MANGUPURA,radarbali.id - Paus Sperma dengan bahasa latin Physeter Macrocephalus berjenis kelamin betina dengan panjang 10,66 meter, ditemukan mati dan membusuk. Mamalia laut yang acap disebut Monster Pantai Selatan ini terdampar di kawasan Pantai Double Six, Legian, pada Kamis (7/12).
Koordinator Program Lingkungan Laut Yayasan Bali Bersih Pande Ketut Cahya Krisnanta Ariok mengatakan, kondisi paus sudah membusuk atau istilah ilmiahnya adalah kode IV. Bau menyengat pun sangat terasa.
"Hingga saat ini, belum ada dugaan mengapa paus tersebut mati," ungkapkan oleh Koordinator Program Lingkungan Laut Yayasan Bali Bersih Pande Ketut Cahya Krisnanta Arioka sembari mengatakan, dugaan terdampar belum diketahui.
Agar tidak terus mengeluarkan aroma yang tidak sedap mencemari lingkungan sekitar, BKSDA langsung bertindak dengan melakukan upaya penguburan. Untuk saat ini, pihak Yayasan Bali Bersih masih melakukan pengumpulan data dengan mengambil sampel DNA.
Ini dilakukan karena tidak mungkin melakukan observasi untuk mengetahui penyebab kematian paus tersebut. "Kalau menduga dari hasil observasi termasuk dugaan spesies paus, tidak bisa. Harus ambil sampe DNA. Nanti akan dikaji dari DNA," ucapnya.
Kalau seandainya paus ini terdampar dalam kondisi masih hidup, masih bisa diketahui apa penyebabnya. Bisa dilihat dari luka sayatan dari predator atau sebagainya. Menurutnya, populasi paus sperma di perairan Bali cukup banyak.
Itu sebabnya cukup banyak kasus paus yang terdampar di perairan Pulau Dewata. Kalau dari pengalaman, paus yang terdampar dan mati itu disebablkan oleh gigitan predator, benturan, dan juga iklim. "Nanti hasil uji DNA yang dibawa ke Bionesia, akan terlihat hasilnya dalam satu bulan kedepan," tutupnya.
Editor : M.Ridwan