Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dua Staf Bea Cukai Bandara Ngurah Rai Sapaan Pangeran dan Nia Main Sita Barang dan Pasport dengan Ketus, Begini Kronologisnya

Andre Sulla • Kamis, 21 Desember 2023 | 03:36 WIB
Dua petugas custom Bea Cukai Ngurah Rai yang dilaporkan melakukan perbuiatan tak menyenangkan saat MRA dan rombongan baru landing.
Dua petugas custom Bea Cukai Ngurah Rai yang dilaporkan melakukan perbuiatan tak menyenangkan saat MRA dan rombongan baru landing.

MANGUPURA, radarbali.id - Kinerja staf custum Bea Cukai Bandara Ngurah Rai sapaan Pangeran dan Nia menjadi sorotan. Ada yang mengalami perbuatan tidak menyenangkan oleh dua oknum custum Bea Cukai, di terminal Kedatangan Internasional, Minggu 17 Desember 2023 sekitar pukul 22.00. Dua petugas ini telah diadukan ke Ombudsman Bali, Kepala Bea Cukai RI, dan Bali, juga Kepala Agkasa Pura Bali.


Permasalahan ini bermula ketika MRA bersama rombongan keluarga dari Kualalumpur menumpangi pesawat Batik Air, dan kembali ke Bali, Minggu 17 Desember 2023 sekitar pukul 21.00. Begitu usai scan barcode ECD Bea Cukai, petugas secara mendadak memanggil rombongan. Dari ratusan penumpang pesawat, hanya mereka saja yang dipanggil.

Lalu rombongan dan barang bawaan diarahkan ke X Rrai bagasi. Walaupun demikian, rombongan ini kooperatif. "Ya, saya beserta keluarga dan rombongan mengalami perbuatan tidak menyenangkan dari dua orang petugas  custum bea cukai yang bernama Pangeran dan Nia," ungkap. Setelah pengecekan X  Rai, tidak ada alram yang menunjukan bahwa ada barang mencurigakan.

Baca Juga: Pemuda 19 Tahun yang Terseret Ombak di Laut Itu Ditemukan Meninggal

Setelah itu, petugas kembali mengarahkan rombongan menuju konter. Di sana, pasport dan boarding pass disita. "Tidak sopan sama sekali. Mimik Pangeran dan Nia sinis bangat. Cara bicaranya tidak menunjukan selaku pelayan public," timpalnya di Denpasar, Rabu (20/12). Nia langsung mengambil tiga pasport, lalu di bawa masuk kedalam tanpa izin.

Setelah ditanyakan, di jawab dengan nada kasar bahwa mau di periksa. Karena tingkah laku para petugas layak berbicara dengan pelaku kejahatan, MRA melontarkan pernyataan, apa permasalahan sebenarnya sehingga di dilakukan pemeriksaan? Di jawab Pengeran, hanya menjalankan tugas," timpalnya mengutip pernyataan Pangeran.

Walaupun keberatan dengan tingkah laku para petugas, termasuk pasport diambil tanpa alasan, mereka sangat kooperatif saat diinterogasi Pangeran. Awalnya ditanya, di mana tinggal dan apa nama penginapan di Kualalumpur? Walaupun demikian, pertanyaan itu direspon secara sopan. Nama hotel di sebut, bahkan bukti confirmation number dan lain sebagainya diberitahukan secara jelas.

Baca Juga: Kualitas Cawapres Ditunggu di Momen Debat, Begini Persiapan Mereka

Pertanyaan berikut, berapa lama di sana? di jawab dia malam. Itu pun kata–kata kami di pelintir oleh oknum tersebut, 3 hari 2 malam dan kemudian rombongan merespon dengan pertanyaan, apa permasalahannya. Oknum itu dengan mimik wajah marah, dan menunjuk sikap tidak sopan santun kepada orang yang lebih tua. "Ya, etika dan etitude tidak di tunjukan sama sekali sebagai pelayan public," tipal MRA.

Selanjutnya, oknum tersebut terus ngotot. Dia meminta rombongan mengkonfirmasi ke pihak hotel tempat menginap di Kualalumpur. Bahkan, dia tetap dengan pendiriannya harus menunjukan pdf. Rombongan semakin tidak paham apa permasalahan, pun maksud dan tujuannya.
Sebab, bukti confirmation number hotel, reservasi jumlah kamar dan tempat tidur dari periode Desember 15 – 17 -2023  sudah di beberkan dari handphone

Walaupun demikian, Pangeran terus melontarkan pertanyaan. Kali ini dia persoalkan terkait ada keperluan apa ke Kualalumpur, apakah bekerja atau liburan,  dengan menunjukan mimik wajah terlihat sinis lagi. Rombongan menjawab, bahwa hadir undangan acara Uutah komunitas Harley. "Sampai segitunya. Kami tunjukan undangan, akan tetapi oknum tersebut tidak percaya. Di situ kami terpancing emosi namun kami terus bersabar," tambahnya.

