Tokoh dari Pati bukan hanya Roro Mendut di era Mataram Islam. Kadipaten Pati meskipun bukan kerajaan besar yang dominan di pulau Jawa. Wilayah pantai utara Jawa yang satu ini punya segudang tokoh pemberontak yang berakar dari rakyat yang punya nyali dan spirit tinggi melawan penguasa zalim di berbagai era.
WARGA Pati bisa jadi sebagian punya molekul genetik atau Deoxyribonucleic Acid (DNA) dan catatan sejarah dari para pemberontak. Bukan hanya cerita tentang Roro Mendut.
Ada tokoh-tokoh lain, macam Saridin dari Landoh, juga ada Baron Sekeber. Ada lagi Kyai Ahmad Mutamakkin atau Syekh Mutamakkin dari Kajen, Margoyoso, sufi penganut ajaran wahdatul wujud yang juga dikenal juga sebagai ahli mendalang kisah Dewa Ruci, yang jadi medium dakwah tasawuf pada eranya.
Cerita tentang Baron Sekeber oleh Sebagian kalangan selain diyakini sebagai folklore, cerita rakyat, legenda, juga diyakini sebagai cerita fakta sejarah. Karena ada peninggalannya.
Sekeber disebut-sebut merupakan pria keturunan Spanyol yang berpetualang menjelajah dunia untuk mencari rempah-rempah. Kapalnya pecah di laut Jawa sehingga ia terpaksa berenang menuju pantai di kawasan pesisir Pulau Blenderan (Benteng Portugis, Desa Banyumanis, Donorojo, Jepara, sekarang).
Sekeber sampai di wilayah Pati dengan keadaan compang-camping,kapalnya rusak, dan berkomunikasi dengan penduduk setempat menggunakan bahasa isyarat. Karena penduduk masih menaruh curiga kepadanya, ia memilih tinggal di hutan, meskipun sering turun ke pemukiman penduduk.
Singkat cerita, Baron Sekeber dapat bertemu dengan Panembahan Senapati dengan mudah. Mereka segera bertarung satu lawan satu, dan kemenangan diraih Panembahan Senapati, penguasa Mataram Islam.
Kalau merujuk pada fakta sejarah, era Panembahan Senapati adalah raja atau sultan yang memerintah Kesultanan Mataram Islam pada tahun 1587 hingga 1601 Masehi, yang juga pendiri sekaligus raja pertama Mataram
Baron Sekeber melarikan diri menuju Gunung Muria, sebuah gunung yang sekarang berada di wilayah kabupaten Pati, Jepara, Kudus, kemudian tinggal menyendiri di Bukit Patiayam, Pati, di dalam sumur dekat mulut gua. Patiayam kalau dirujuk wilayah sekarang berada di daerah jekulo, perbatasan antara Kudus dan Pati.
Dari tempat dia mencari ketenangan hidup, Baron Sekeber dapat melihat keindahan kadipaten Pati. Sekeber menuju Desa Kemiri dan bertemu seorang gadis bernama Rara Suli, putri seorang janda di desa Kemiri.
Baron Sekeber menginap di rumah janda tersebut hingga akhirnya Rara Suli melahirkan putra kembar bernama Danurwenda dan Sirwenda.
Inti cerita kisahnya adalah Baron Sekeber meskipun orang asing dia benar-benar mencintai Rara Suli dan mempertahankan cinta dan rumah tangganya itu, meskipun dia harus berhadapan dengan penguasa Kadipaten Pati, saat itu, yakni Adipati Pragola.
Di pengujung cerita, mereka akhirnya harus kalah dalam melawan Adipati Pragola dan pasukannya, namun Sekeber maupun Rara Suli tetap berjuang sampai titik darah penghabisan dengan didukung oleh warga Masyarakat Pati, yang bersimpati terhadap ketulusan cinta di antara mereka.
Kisah Saridin Sufi nan Sederhana dari Landoh, Pati
Kisah dari Pati lainnya yang legendaris adalah cerita sosok Saridin, atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Jangkung, adalah salah satu cerita rakyat dan tokoh ulama yang sangat terkenal di daerah Pati, Jawa Tengah.
Kisahnya sering kali disamakan atau dianggap kelanjutan dari kisah Syekh Abdul Jalil alias Syekh Siti Jenar karena ajarannya yang dinilai kontroversial pada zamannya.
