Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Longsor di Jatiluwih Tabanan Dinilai Menjadi Noda dalam Pelestarian Subak

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 19 Maret 2024 | 05:27 WIB
 
TATA KELOLA: Landscape subak Jatiluwih, kawasan yang longsor dan menewaskan 2 wisatawan asing
TATA KELOLA: Landscape subak Jatiluwih, kawasan yang longsor dan menewaskan 2 wisatawan asing
 
DENPASAR, radarbali.id  Musibah longsor yang menyebabkan  dua warga negara asing (WNA)  meninggal karena tertimbun longsor  saat menginap di Villa Yeh Baat, Banjar Dinas  Jatiluwih Kawan, Desa Jatiluwih, Penebel Tabanan menjadi catatan  untuk serius memperhatikan alam.
 
Menurut Dosen Pertanian Universitas Udayana, I Made Sarjana memperhatikan lokasi kejadian di atas pemukiman dekat-dekat hutan lindung sekitar Pura Luhur Pucak Petali.  Jadi, bukan terletak di areal subak warisan budaya dunia. ss
 
Sarjana secara pribadi prihatin dan berbela sungkawa terhadap musibah atau bencana alam tersebut. Diakuinya dengan kejadian itu,  secara konsep pelestarian subak itu menjadi sedikit "noda" karena pelestarian subak itu kan ekosistem bukan semata-mata kawasan sawah tetapi juga pelestarian hutan. 
 
Baca Juga: Usai Dicurhati Warga, Polres Klungkung Gencarkan Patroli Malam, Ternyata Ini Penyebabnya
 
"Sebagai kawasan tangkapan air dan juga mata airnya, Subak Jatiluwih ini kan  unik, sumber airnya tidak hanya satu tetapi beberapa mata air di kaki gunung Batukaru," terang Sarjana. 
 
Ia juga menyampaikan, jika terjadi longsor berarti memberi indikasi ada masalah dengan kawasan hutan lindung. Mungkin ada pohon yang ditebang sehingga terjadi longsor ketika curah hujan tinggi atau hujan lebat. Menurutnya, kalau terjadi longsor itu terjadi penebangan kayu berarti ekosistemnya rusak. 
 
"Itu harus diatasi dengan peningkatan kesadaran warga untuk menjaga kelestarian hutan dengan penanaman kembali, dan membuat aturan yang lebih tegas terhadap aktivitas penebangan pohon di lereng gunung itu," jelasnya. 
 
Baca Juga: Menikmati Pentas Barong dan Keris Guwang, yang Dikelola Desa Adat dan Memberdayakan Warga Desa Gianyar
 
Ketua Lab Subak dan Agrowisata Prodi Agribisnis  Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini menuturkan sejatinya warga Jatiluwih memiliki nilai-nilai kearifan lokal menjaga kelestarian hutan dengan membagi zona hutan yang di areal hutan lindung disebut mahavana yang artinya harus dijaga untuk keseimbangan ekosistem.
 
Dalam artian sumber daya air untuk air irigasi maupun  konsumsi rumah tangga maupun industri (Peternakan ayam maupun akomodasi pariwisata) tetap tersedia atau cukup.***
Editor : M.Ridwan
#Jatiluwih #wisatawan #tewas #longsor #subak