Lima Program JAGAT Digelar di Desa Tegallinggah, Fokus Konservasi dan Mitigasi Bencana

Admin Radar Bali • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 10:38 WIB
Program JAGAT di Desa Tegallinggah, Sukasada, Buleleng, mulai dari konservasi lingkungan, pemetaan wilayah rawan bencana, edukasi, penguatan kelembagaan, hingga pengelolaan sumber daya air
Program JAGAT di Desa Tegallinggah, Sukasada, Buleleng, mulai dari konservasi lingkungan, pemetaan wilayah rawan bencana, edukasi, penguatan kelembagaan, hingga pengelolaan sumber daya air

 

SINGARAJA, radarbali.jawapos.com - Upaya memperkuat konservasi lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana dilakukan di Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng, melalui lima program yang tergabung dalam JAGAT. Program tersebut mencakup pelestarian pohon, pemetaan wilayah rawan bencana, edukasi lingkungan, penguatan kelembagaan, hingga pengelolaan sumber daya air.

 

Kelima program itu yakni JAGAT KERTI, JAGAT RACANA, JAGAT WIDYA, JAGAT AMERTA, dan JAGAT TOYA. Pelaksanaannya melibatkan masyarakat Desa Tegallinggahbersama anggota PPK Ormawa dan fungsionaris HMJ Pendas.

 

Ketua PPK Ormawa, Ni Putu Sastra Pramedia, mengatakan setiap program memiliki fokus berbeda sesuai persoalan lingkungan dan kebencanaan yang menjadi perhatian di desa tersebut.

 

“Program JAGAT dirancang dengan fokus yang berbeda, mulai dari konservasi lingkungan, pemetaan wilayah rawan bencana, edukasi, penguatan kelembagaan, hingga pengelolaan sumber daya air,” kata Sastra, Selasa (18/8/2026).

 

JAGAT KERTI diarahkan pada pelestarian lingkungan melalui penanaman dan konservasi pohon wingin. Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat dalam upaya menjaga keberadaan pohon yang memiliki keterkaitan dengan budaya dan spiritual masyarakat setempat.

 

Sementara JAGAT RACANA berfokus pada pemetaan wilayah yang memiliki potensi rawan bencana. Pemetaan berbasis data tersebut digunakan untuk mengenali kondisi wilayah dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

 

Adapun JAGAT WIDYA menyasar aspek edukasi lingkungan, khususnya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan limbah. Program ini mendorong kesadaran masyarakat terhadap dampak pengelolaan limbah terhadap lingkungan.

 

Pada sisi kelembagaan, JAGAT AMERTA diarahkan untuk memperkuat koordinasi dalam penanggulangan bencana. Program ini melibatkan berbagai pihak agar penanganan kebencanaan di tingkat desa dapat dilakukan dengan pembagian peran dan koordinasi yang lebih jelas.

 

Sedangkan JAGAT TOYA menitikberatkan pada pengelolaan dan konservasi sumber daya air. Program tersebut memadukan pemberdayaan masyarakat, kearifan lokal Subak, serta pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) melalui sistem monitoring kualitas air.

 

Menurut Sastra, rangkaian program tersebut tidak hanya diarahkan pada kegiatan fisik, tetapi juga pada peningkatan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menghadapi potensi bencana.

 

Pelaksanaan lima program JAGAT menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan aspek konservasi, pengelolaan sumber daya alam, edukasi, pemanfaatan data dan teknologi, serta kesiapsiagaan bencana di tingkat desa.

Editor : Rosihan Anwar
Program JAGAT universitas pendidikan ganesha