Saridin adalah anak dari Kyai Gede Landoh dan Nyai Gede Landoh (Nyai Gede Landoh disebut-sebut masih keturunan Sunan Kalijaga). Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakat yang luar biasa dalam mempelajari ilmu agama. Ia dikenal memiliki kecerdasan dan pemahaman yang mendalam, terutama tentang hakikat ketuhanan.
Namun, cara Saridin menyampaikan dan memahami ajaran Islam sering kali dianggap menyimpang dari syariat oleh para ulama lain. Ia dikenal sering kali melakukan hal-hal yang tidak lazim, bahkan terkesan “gila” di mata orang awam.
Dianggap Sesat dan Dikucilkan
Karena ajarannya yang kontroversial, Saridin dituduh menyebarkan ajaran manunggaling kawula lan Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhan) alias wahdatul wujud dan dianggap sesat.
Berita ini sampai ke telinga para ulama di Keraton Demak, khususnya Sunan Kudus. Akhirnya, Saridin dipanggil untuk diadili di Demak.
Dalam pengadilan, Saridin diminta untuk membuktikan kebenaran ajarannya. Namun, alih-alih berdebat, ia justru menunjukkan beberapa karomah (kekuatan Istimewa dari Tuhan) yang membuat para ulama terheran-heran.
Salah satu cerita yang paling terkenal adalah ketika ia diminta untuk melakukan salat, tetapi ia justru mengamuk dan merusak masjid, seolah-olah ia berinteraksi langsung dengan Tuhannya.
Meskipun perilaku Saridin tampak tidak lazim, ia berhasil membuktikan bahwa yang ia lakukan adalah bagian dari makrifat (pengetahuan tertinggi tentang Tuhan) yang ia miliki.
Karomah dan Penamaan Syekh Jangkung
Saridin memiliki banyak karomah yang sangat terkenal. Salah satu kisahnya adalah ketika ia diminta untuk mengambil buah kelapa di seberang sungai.
Saridin dengan santai berjalan di atas sebatang pohon pisang yang ia letakkan di atas air, seolah-olah berjalan di atas jembatan. Karena itulah ia mendapatkan julukan Syekh Jangkung, yang dalam bahasa Jawa artinya "Syekh yang berjalan -jalandi atas (jangkung) air".
Karomah lainnya adalah kemampuannya untuk berinteraksi dengan hewan dan alam. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Saridin adalah sosok waliyullah atau kekasih Allah, yang memiliki pemahaman mendalam tentang alam semesta.
Warisan Saridin
Meskipun sempat dianggap sesat, pada akhirnya Saridin diterima sebagai ulama besar yang memiliki pemahaman hakikat yang luar biasa. Ia melanjutkan dakwahnya dan mendirikan padepokan di Landoh.
Hingga kini, makam Syekh Jangkung di Landoh, Kecamatan Kayen, Pati, menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Kisahnya menjadi pelajaran tentang pentingnya memahami ajaran agama secara mendalam, tidak hanya dari sisi syariat, tetapi juga dari sisi hakikat.
Kisah Saridin juga mengajarkan bahwa kebenaran terkadang tidak selalu terlihat secara kasat mata dan bisa hadir dalam bentuk di luar jangkauan nalar normal manusia.
Kyai Mutamakkin juga Dicap Pembangkang oleh Penguasa Mataram
Sosok Kyai Mutamakkin Cebolek adalah salah satu cerita ulama besar yang sangat terkenal di Jawa, khususnya di daerah Pati. Kisahnya tidak hanya diceritakan secara lisan, tetapi juga tercatat dalam naskah kuno yang sangat terkenal, yaitu Serat Cebolek.
Kyai Mutamakkin (nama aslinya Syaikh Ahmad al-Mutamakkin) adalah seorang ulama sufi yang hidup di abad ke-17. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat mumpuni bidang ilmu tasawuf.
Era ini menurut tahun Masehi, Kyai Mutamakkin hidup di era Paku Buwana II. Paku Buwana II hidup pada abad ke-18, tepatnya pada pertengahan abad ke-18.
Bila dicocokkan dengan catatan Sejarah, era Paku Buwana II memerintah antara tahun 1726 hingga 1749 sebagai raja terakhir Kasunanan Kartasura dan raja pertama Kasunanan Surakarta (pecahan dari Kerajaan Mataram Islam, di Jogjakarta).
