Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Geger Telur Diduga Palsu, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan: Bukan Palsu tapi Kualitas Sudah Rusak

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 19 Desember 2023 | 12:00 WIB
DIBANTAH: Tuduhan telur palsu di Denpasar ternyata tidak benar, hanya kualitasnya yang rusak alias tidak segar.
DIBANTAH: Tuduhan telur palsu di Denpasar ternyata tidak benar, hanya kualitasnya yang rusak alias tidak segar.
 
DENPASARradarbali.id Dugaan telur palsu yang dibeli di salah satu swalayan di Jalan Batanghari, Panjer, Denpasar dibantah oleh Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Denpasar, drh. Ni Made Suparmi.
 
Pihaknya melihat dari video dan  juga sudah mengek ke pasar swalayan tersebut. Kemungkinan telur itu sudah rusak karena kuning dan putih telur menyatu dan juga kemasan dengan kertas mika itu tidak ada tanggal produksi. Hanya tanggal kedaluwarsa. 
 
"Tidak ada telur palsu. Kalau palsu ada bahan lain ditambahkan  ada bahan lain itu namanya palsu. Dari video itu telur tidak layak lagi. Sudah rusak.  Itu sudah lama. Telur bagus pisah kuning dan telurnya. Kuning dan putih bercampur" ucap Perempuan yang akrab disapa Ami. 
 
Baca Juga: Menteri PPPA Bintang Puspayoga Sebut Kasus KDRT Harus Dilaporkan Sebagai Efek Jera
 
Pihaknya menurunkan tim ke pelaku usaha ritel  tempat membeli telur. Ternyata supplier telur  dari, Dalung. Ia juga berpesan kepada ritel  untuk mengambil produk  daging atau  olahan sebagainya dari perusahaan yang mengantongi Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
 
NKV sertifikat penjaminan mutu yang sudah diaudit oleh Dinas Pertanian Provinsi melalui Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. Karena suplier di Badung sehingga pihaknya sudah menghubungi Dinas Pertanian setempat untuk membina. Dinas Pertanian Kota Denpasar akan menyurati semua ritel hati-hati dalam menerima produk olahan  dari perusahaan  yang memiliki NKV karena ada dokter hewan sebagai penanggung jawab nya.
 
"NKV ada dokter hewan bertanggung jawab mengawasi produk yang dijual. Sudah diminta supplier telur, satu itu dari Dalung. Saya sudah menghubungi kabid disana untuk membina. Bukan wewenang kami membina di sana," jelasnya. 
 
Baca Juga: Puncak Libur Natal, Diprediksi Akhir Pekan, Begini Persiapan di Pelabuhan Gilimanuk
 
Setelah memiliki  NKV, pemilik ritel tetap mengecek barang-barang secara fisik barang diterima. Bisa saja barang yang lama. Kalau telur bisa dilihat dari cangkangnya.
 
"Karena bisa saja yang lama. Namanya telur agak susah. Cangkang masih fresh atau sudah kusam. Itu juga saat diterima. Pesan ke supplier, minta Tolong dibantu menjaga mutunya, kalau jelek sudah tidak diterima lagi," katanya. 
 
"Kemasannya tidak ada tanggal berapa diproduksi jadi tidak tahu step mulai kapan.  Telur suhu kamar bagus kualitas  paling lama 3 minggu, kalau di freezer paling lama 4 hingga 5 minggu," jelasnya. 
 
Baca Juga: Puncak Libur Natal, Diprediksi Akhir Pekan, Begini Persiapan di Pelabuhan Gilimanuk
 
 Antara pemilik toko dan supplier harus saling berkoordinasi.  Ami tegaskan lagi tidak ada yang palsu. Ia menambahkan  memalsukan telur iu diakui sangat ribet. Ami meyakini telur itu  mutu  menurun sehingga bentuknya seperti itu. "Saya akan surati ritel ada di Kota Denpasar.  Kalau ditambahkan seperti apa perlu pengujian. Di Balai Veteriner  juga, dianjurkan mengecek," katanya. 
 
Seperti diketahui salah seorang warga Kota Denpasar  mengeluhkan  telur ayam kampung yang dibeli beberapa hari lalu dari salah satu Swalayan ternama di Jalan Tukad Batanghari, Panjer, Denpasar Selatan, diduga palsu.***
Editor : M.Ridwan
#rusak #pemkot denpasar #telur palsu #mutu jelek