Dari keterangan paman mendiang IKS,23, dan adiknya, IPYSD,6, yang bunuh diri juga mengaku ada masalah ekonomi yang menghimpit mereka. Dalam kondisi serba sulit, mereka merindukan kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
SAAT dihubungi terpisah, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Badung Ipda I Putu Sukarma Prakarsa membenarkan.
Dikatakan, hasil penyelidikan, kakak beradik itu diketahui berasal dari banjar Dinas Rendetin, Bontihing, Kubutambahan, Buleleng. Dengan adanya pihak kepolisian telah mintai keterangan dua orang saksi.
Saksi itu di antaranya I Made Wirawan, 29, warga Banjar Dinas Umaseka, Kelurahan Amtosari, Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan.
I Made Wirawan memberi informasi ke pihak Polsek Petang bahwa ada satu orang laki-laki bersama dengan anak kecil diam di samping jembatan. Selang beberapa menit, dua orang ini sudah tidak berada lagi.
Sehingga kuat dugaan kakak beradik ini telah melakukan bunuh diri dengan cara melompat dan terjun ke sungai. Setelah menerima informasi, anggota Polsek Petang mengarah ke lokasi yang bertempat di jembatan Bangkung, Pelaga, Badung.
Sesampai di jembatan, anggota menemukan satu buah sepeda motor Supra tanpa adanya pengendara, setelah di cek di dalam jok terdapat 1 buah KTP, 1 Hp, 1 buah SIM C, 1 buah STNK, dan sepasang sandal. Selanjutnya, personel dan beberapa warga berinisiatif menyusuri dengan berjalan kaki.
Mengingat areal terjal yang tidak bisa di akses menggunakan kendaraan, sehingga sedikit membuat waktu. Setelah sesampainya di kedalaman mencapai puluhan meter, terlihat ada sebatang pohon yang patah merasa curiga.
Personel mengecek tempat tersebut dan di temukan satu orang dewasa dan satu orang masih anak-anak dalam keadaan meninggal dunia.
"Posisi keduanya tengkurap di pinggir sungai dan tidak begitu berjauhan. Temuan ini diberitahukan ke pihak terkait. Dan dilakukan evakuasi bersama tim gabungan. Naik, Kepolisian, BPBD, serta masyarakat untuk dibawa ke Puskesmas Petang II menggunakan kendaraan ambulans milik Puskesmas.
Hasil pemeriksaan awal bibir kedua korban mengeluarkan darah dan patah tulang tangan. Karena itu, dugaan sementara korban meninggal dunia karena benturan keras di Kepala. Polisi koordinasi dengan keluarga, bahkan I Made Sumagata, 54, selaku Pakman dari kedua anak ini mendatangi Puskesmas Petang II.
Yang bersangkutan mengatakan, bahwa keluarga menerima atas kejadian tersebut. Ia menyampaikan tidak ada permasalahan keluarga serta pihak keluarga membuat surat pernyataan.
Selanjutnya untuk dilakukan otopsi kedua korban dibawa ke Rumah Sakit Prof Ngoreh Denpasar.
"Paman korban juga menjelaskan bahwa korban berstatus yatim piatu. Dan mereka selalu merindukan kedua orang tuanya. Diduga karena masalah ekonomi, keduanya depresi," tutupnya, sama seperti cerita sumber polisi sebelumnya. [2]
Editor : Hari Puspita