Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dewa Ratu!, di Tohpati, Bayi Berusia 4 Bulan 5 Jam Menunggu Tim Evakuasi di Plafon Rumah, Kaget Buka Pintu Air Bah Langsung Menerjang

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 12 September 2025 | 16:02 WIB

 

 

NGENES: Hendra adalah  warga yang  mengungsi  bersama istri dan dua anak. Anaknya masih kecil, yakni berusia 4 bulan dan 6 tahun
NGENES: Hendra adalah warga yang mengungsi bersama istri dan dua anak. Anaknya masih kecil, yakni berusia 4 bulan dan 6 tahun

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Posko pengungsian  warga terdampak banjir di  Banjar Tohpati Jalan Merak, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur. Mereka adalah  warga yang tinggal di Jalan Siulan,  Tohpati,  yang  dekat aliran sungai.

Jumlah  yang terdampak 124 orang. Namun, warga yang di pengungsian  26 orang karena sisanya telah kembali ke rumah.

Hendra adalah  warga yang  mengungsi  bersama istri dan dua anak. Anaknya masih kecil, yakni berusia 4 bulan dan 6 tahun. Hendra berkali-kali mengucapkan "alhamdulilah" saat ditemui pengungsian Kamis (11/9/2025).

 Baca Juga: Kantor Lurah dan Pustu Dauh Puri Rusak Terendam Banjir, Dokumen Adminduk Hilang, Kadisdukcapil Minta ini

Pria berusia 38 tahun baru sebulan indekos  di daerah Jalan Siulan. Ia awalnya tidak sadar ada banjir besar, meski tahu hujan lebat seharian. Awalnya air masuk kamarnya, saat pintu dibuka ia kaget air besar langsung masuk.

Hendra sigap menyelamatkan anaknya dengan dievakuasi ke plafon."Yang penting dua anak saya selamat. Saya tidak mikir apa-apa lagi,"ungkapnya berkaca-kaca.

Selama lima jam hendra dan keluarganya di atas plafon  menunggu evakuasi dari tim. Diakuinya cukup lama menunggu dengan rasa khawatir air akan lebih tinggi.

"Dari 2.30 hingga pukul 08.00 kan ada anak-anak kecil. Tidur semua. Saat tahu tak bangunin. Bagaimana perasaan itu anak kecil. Pertolongan untuk saya dan keluarga saya terakhir," ujarnya Hendra.

Barang-barang di kosnya banyak berisi lumpur. Dipastikan  barang  elektronik seperti kulkas dan televisi rusak. Hendra juga tidak memiliki baju di pungsian karena semua di kosnya."Tinggi air sekitar 80 sentimeter," sebut pria asal Malang ini.

 Baca Juga: Mantan Koordinator Stafsus Jokowi, Ari Dwipayana Sentil Pernyataan Koster Salahkan Hujan, Minta Serius Lakukan Mitigasi Bencana

Akibat dari bencana ini, Hendra yang keseharian sebagai kuli bangunan tak bisa bekerja.

"Perasaan saya campur aduk. Kalau ini (anak-anak) saya tidak selamat  mending saya mati. Alhamdulillah," ucapnya.

Anaknya yang berusia 4 bulan  sempat sakit, suhu badannya tinggi. Lagi-lagi syukur segera membaik.   Pertolongan saat bencana  terasa agak lama padahal air di lokasinya sangat tinggi."Pokoknya  percaya sama yang Di atas," tandasnya.

Rasa pilu juga disampaikan Ibu Kadek Aris  mengingat banjir terjadi dini hari Rabu (10/9). Ketika buka pintu ia melihat air besar. Rumah Kadek Aris berlokasi di Jalan Siulan luluh lantak  barang-barang berharga tidak ada yang selamat.

"Keluarga selamat. Barang-barang di rumah sudah tidak ada. Kami diselamatkan  pagi jam 06.00 dievakuasi," terangnya.

 Saat ini  Kadek Aris dan keluarga telah mengungsi di Banjar Tohpati. Bersyukur mendapatkan kasur untuk tidur dan juga makanan." Tidurnya tidak nyenyak. Tapi dapat sembako lagi," ujarnya.

Kadek Aris mengaku membersihkan lumpur di rumahnya  tapi air  PDAM  mati."Air mati semua tidak bisa bersih-bersih," ucapnya.

Berada di pengungsian meski sudah mendapatkan makanan,  Kadek Aris mengaku  memerlukan pakaian dan peralatan mandi."Kemarin pagi mulai masuk paginya. Kami butuh peralatan mandi dan pakaian (yang belum,red)  kalau bisa dikasih sembako," tandasnya.***

Editor : M.Ridwan
#korban banjir #air bah #banjir bandang #pengungsian