Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Waduh! Pengusaha Truk Perkirakan Rugi Ratusan Miliar karena Kerusakan Jalan di Bajera Tabanan, Begini Harapannya

Ni Kadek Novi Febriani • Sabtu, 12 Juli 2025 | 05:27 WIB
RUSAK LAMA: Jalan jebol depan pasar Bajera Tabanan yang ternyata sudah diketahui lama
RUSAK LAMA: Jalan jebol depan pasar Bajera Tabanan yang ternyata sudah diketahui lama

DENPASARradarbali.jawapos.com – Meski rusak tak parah, baru dirasakan dampak pentingnya infrastruktur jalan. Akibat jalan di depan pasar Bajera, Tabanan ambles ditutup untuk truk besar karena  sedang dilakukan perbaikan membuat jalan utama Denpasar-Gilimanuk lumpuh.

Nasib pengusaha yang gunakan  truk menjerit karena biaya operasional membengkak. Itu disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Provinsi Bali, I Ketut Anom Putra Darsana kemarin (11/7/2025). Tidak hanya dibayangi  pembengkakan biaya operasional, tapi denda demurrage.

Anom ungkapkan  telah  rapat dengan pengurus pusat melalui   zoom meeting . Hadir   DPD Jawa Timur, dan DPD Bali  diwakili oleh Ketut Anom.  Dalam pembahasan di sana,   terungkap pengusaha  banyak terjadi cancel karena  tidak bisa lewat. Ketut Anom memperkirakan pengusaha truk alami  kerugian ratusan miliar.

"Jadi mungkin itu (ratusan miliar) kalkulasinya secara global mungkin ya, baru istilahnya kalkulasi global, tafsiran saja,” ungkap Anom kemarin.  

Sementara itu, kendaraan besar dialihkan  dengan jalan alternatif, serta kendaraan sumbu tiga dilarang lewat sementara, saat perbaikan jalan.

Hasil rapat dengan Dinas Perhubungan Bali, kendaraan  berat kini dialihkan melalui dua jalur alternatif, yakni Singaraja,  Bedugul dan Karangasem. Sedangkan jalan di  Bedugul tak disarankan untuk truk dengan sumbu tiga karena tidak sesuai dengan kondisi jalan. 

“Sesuai arahan dari Bapak Kadishub, kemarin sudah ada rapat dan hasil rapat juga sudah di-share. Tapi untuk belakangan kita malah tidak disarankan untuk sumbu tiga ke atas, disarankan untuk berhenti dan masuk kantong-kantong parkir. Kemudian ada yang memang urgent ya memang harus dilansir," beber Anom.

 Maka pengusaha yang gunakan truk harus kerja ekstra. Terutama sumbu tiga diwajibkan lakukan langsir, yakni barang  dipindahkan ke truk lebih  kecil supaya bisa. Melintasi jalan ke Denpasar, Tabanan atau Gianyar. 

Dengan jalur dialihkan ini lebih jauh sehingga akan ada lonjakan  biaya  operasional.

"Kalau dari BBM untuk truk tertentu harus hidup ya, itu juga perlu biaya tinggi. Kemudian kalau untuk yang berjalan seperti yang saya jelaskan tadi ada ngelansir. Itu diangkut ulang lagi ke sentra-sentranya, otomatis itu juga menimbulkan biaya logistik yang tinggi, nambah biaya lagi,” keluhnya. 

 Baca Juga: Jalan Ambles di Bajera, Truk Tronton Dilarang Masuk Bali

Anom keluhkan juga kondisi jalan di Singaraja yang curam dan ekstrem. Dengan dialihkan ke Singaraja ada tambahan jarak   145 km.

Untuk truk besar, tronton, zumbo 3 itu harus lewat ke Karangasem, tambahan jarakan 260-an kilometer.

"Nambah dari rute awal, jadi pembengkakan biaya juga, jadi itu yang harus ditanggung oleh pengusaha truk,” imbuhnya.

Hingga saat ini Aptrindo Bali belum membuat laporan kerugian secara resmi. Ratusan miliar yang dia sebut baru sebatas kemungkinan. 

Pihaknya baru melakukan perkiraan kerugian secara global."Jujur kita juga akan tahu ini force major ya. Yang sudah kita lihat memang sudah kita apresiasi,” terangnya.

 Baca Juga: Terus Mengalir! Dr Nyoman Diana Kembali Dapat Dukungan Kader sebagai Calon Alternatif Pimpin Golkar Bali

Anom menuturkan, pihaknya terus lakukan komunikasi  dengan Dinas Perhubungan Provinsi Bali, termasuk dengan Bidang Angkutan Jalan. Pihaknya memahami   kondisi darurat  sebagai bencana alam."Sudah kami sampaikan juga ke anggota bahwa kondisinya memang seperti ini, apalagi untuk teman-teman yang di luar Bali,  agar teman-teman juga paham dengan kondisi ini,” tutur Anom.

Di lain sisi, ada usulan  untuk membuka jalur penyeberangan alternatif, seperti Banyuwangi–Padangbai atau Banyuwangi–Benoa. Supaya Bali memiliki alternatif,   tidak ada ketergantungan salah satu jalur. 

“Kemarin memang ada masukan dari teman-teman juga yang di Jatim, Kita sudah sampaikan juga masukan itu ke Dinas Perhubungan, cuman dari Dinas Perhubungan kan tidak segampang itu juga," katanya. 

Pengusaha truk berharap perbaikan  selesai lebih cepat dari estimasi satu bulan. Selain itu,  pemerintah diharapkan  mempertimbangkan sistem buka-tutup jalur supaya truk besar yang kini tertahan di Bali bisa segera keluar. Dengan begitu aktivitas ekonomi dan arus lalu lintas bisa lancar. 

“Harapan kami dari Aptrindo, semoga ini bisa seperti yang tadi ya, estimasi satu bulan itu semoga nggak molor, bisa dipercepat,"tandasnya.***

Editor : M.Ridwan
#lalul lintas #tabanan #Pasar Bajera #Jalan Gilimanuk - Denpasar #Jalan jebol