Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dumogi Amor ring Acintya, Dikabarkan Jadi Korban Penganiayaan Senior, Mahasiswa STIP Klungkung Ini Meninggal

Zulfika Rahman • Sabtu, 4 Mei 2024 | 19:20 WIB
DIPERIKSA JENAZAHNYA : Korban I Putu Satria Ananta Rustika saat menjalani pemeriksaan medis. Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) yang tewas usai dianiaya seniornya (3/5/2024).(Istimewa)
DIPERIKSA JENAZAHNYA : Korban I Putu Satria Ananta Rustika saat menjalani pemeriksaan medis. Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) yang tewas usai dianiaya seniornya (3/5/2024).(Istimewa)

Aksi kekerasan yang berujung kematian antara mahasiswa senior terhadap juniornya kembali terjadi. Kali ini nahas dialami oleh I Putu Satria Ananta Rustika, asal Gunaksa,Dawan,Klungkung.

KEJADIAN ini sungguh mengagetkan. Mahasiswa taruna yang tengah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) di Cilincing, Jakarta Utara itu tewas usai dianiaya seniornya bernama Tegar Rafi Sanjaya, 21, pada Jumat (3/5/2024). Korban sendiri merupakan mahasiswa asal Dusun Bandung, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan.

Informasi yang didapat, aksi penganiayaan itu terjadi saat korban mengajak empat temannya mengecek kelas untuk membubarkan jalan santai yang ada di lantai 3 STIP. Usai membubarkan itu, korban yang masih berusia 18 tahun tersebut langsung turun ke lantai dua. 


Saat itu, korban dan teman-temannya tersebut dipanggil oleh pelaku dan beberapa temannya. Selanjutnya, pelaku Tegar bertanya siapa yang menyuruh korban dan temannya tersebut memakai pakaian olahraga ke gedung pendidikan lantai tiga dah masuk ke kelas-kelas.


Selanjutnya, korban dan empat rekannya itu diajak ke kamar mandi. Kemudian pelaku meminta kelima orang termasuk korban berbaris. Urutan barisannya itu, pertama korban, kedua Angga, Dicky, Jeremy dan Reski.

Saat berbaris itu, pelaku langsung memukul korban sebanyak lima kali dengan posisi tangan mengepal ke arah ulu hati. Akibat pukulan itu, korban langsung terkapar tak sadarkan diri hingga meninggal dunia. Saat kondisi terkapar, empat rekan korban diminta pergi dan mengikuti kegiatan. 


Hingga saat ini, kasus tersebut tengah ditangani aparat kepolisian. Selanjutnya jenazah korban dibawa menuju RS Polri untuk dilakukan autopsi.

Sementara itu, Perbekel Desa Gunaksa, I Wayan Sadiarna membenarkan kejadian tersebut. Kata dia, usai mendengar kabar, pihak keluarga langsung berangkan menuju Jakarta. "Yang berangkat itu ibu, adiknya dan pamannya. Bapaknya tidak ikut karena sedang menjaga ortunya yang sakit struk," kata Sadiarna saat dihubungi melalui sambungan telepon.


Dia menambahkan, secara pribadi mengenal korban. "Saya tahu anak ini, karena sebelum berangkat juga sempat ketemu," pungkasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#radar bali