Sosok Kyai Mutamakkin adalah keturunan bangsawan dari Kerajaan Pajang dan memiliki hubungan darah atau keturunan dengan Raden Benawa atau Pangeran Benawa, putra dari Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, putra dari Ki Ageng Pengging II, atau Ki Ageng Pengging Anom, keturunan dari Handayaningrat.
Setelah menuntut ilmu di berbagai tempat, termasuk pergi haji dan belajar ke Persia hingga ke Yaman, di jazirah Arab, ia kembali ke tanah Jawa. Saat kembali, ia dikisahkan terdampar di sebuah pantai di Cebolek, yang kini menjadi Desa Bulumanis, Pati.
Di sana, ia melihat cahaya terang yang berasal dari daerah Kajen, tempat Mbah Syamsuddin berada. Singkat cerita, ia kemudian diajak tinggal dan mengajar di Kajen.
Ajaran yang Kontroversial
Kyai Mutamakkin dikenal karena mengajarkan ilmu tasawuf yang mendalam, termasuk konsep wahdatul wujud (manunggaling kawula lan Gusti) kepada masyarakat umum. Ia juga menafsirkan ajaran Islam melalui naskah-naskah Jawa seperti Serat Dewaruci.
Juga dikenal piawai dalam mendalang cerita Dewa Ruci. Yakni salah satu fragmen bagian dari cerita Mahabharata, yang menceritakan Bima, salah satu tokoh Pandawa, yang tengah belajar filsafat kehidupan.
Seperti diketahui, kisah Dewa Ruci, di zaman Wali Sanga dipakai dakwah untuk menyederhanakan ajaran tasawuf, saat Bima bertemu dengan Dewa Ruci, yang diajarkan tentang kesejatian hidup antara makro kosmos dengan mikro kosmos.
Ajaran-ajaran ini dianggap kontroversial oleh sebagian ulama istana di Mataram. Para ulama "garis keras" ini menganggap ajaran Kyai Mutamakkin menyimpang dari syariat dan menyamakannya dengan ajaran wahdatul wujud dari Syekh Abdul Jalil alias Syekh Siti Jenar.
Karena ajarannya itu, Kyai Mutamakkin dituduh sesat dan dihadapkan ke pengadilan keraton yang dipimpin oleh Raja Mataram, Pakubuwono II.
Dalam pengadilan tersebut, Kyai Mutamakkin harus berhadapan dengan ulama istana, terutama Ketib Anom Kudus, untuk berdebat tentang ajarannya.
Kisah pengadilan ini dicatat dalam Serat Cebolek. Naskah ini menggambarkan Kyai Mutamakkin sebagai sosok yang lugu, miskin, dan tidak cakap dalam berdebat menggunakan tata bahasa keraton. Bahkan, ia menjadi bahan olok-olok dan dianggap bodoh oleh banyak orang yang hadir.
Meskipun demikian, ada naskah lain dari Kajen yang menceritakan bahwa Kyai Mutamakkin justru berhasil membuktikan kebenaran ajarannya.
Pada akhirnya, Raja Pakubuwana II tidak menjatuhkan hukuman mati padanya. Raja melihat kejernihan akal, budi, pikiran, adab, moral, aura kesucian pada diri Kyai Mutamakkin dan menyimpulkan bahwa ia adalah sosok yang suci, meskipun cara penyampaian ajarannya out of the box, di luar pakem, tidak sesuai dengan standar istana.
Warisan Kyai Mutamakkin
Setelah pengadilan, Kyai Mutamakkin melanjutkan dakwahnya di Kajen, Pati. Ia mendirikan masjid dan padepokan untuk mengajar santri.
Kajen kemudian dikenal sebagai pusat pendidikan santri yang melahirkan banyak ulama besar di Jawa, bahkan hingga saat ini.
Beberapa keturunannya menjadi tokoh penting dalam sejarah Islam di Indonesia, termasuk Kiai Hasyim Asy'ari dan Kyai Bisri Syansuri, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Kisah Kyai Mutamakkin menjadi pelajaran tentang perlawanan kultural dan keberanian dalam mengajarkan tasawuf, meskipun harus berhadapan dengan kekuasaan dan pandangan yang berbeda. Namanya kini dikenal sebagai ulama karismatik yang menjadi cikal bakal banyak pesantren di Jawa. Khusunya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. [*]
Editor : Hari Puspita