Baca Juga: Dua Pria Timor Leste Diserang dan Ditebas 6 OTK Berbadan Kekar, Kaca Mobil Runtuh, Polisi Kejar 6 Orang

Dua petugas tersebut berbicara dengan salah satu dari rombongan dengan menyatakan, ada garis merah, tanpa menjelaskan apa dan di mana itu garis merah. Di sini kuat dugaan, keduanya seolah berusaha merekayasa dan mencari-cari kesalahan. Rombongan kembali bertanya, di mana garis merahnya di mana. Dan apa maksud dan tujuan petugas mengeluarkan bahasa tersebut. Lagi-lagi, dua oknum ini hanya mengaku menjalankan tugas.

Selain dua petugas ini, ada juga petugas lain yang bertanya dan pertanyaan ini sangat disayangkan. Petugas itu malah meminta bukti semacam helm atau atribut untuk membuktikan bahwa mereka sempat menghadiri acara motor Harley.

"Adakah aturan hukum harus membawa helm dari Bali, dan peralatan dari negara setempat. Anah bangat," kisahnya. Dijelaskan, hampir 1 jam pasport di tahan tanpa alasan yang jelas, lalu rombongan diperbolehkan pulang setelah boarding pass dikembalikan.

Baca Juga: JNE Raih Penghargaan Best Chief Marketing Officer Award 2023

Dikatakan, sebagai WNI, rombongan sangat taat aturan. Namun, berjam-jam di sana, para petugas ini sama sekali tidak bisa menjelaskan terkait apa permasalahan, lalu dilakukan pemeriksaan dan interogasi, serasa rombongan ini merupakan pelaku kejahatan. "Kalau memang menjalankan tugas, berlakukan kepada semuanya. Jangan tebang pilih. Kami hampir setiap bulan pergi keluar negeri, tidak ada hal seperti ini," warpnya.

Kalau memang barang bawaan dicurigai,  bicara dengan jelas. Karena itu, rombongan merasa diperlakukan dengan sangat tidak adil. "Kami sebagai pelaku pariwisata Bali (pemilik travel agent) merasa sangat dirugikan, nama baik, waktu, pembunuhan karakter, dan dipermalukan di depan umun," timpalnya.

Dengan adanya hal ini, rombongan merasa trauma. Walaupun demikian, mereka berharap agar komunikasi dan pelayanan public lebih di evaluasi terkait sember daya manusianya. Jangan ada unsur tebang pilih terhadap pelayanan publik. Baik kepada warna negara asing maupun Indonesia. Pangeran dan Nia diadukan kepada Ombudsman Bali, Kepala Bea Cukai RI, dan Bea Cukai Bali, juga Kepala Agkasa Pura Bali.

Baca Juga: PNM Lestarikan Kebudayaan Asli Bali, Bantu Renovasi Balai Banjar Adat dan Pura Puseh Adat

"Kami telah membuat permohonan pengaduan laporan ketidaknyamanan pelayanan public (complain) atas perilaku oknum custum Bea Cukai Bali, yakni Pangeran dan Nia, yang bertugas di Bandara International, Senin (18/20).

Terkait dengan ini, staf Humas Bea Cukai Ngurah Rai Achmad Nurfahmi (Noeref) merespons konfirmasi wartawan melalui pesan pribadi via WhatsApp (WA), dengan 4 kalimat. Namun pernyataannya itu bukan untuk di publikasikan alias off the record. "Info yang saya berikan off the record dan bukan untuk publikasi," kutip Radar Bali.

Sementara itu, pimpinan Noeref yakni Bowo Pramoedito selaku Humas Bea dan Cukai enggan berkomentar banyak terkait konfirmasi tersebut. "Sudah dihubungi bang Fahmi untuk konfirmasi," begitu pertanyaannya, merespons konfirmasi. Setelah di jawab sudah, namun bukan untuk di publikasi. "Kedepan ada berita lebih mantap, akan di share ke teman-teman," pungkas Bowo Pramoedito. ***

Editor : M.Ridwan
#bandara ngurah rai #bea cukai #custom