disiplin, keberanian dan evaluasi diri.

Karena itu, ke depan kompetisi musik antarsekolah di Gerokgak idealnya tidak hanya menghasilkan daftar juara, tetapi juga database potensi siswa, peta kelompok musik, profil pembina, kebutuhan alat musik, agenda latihan dan kalender panggung kreativitas.

Model semacam itu akan mengubah kompetisi dari sekadar event menjadi instrumen pemetaan talenta.

 

Panggung Kreativitas dan Jejaring Pembina

Gagasan penyediaan panggung kreativitas menjadi bagian yang tidak kalah penting. Bakat tanpa panggung akan sulit berkembang karena siswa tidak memperoleh pengalaman mengaktualisasikan kemampuan di hadapan publik.

Panggung juga memiliki fungsi sosial. Ia mempertemukan sekolah, siswa, guru, orang tua dan masyarakat. Di sana terjadi pertukaran pengalaman sekaligus pembentukan apresiasi terhadap karya pelajar.

Lebih jauh, tujuan program untuk menjadi wadah komunikasi, koordinasi dan konsolidasi pembina ekstrakurikuler musik lintas sekolah merupakan gagasan yang patut diapresiasi. Persoalan pembinaan bakat sering kali bukan semata kekurangan siswa berbakat, melainkan belum terbangunnya jejaring pembina yang saling berbagi metode, materi, pengalaman dan kesempatan tampil.

Karena itu, tahap berikutnya sebaiknya diarahkan pada pembentukan forum komunikasi pembina musik pelajar Gerokgak. Forum tersebut dapat menjadi ruang berbagi praktik baik, klinik musik, pelatihan pembina, penyusunan kalender kompetisi dan panggung bersama.

Dalam konteks Gerokgak, kolaborasi Chris E. Brown, ReffTunes Musik Studio, Prof. Nowak Foundation dan SMA Negeri 2 Gerokgak dapat dibaca dalam perspektif tersebut: masyarakat dan lembaga pendidikan bertemu untuk membuka ruang pengembangan potensi anak.

Apa yang dilakukan Chris E. Brown dan Prof. Nowak Foundation patut memperoleh apresiasi karena menyentuh persoalan yang sering kurang mendapat perhatian: bagaimana menemukan dan memelihara bakat anak sebelum bakat itu hilang karena tidak memperoleh ruang tumbuh.

Apresiasi juga layak diberikan kepada SMA Negeri 2 Gerokgak yang mengambil posisi sebagai pendamping program melalui ekstrakurikuler Musik dan Vocal. Peran pendamping menjadi penting agar bantuan tidak berhenti pada penyerahan instrumen, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi aktivitas pembinaan.

Namun, ada satu catatan penting: keberlanjutan harus menjadi ukuran keberhasilan program. Keberhasilan tidak cukup diukur dari berapa banyak alat musik yang diberikan atau berapa sekolah yang menerima bantuan. Ukuran yang lebih substantif adalah berapa banyak siswa yang kemudian aktif berlatih, berapa kelompok musik yang tumbuh, berapa pembina yang meningkat kapasitasnya, berapa panggung yang tersedia dan berapa banyak siswa yang mampu menghasilkan karya.

Dengan kata lain, indikator keberhasilan harus bergerak dari input menuju proses, output dan outcome.

Jika tahap kedua dapat diperluas secara konsisten, ditambah pembinaan berkala, kompetisi tahunan, panggung kreativitas dan forum pembina lintas sekolah, maka program ini berpotensi menjadi model pembinaan seni pelajar berbasis komunitas di Kecamatan Gerokgak.

 

Dari Gerokgak untuk Masa Depan Seni Pelajar

Anak-anak tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar matematika, bahasa, sains dan teknologi. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bernyanyi, memainkan alat musik, mencipta, tampil, berkolaborasi dan menemukan dirinya.

Gerokgak kini memiliki sebuah peluang: menjadikan musik bukan sekadar ekstrakurikuler, tetapi bagian dari ekosistem pendidikan yang melahirkan kreativitas, kepercayaan diri, solidaritas dan aspirasi masa depan siswa.

Karena itu, Kantor Kemenag Buleleng melalui Kepala Seksi Pendis Lewa Karma menyampaikan apresiasi kepada Chris E. Brown, ReffTunes Musik Studio dan Prof. Nowak Foundation.  Sepatutnya tidak boleh berhenti pada ucapan terima kasih. Yang jauh lebih penting adalah memastikan gagasan baik ini mendapatkan kesinambungan, jejaring dan ruang tumbuh.

Jika itu berhasil dilakukan, alat musik yang hari ini diserahkan mungkin hanya benda. Tetapi dari benda itulah bisa lahir suara dari suara lahir karya dari karya lahir kepercayaan diri; dan dari kepercayaan diri dapat tumbuh generasi muda Gerokgak yang berani bermimpi dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan aspirasinya.

SMAN 2 Gerokgak tidak sekadar sedang membagikan alat music, namun sedang menanam benih talenta. Dan setiap benih bakat membutuhkan pembinaan, ruang tumbuh dan panggung agar kelak menjadi karya yang membanggakan.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
Chris E. Brown ReffTunes Musik Studio sman 2 gerokgak Investasi Lewat Nada