SINGARAJA, Radar Bali.id - Pengawas sekolah di Kabupaten Buleleng ternyata masih kurang, walaupun sudah ada 22 orang. Parahnya, satu orang pengawas melebihi kapasitasnya dalam bertugas.
Baca Juga: Buleleng Krisis Pengawas Sekolah, Butuh Tambahan 52 Orang, Begini Penyebabnya
”Ada 9 kecamatan, kemudian 534 sekolah. Ya hitung aja sendiri. Jadi sangat membutuhkan, masih sangat membutuhkan tenaga,” kata Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menjawab idealnya pengawas sekolah di Bali utara.
Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng menyebut Bali utara masih kekurangan pengawas sekolah. Yang menjadi kendala adalah transisi secara regulasi yang berlangsung dalam lima tahun terakhir. Sebab, terdapat aturan yang mengharuskan uji kompetensi terlebih dahulu yang dibuka oleh pusat.
Akibatnya, dengan hanya 22 orang pengawas di seluruh Buleleng, maka per orang mengawasi 15-20 sekolah. Sifat mereka bekerja mengkoordinasikan dan melakukan pendampingan. Hanya saja, kurangnya pengawas sekolah membuat dilakukan pengawasan lintas jenjang. Pengawas SD ada merangkap TK, begitu juga yang SMP ada yang merangkap SD.
”Kalau dari Indeks Kesulitan Geografis, rasionya 1:10, kalau idealnya. Tapi karena hanya 22 orang yang memenuhi syarat, itu yang ditugaskan untuk melayani pendampingan di masing-masing sekolah, baik TK, SD, SMP yang ada di Buleleng,” ungkap Kepala Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Surya Bharata.
Dilanjutkannya, sampai saat ini pendampingan sudah dilakukan optimal, meskipun kurang pengawas. Pemanfaatan media digital dan waktu kerja yang fleksibel membuat pekerjaan menjadi efektif dan efisien.
Misalnya, saat malam berkumpul untuk diskusi yang dilakukan melalui forum kepengawasan bersama para kepala sekolah.
Selain itu, Disdikpora Buleleng juga terus mendorong para guru agar memenuhi syarat dan ketentuan. Sehingga ketika ada bukaan dari pusat, segera bisa mengisi. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali