DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Meski rusak tak parah, baru dirasakan dampak pentingnya infrastruktur jalan. Akibat jalan di depan pasar Bajera, Tabanan ambles ditutup untuk truk besar karena sedang dilakukan perbaikan membuat jalan utama Denpasar-Gilimanuk lumpuh.
Nasib pengusaha yang gunakan truk menjerit karena biaya operasional membengkak. Itu disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Provinsi Bali, I Ketut Anom Putra Darsana kemarin (11/7/2025). Tidak hanya dibayangi pembengkakan biaya operasional, tapi denda demurrage.
Anom ungkapkan telah rapat dengan pengurus pusat melalui zoom meeting . Hadir DPD Jawa Timur, dan DPD Bali diwakili oleh Ketut Anom. Dalam pembahasan di sana, terungkap pengusaha banyak terjadi cancel karena tidak bisa lewat. Ketut Anom memperkirakan pengusaha truk alami kerugian ratusan miliar.
"Jadi mungkin itu (ratusan miliar) kalkulasinya secara global mungkin ya, baru istilahnya kalkulasi global, tafsiran saja,” ungkap Anom kemarin.
Sementara itu, kendaraan besar dialihkan dengan jalan alternatif, serta kendaraan sumbu tiga dilarang lewat sementara, saat perbaikan jalan.
Hasil rapat dengan Dinas Perhubungan Bali, kendaraan berat kini dialihkan melalui dua jalur alternatif, yakni Singaraja, Bedugul dan Karangasem. Sedangkan jalan di Bedugul tak disarankan untuk truk dengan sumbu tiga karena tidak sesuai dengan kondisi jalan.
“Sesuai arahan dari Bapak Kadishub, kemarin sudah ada rapat dan hasil rapat juga sudah di-share. Tapi untuk belakangan kita malah tidak disarankan untuk sumbu tiga ke atas, disarankan untuk berhenti dan masuk kantong-kantong parkir. Kemudian ada yang memang urgent ya memang harus dilansir," beber Anom.
Maka pengusaha yang gunakan truk harus kerja ekstra. Terutama sumbu tiga diwajibkan lakukan langsir, yakni barang dipindahkan ke truk lebih kecil supaya bisa. Melintasi jalan ke Denpasar, Tabanan atau Gianyar.
Dengan jalur dialihkan ini lebih jauh sehingga akan ada lonjakan biaya operasional.
"Kalau dari BBM untuk truk tertentu harus hidup ya, itu juga perlu biaya tinggi. Kemudian kalau untuk yang berjalan seperti yang saya jelaskan tadi ada ngelansir. Itu diangkut ulang lagi ke sentra-sentranya, otomatis itu juga menimbulkan biaya logistik yang tinggi, nambah biaya lagi,” keluhnya.
Baca Juga: Jalan Ambles di Bajera, Truk Tronton Dilarang Masuk Bali
Anom keluhkan juga kondisi jalan di Singaraja yang curam dan ekstrem. Dengan dialihkan ke Singaraja ada tambahan jarak 145 km.
Untuk truk besar, tronton, zumbo 3 itu harus lewat ke Karangasem, tambahan jarakan 260-an kilometer.
"Nambah dari rute awal, jadi pembengkakan biaya juga, jadi itu yang harus ditanggung oleh pengusaha truk,” imbuhnya.
Hingga saat ini Aptrindo Bali belum membuat laporan kerugian secara resmi. Ratusan miliar yang dia sebut baru sebatas kemungkinan.
Pihaknya baru melakukan perkiraan kerugian secara global."Jujur kita juga akan tahu ini force major ya. Yang sudah kita lihat memang sudah kita apresiasi,” terangnya.
Anom menuturkan, pihaknya terus lakukan komunikasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Bali, termasuk dengan Bidang Angkutan Jalan. Pihaknya memahami kondisi darurat sebagai bencana alam."Sudah kami sampaikan juga ke anggota bahwa kondisinya memang seperti ini, apalagi untuk teman-teman yang di luar Bali, agar teman-teman juga paham dengan kondisi ini,” tutur Anom.
Di lain sisi, ada usulan untuk membuka jalur penyeberangan alternatif, seperti Banyuwangi–Padangbai atau Banyuwangi–Benoa. Supaya Bali memiliki alternatif, tidak ada ketergantungan salah satu jalur.
“Kemarin memang ada masukan dari teman-teman juga yang di Jatim, Kita sudah sampaikan juga masukan itu ke Dinas Perhubungan, cuman dari Dinas Perhubungan kan tidak segampang itu juga," katanya.
Pengusaha truk berharap perbaikan selesai lebih cepat dari estimasi satu bulan. Selain itu, pemerintah diharapkan mempertimbangkan sistem buka-tutup jalur supaya truk besar yang kini tertahan di Bali bisa segera keluar. Dengan begitu aktivitas ekonomi dan arus lalu lintas bisa lancar.
“Harapan kami dari Aptrindo, semoga ini bisa seperti yang tadi ya, estimasi satu bulan itu semoga nggak molor, bisa dipercepat,"tandasnya.***
Editor : M.Ridwan