DENPASAR, Radar Bali.id- Pernyataan kontroversial Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang menyebut tidak bukti rudapaksa massal kerusuhan Mei 1998, jadi sorotan. Seperti diketahui, Fadli Zon menyebutkan itu sebagai rumor belaka saat wawancara dengan salah satu media, yang tayang 11 Juni 2025 lalu. Bahkan, membantah, menolak, hasil kerja temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).
Tak hanya itu, Fadli Zon juga membawa-bawa agama tertentu dalam masalah kebejatan moral sekelompok gerombolan di zaman Gerakan Reformasi 1998 itu. Dan, sikapnya ini semakin menjadi sorotan luas di media sosial.
Dicegat sejumlah wartawan usai acara pawai PKB ke-47 di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Jalan Raya Puputan, Denpasar, hari Sabtu (21/6/2025) sore, Fadli, pria kelahiran 1 Juni 1971 silam, di Jakarta ini memilih pergi saat ditanya tanggapan soal kecaman dari sikapnya terkait pemerkosaan massal 1998 adalah rumor belaka. Dia menyebut bukan fakta.
Orang kepercayaan Prabowo Subianto sejak lama itu langsung pergi menuju mobilnya. “Nanti ya,” sergahnya, sembari ngacir, meninggalkan kerumunan awak media.
Bahkan, ketika masuk mobil Fadli Zon enggan membuka jendela mobilnya. Meski, sempat dibuka karena Gubernur Bali Wayan Koster datang, tapi langsung ditutup dan melemparkan senyum ke awak media yang mendatanginya.
Sementara itu, ditemui usai pembukaan PKB ke-47 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Sabtu (21/6/2025) malam juga sama. Fadli Zon enggan menanggapi pertanyaan awak media.
Ia minta fokus pertanyaan soal Pesta Kesenian Bali (PKB). Selain itu, saat ditanyai progres penulisan ulang sejarah yang digagasnya, Fadli Zon enggan menjawab.Alasannya, ingin fokus untuk acara PKB.
”Nanti saja (soal polemik proyek penulisan ulang sejarah nasional Indonesia) ya di Jakarta. Ini kita (fokus ke acara) PKB dulu,” sergahnya, sembari jalan menuju mobil.
Seperti diketahui, mantan Wakil Ketua DPR RI dikecam berbagai pihak, teruama para aktivis dan para penyintas korban kekerasan seksual gerombolan biadab saat kemelut Reformasi 1998.
Seperti dari kalangan aktivis 1998 dari lintas organisasi, menyesalkan pernyataan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon yang dinilai mengaburkan fakta peristiwa rudapaksa massal pada Mei 1998. Padahal, almarhum Presiden BJ Habibie, dulu menyatakan kecaman keras atas kejadian itu dan menyatakan permintaan maaf pemerintah atas tragedi moral yang mempermalukan Bangsa Indonesia itu.
Para aktivis yang tergabung dalam Pena 98, Barikade 98, Gerak 98, dan KA KBUI 98 minta Fadli Zon meminta maaf secara terbuka. Karena kejadian kekerasan kebejatan moral itu dulu Presiden RI ke-3 Indonesia, BJ Habibie, atas nama pemerintah juga telah menyampaikan maaf dan penyesalannya. [*]
Editor : Hari Puspita