Pati mempunyai riwayat panjang perlawanan terhadap penguasa yang sewenang-wenang. Termasuk perlawanan di era Sultan Agung dari Mataram tahun 1600-an silam.
CERITA legenda yang melekat di hati rakyat Pati dan Pantura Jawa itu berlatar kerajaan Mataram Islam. Penguasanya adalah Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, yang hidup sekitar tahun 1593 –1645.
Sultan Agung ini adalah sultan Mataram ketiga yang berkuasa dari tahun 1613 hingga kematiannya pada tahun 1645.
Di era itu di Kadipaten Pati, di bawah Kesultanan Mataram, kisah Roro Mendut dan Tumenggung Wiroguno dimulai.
Ini Adalah cerita rakyat klasik dari Jawa yang terkenal, terutama di daerah Pati, Kudus, Jepara, Rembang, Blora,Gerobogan, Demak, Semarang dan sekitarnya.
Cerita Roro Mendut ini juga sudah pernah difilmkan tahun 1982 silam. Bintang utamanya Meriam Belina dan Mathias Muchus.
Cerita ini menggambarkan perjuangan seorang perempuan yang menolak untuk tunduk pada kekuasaan dan memperjuangkan harga diri serta cintanya. Juga melawan pajak penjualan produk rokok linting tangan produksi Kadipaten Pati, yang dikenakan pajak oleh pemerintah kerajaan Mataram yang mencekik.
Roro Mendut adalah seorang putri pesisir yang terkenal akan kecantikannya. Ia berasal dari Kadipaten Pati yang saat itu dipimpin oleh Adipati Pragola II. Putra dari Adipati Pragola.
Ceritanya, suatu ketika saat Mataram di bawah kekuasaan Sultan Agung menaklukkan Pati, Roro Mendut secara otomatis menjadi harta rampasan perang. Sultan Agung kemudian memberikan Roro Mendut kepada panglima perangnya, yaitu Tumenggung Wiroguno.
Tumenggung Wiroguno, seorang panglima yang gagah berani dan setia kepada Mataram, jatuh cinta pada kecantikan Roro Mendut dan ingin menjadikannya istri.
Namun, Roro Mendut dengan tegas menolak pinangan tersebut. Penolakan ini dianggap sebagai penghinaan besar bagi Tumenggung Wiroguno dan Mataram, mengingat Roro Mendut hanyalah "harta rampasan perang" yang seharusnya tunduk.
Karena penolakan tersebut, Tumenggung Wiroguno memberikan hukuman kepada Roro Mendut. Ia dipaksa untuk membayar pajak kerajaan setiap harinya, sebuah syarat yang sangat memberatkan bagi seorang tawanan.
Namun, Roro Mendut tidak menyerah. Ia menggunakan kecerdikannya untuk melawan kebijakan tersebut.
Roro Mendut memanfaatkan kecantikannya dengan cara yang tak terduga. Ia melinting rokok dan menjualnya di pasar. Rokok yang dijualnya bukanlah rokok biasa, melainkan rokok yang telah ia isap terlebih dahulu. Karena kecantikan dan pesonanya, rokok tersebut laku keras dan harganya melambung tinggi.
Dengan cara inilah, Roro Mendut mampu membayar pajak yang diwajibkan oleh Tumenggung Wiroguno. Tindakan ini merupakan perlawanan halus namun sangat menusuk harga diri sang panglima.
Di pasar, saat Roro Mendut berjualan rokok, ia bertemu dengan Pronocitro, seorang pemuda yang juga jatuh cinta padanya. Cinta mereka bersemi di tengah-tengah tekanan dari Tumenggung Wiroguno. Pronocitro bahkan menyamar menjadi pelayan di istana Wiroguno untuk bisa dekat dengan Roro Mendut.
Hubungan mereka akhirnya tercium oleh Tumenggung Wiroguno, yang merasa sangat murka dan cemburu. Wiroguno memerintahkan pasukannya untuk menangkap Pronocitro. Roro Mendut dan Pronocitro kemudian mencoba melarikan diri, tetapi usaha mereka gagal.
Pada akhirnya, Pronocitro berhasil ditangkap dan dibunuh oleh Tumenggung Wiroguno. Roro Mendut yang menyaksikan kematian kekasihnya merasa hancur. Dalam puncak kemarahan dan keputusasaan, Roro Mendut merebut keris dari tangan Tumenggung Wiroguno dan menikam dirinya sendiri, memilih untuk mati bersama dengan kekasihnya daripada tunduk pada kekuasaan yang kejam.
Makna Kisah Roro Mendut
Kisah Roro Mendut tidak hanya sekadar cerita cinta tragis, tetapi juga mengandung makna yang lebih dalam. Kisah ini menjadi simbol dari Perlawanan terhadap Kekuasaan Roro Mendut menunjukkan bahwa harga diri tidak bisa dibeli atau dipaksa. Ia berani melawan kekuasaan Mataram yang dominan dan menolak dijadikan objek kekuasaan.
Roro Mendut menggunakan kecerdasannya untuk bertahan hidup dan melawan ketidakadilan. Ia tidak pasrah dengan nasibnya dan berani mencari cara sendiri untuk mengatasi masalah.
Kisah cinta Roro Mendut dan Pronocitro menjadi abadi sebagai simbol cinta sejati yang rela berkorban, bahkan hingga mati, demi mempertahankan kesucian dan kebebasan. [disarikan dari berbahai sumber]
Editor : Hari Puspita