BADUNG, radarbali.jawapos.com - Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil bunga cempaka terbanyak di Bali. Keberadaan bunga cempaka tidak hanya menjadi komoditas ekonomi warga, tetapi juga sarana utama dalam kegiatan keagamaan dan adat masyarakat Bali.
Namun, kendala utama yang kerap dihadapi petani dan warga lokal adalah melimpahnya bunga cempaka yang tidak laku dijual karena layu, di mana pemanfaatannya selama ini masih belum maksimal dan sering berakhir menjadi sampah.
Melihat potensi bahan alam serta permasalahan limbah tersebut, Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Sibanggede. Kegiatan ini mengusung topik inovatif, yaitu "Pembuatan Minyak Atsiri Cempaka Layu melalui Proses Destilasi sebagai Produk Berdaya Jual."
Melalui program ini, tim akademisi Fakultas Farmasi Unmas Denpasar memberikan solusi konkret berbasis ilmu kefarmasian. Bunga cempaka yang sudah layu dan tidak terjual dikumpulkan untuk diolah menggunakan teknik destilasi (penyulingan) sederhana guna mengekstraksi kandungan minyak atsiri (essential oil) yang tersisa di dalamnya.
Mengubah Limbah Bunga Menjadi Produk Nilai Tambah
Dalam pelatihan ini, warga diajarkan tahapan penyulingan secara sistematis, mulai dari pemilahan bunga cempaka layu, persiapan alat destilasi, proses ekstraksi uap, hingga pemisahan minyak atsiri dan hydrosol (air bunga).
Beberapa nilai tambah dari program ini meliputi:
- Optimalisasi Potensi Lokal: Memaksimalkan potensi bunga cempaka melimpah di Desa Sibanggede yang selama ini terbuang saat layu.
- Solusi Limbah Organik: Mengurangi penumpukan limbah bunga sisa penjualan maupun sarana upacara di lingkungan desa.
- Aplikasi Kefarmasian & Produk Aromaterapi: Minyak atsiri cempaka memiliki aroma khas yang menenangkan dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku parfum, minyak aromaterapi, diffuser, hingga produk perawatan tubuh.
- Peluang UMKM Berdaya Saing: Menghasilkan produk akhir berupa essential oil berkualitas tinggi yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan bunga segar, sehingga membuka peluang usaha baru bagi warga lokal.
Ketua Tim Pengabdian Fakultas Farmasi Unmas Denpasar menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi bagi warga Sibanggede.
"Sebagai salah satu sentra cempaka di Bali, amat disayangkan jika bunga yang tidak laku dijual karena layu dibuang begitu saja. Padahal, kandungan minyak atsirinya masih sangat baik. Melalui teknologi destilasi ini, kami ingin mendampingi masyarakat Desa Sibanggede agar mampu mengolah limbah bunga tersebut menjadi produk bernilai jual tinggi," ujarnya di sela-sela kegiatan.
Pemerintah Desa dan warga Sibanggede menyambut antusias pelatihan ini karena memberikan solusi nyata atas permasalahan bunga layu di desa mereka. Kegiatan PkM ini diakhiri dengan penyerahan modul panduan destilasi, sampel minyak atsiri hasil penyulingan, serta sesi foto bersama. (ade)
Editor : Rosihan Anwar