SINGARAJA, Radar Bali.id - Seorang pekak (kakek) usia 79 tahun, yakni Nyoman Santra, 79, asal Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng, ditemukan dalam kondisi tanpa nyawa.
Pekak Santra telah dilaporkan hilang dari rumahnya selama 2 hari terakhir. Belakangan dia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Minggu (19/5/2024).
Jenazah Santra ditemukan di sebuah sungai yang terletak di perbatasan antara Desa Petandakan dengan Desa Nagasepaha.
Nyoman Santra merupakan warga Banjar Dinas Kawan,Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng.
Santra sempat pamit kepada keluarganya pada Kamis (16/5/2024) lalu. Namun hingga malam, Santra tak kunjung kembali ke rumah.
Pihak keluarga bersama warga setempat sebenarnya sempat berusaha melakukan pencarian, namun hasilnya nihil.
Menurut pihak keluarga, mereka bukan hanya melakukan pencarian secara manual. Keluarga juga sempat minta petunjuk pada paranormal hingga melakukan pencarian menggunakan baleganjur.
"Kami sempat memakai paranormal atau balian. Dari situ kami memperoleh petunjuk, jika hari ini lewat pukul 12.00 Wita, korban akan ditemukan. Kami bersama warga desa juga sempat mencari dengan menggunakan baleganjur sesuai kepercayaan kita," kata Komang Mangku Yasa, putra dari Nyoman Santra.
Lebih lanjut Mangku Yasa mengatakan, jenazah Santra ditemukan pada pukul 12.15 siang.
Pihak keluarga menduga, Santra tewas usai memangkas pohon pepaya. Apalagi di sekitar lokasi tewasnya korban, ditemukan patahan pohon pepaya.
"Kami menduga, bapak jatuh saat hendak memanjat pohon, batang pohon sudah lapuk, sehingga begitu jatuh langsung ke jurang," ungkapnya.
Tim Basarnas dari Pos SAR Buleleng dikerahkan untuk mengevakuasi jenazah korban.
Sebanyak 10 orang personel dari Pos SAR Buleleng diterjunkan ke lokasi untuk mengevakuasi jenazah korban.
Kondisi medan yang cukup terjal ditambah jurang yang curam, menyulitkan tim SAR melakukan evakuasi.
Walhasil, jenazah baru bisa diangkat sekitar pukul 16.14 Wita. Pihak keluarga kemudian langsung membawa jenazah korban ke setra Desa Adat Petandakan untuk upacara mekingsan ring geni. [*]
Editor : Hari Puspita