Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Aplikasi Stroberi Kasir untuk Pengusaha Mikro: Kuncinya Disiplin Catat Keuangan

M.Ridwan • Sabtu, 18 Februari 2023 | 02:15 WIB
MENGGELIAT: Usaha dupa Ajeg Bali di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, telah menerapkan keuangan digital dalam proses transaksi dan pembukuan.
MENGGELIAT: Usaha dupa Ajeg Bali di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, telah menerapkan keuangan digital dalam proses transaksi dan pembukuan.
Disiplin penerapan manajemen keuangan bisa jadi kunci keberhasilan menjalankan usaha mikro. Aplikasi Stroberi Kasir yang dibuat Bank Rakyat Indonesia (BRI), bisa jadi solusi bagi pengusaha mikro untuk mengelola keuangan mereka.

ADITYA AL BADARI, 36,  tampak suntuk dengan gawai miliknya. Dia tengah sibuk mencatat transaksi penjualan produk keripik usus ayam dengan label Rembo. Produk itu sejatinya dibuat oleh mertuanya, Siti Ruhayana, 51. Tapi Aditya dipercaya mencatat urusan keuangan.

Untuk memudahkan proses pencatatan transaksi, Aditya menggunakan aplikasi Stroberi Kasir. Ia mengenal aplikasi besutan Bank Rakyat Indonesia (BRI) itu saat mengikuti pelatihan Digital Entrepreneurship Academy (DEA) pada tahun 2022 silam. BRI baru merilis aplikasi itu ke publik pada 31 Maret 2020 silam. Terakhir aplikasi tersebut diperbaharui di Google Play Store pada 2 Februari lalu. “Ada narasumber dari BRI yang menjelaskan aplikasi itu. Langsung saya download dan saya pakai untuk usaha mertua saya. Supaya lebih disiplin saja mencatat keuangan,” kata Aditya saat ditemui di rumahnya yang terletak di Kelurahan Banyuasri, belum lama ini.

Mengelola sebuah usaha skala rumah tangga, bukan perkara mudah. Terutama dalam pencatatan keuangan. Selain membuat keripik usus ayam, Siti Ruhayana juga mengelola warung kecil-kecilan di rumahnya. Keuangan antara produksi keripik dan hasil warung kerap tercampur. “Untungnya nggak pernah kelihatan. Waktu mau ajukan kredit, pas ditanya omzet bingung. Makanya saya minta menantu bantu urus pembukuan khusus keripik. Karena pernah diajukan untuk KUR (Kredit Usaha rakyat) di BRI,” ujar Ruhayana yang akrab disapa Iyung itu.

Seiring dengan pencatatan yang lebih rapi, Iyung lebih lega. Omzetnya berputar dengan cukup lancar. Berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,1 juta per pekan. Uang dari hasil penjualan diputar secara kontinu sebagai modal. “Alhamdulilah keuntungannya bisa untuk kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Aditya menambahkan, saat mengikuti DEA yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika, narasumber menekankan soal pentingnya manajemen keuangan. Para pelaku UMKM dianjurkan memisahkan transaksi keuangan usaha dengan kebutuhan sehari-hari. Sehingga terlihat jelas antara omzet, laba, maupun rugi. “Awalnya saya sama ibu nggak pernah terlalu peduli sama pembukuan begitu. Selama nggak rugi, ya jalan saja. Karena ibu juga suka masak. Setelah pelatihan, saya aplikasikan, alhamdulilah kelihatan laba dan omzetnya,” timpal Aditya yang juga pegawai pada Dinas Kominfo Buleleng itu.

Lain lagi dengan Nyoman Tiya Martini. Pemilik usaha Dupa Ajeg Bali itu sejak awal sudah mencatat transaksi keuangannya secara disiplin. Awalnya pencatatan masih dilakukan secara manual. Kalau toh menggunakan aplikasi di komputer, ia hanya mengoptimalkan aplikasi Microsoft Excel dengan menerapkan rumus-rumus sederhana.

Belakangan ia mengenal aplikasi Stroberi Kasir saat mengikuti pelatihan entrepreneurship. Aplikasi berbasis android itu dianggap mudah dioperasikan. Aplikasi itu bukan hanya semata-mata mencatat transaksi keuangan, tapi juga mengelola persediaan barang. “Memang dari dulu ingin pakai aplikasi kasir seperti itu. Setelah tanya-tanya harganya lumayan. Akhirnya manual. Setelah ikut pelatihan baru tahu kalau aplikasi ini gratis. Mau cek laporan keuangan atau cek stok barang juga gampang,” jelasnya.

Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UMKM (Dagerin) Buleleng, Dewa Made Sudiarta mengungkapkan, salah satu kendala UMKM adalah kedisiplinan mereka dalam menggunakan dana. Mereka tak pernah mencatat modal awal, pembelian bahan baku, maupun hasil penjualan. Sehingga omzet yang dikelola tak terlalu kentara. “Ya karena belum disiplin saja. Terutama kan yang usaha-usaha skala rumah tangga. Antara uang dapur dan uang usaha, sering tercampur. Makanya setiap pelatihan kami selalu ingatkan bahwa penting mencatat transaksi keuangan usaha mereka,” ujarnya.

Biasanya dalam ajang-ajang pelatihan, pihaknya menggandeng pihak perbankan, dalam hal ini Bank Rakyat Indonesia (BRI). Alasannya, bank tersebut memiliki akses yang lebih luas terhadap permodalan, khususnya lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Mereka juga punya aplikasi keuangan. Makanya pas DEA tahun lalu, kami dorong terus pengusaha-pengusaha itu pakai aplikasi itu. Ketimbang beli,” imbuhnya.

Terpisah Manajer Bisnis Mikro BRI Kantor Cabang Singaraja, Arthayana mengungkapkan, pihaknya selalu siap memperluas akses permodalan bagi pelaku UMKM. Apalagi selama masa pandemi banyak muncul UMKM-UMKM baru.

Selain itu BRI juga menyiapkan sejumlah platform digital yang dapat digunakan para pengusaha mikro. Sebut saja aplikasi stroberi kasir. Ada pula platform pasar.id untuk memasarkan produk-produk UMKM. “Semua platform-platform itu bisa mereka gunakan untuk mengelola bisnis mereka, maupun memasarkan produk. Kami selalu siap mendukung UMKM tumbuh dan berkembang,” demikian Arthayana. (eka prasetya/rid) Editor : M.Ridwan
#disiplin catat keuangan #pengusaha mikro #aplikasi stroberi kasir #bri