ACEH, RadarBali.id - Usai polemik terkait pelat nomor polisi (nopol) di Sumut kini Provinsi Aceh mengalami pemadaman listrik alias black out.
Listrik masih melanda sejumlah wilayah di Aceh sejak Senin sore, 29 September 2025. Gangguan yang berlarut-larut hingga hari ini memicu keluhan dari masyarakat karena sangat mengganggu aktivitas harian.
Berdasarkan pantauan, pemadaman listrik ini terjadi tidak merata di semua daerah. Sebagian wilayah sempat mengalami pemulihan aliran listrik pada Senin malam. Sementara daerah lainnya justru kembali mengalami kegelapan.
Keluhan pun datang dari warga yang hingga kini masih merasakan dampak pemadaman. Salah seorang warga Desa Lamteumen Barat, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, Wardani, mengaku listrik di rumahnya padam sejak Senin sore.
"Mati lampu dari kemarin sore. Sempat hidup sebentar kemudian mati lagi, lalu hidup lagi sampai-sampai arusnya tidak stabil, naik turun," kata Wardani
Wardani menuturkan, kondisi ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari keluarganya. Ia juga mengkhawatirkan ketidakstabilan tegangan listrik yang berpotensi merusak peralatan elektronik di rumahnya.
Dampak pemadaman listrik yang berkepanjangan ternyata meluas bukan sekadar penerangan. Wardani mengungkapkan pasokan air bersih dari pompa listrik ikut terhenti dan jaringan internet menjadi sangat sulit diakses.
Susah sekali kalau udah listrik padam berjam-jam gini. Air enggak ada, ga bisa masak, jaringan internet juga susah enggak konek," keluhnya lagi.
Gangguan listrik ini ternyata tidak hanya dirasakan di dalam Kota Banda Aceh. Informasi yang diterima menyebutkan, sejumlah kabupaten dan kota lain di Aceh juga mengalami pemadaman listrik serupa.
Hingga berita ini diturunkan pada Selasa, 30 September 2025, pemadaman listrik di sebagian wilayah Aceh masih terus terjadi. Masyarakat pun masih menanti kepastian dan upaya percepatan perbaikan dari PLN.
Menanggapi ribuan masyarakat Aceh terkait pematian listrik bergari hari, pihak PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Aceh menyatakan mereka masih melakukan investigasi untuk menemukan penyebab pasti gangguan listrik tersebut.
Ia menambahkan, kegagalan tersebut berdampak pada belum pulihnya pasokan listrik di sejumlah daerah, meskipun sebagian wilayah lain sudah mulai mengalami penormalan secara bertahap.
PLN menyampaikan bahwa tim teknis di lapangan terus berupaya mempercepat proses pemulihan agar pasokan listrik segera kembali stabil."Untuk saat ini masih dilakukan penormalan bertahap," kata Manager Komunikasi & TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim.
Jadi Sorotan, Harus Ada Solusi
Hal ini juga menjadi sorotan tokoh masyakat Aceh. Antara lain Kepala Ombudsman RI Aceh, ujar Taqwaddin kepada awak media.
Dikatakan bahwa kondisi tidak stabil ini merata hampir semua kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh, mungkin hanya di Pulau Simeulu dan Pulau Weh yang normal karena mereka tidak terkoneksi dengan Sumatera Utara, Rabu (1/10/2025).
Penyebab utama matinya listrik diseluruh Aceh karena masalah interkoneksi listrik Aceh dengan Sumatera Utara.
“Kejadian ini sungguh sangat mengganggu kehidupan rakyat dan pelayanan publik,” ujar Dr Taqwaddin yang sudah lebih dari tiga tahun ini memangku jabatan sebagai Hakim Tinggi Ad Hoc Tipikor di Aceh.
Menurutnya mesti ada solusi strategis untuk jangka panjang terkait hal ini. Tidak cukup hanya dengan langkah taktis aja.
Jika memang masalah interkoneksi yang jadi masalah, maka solusinya adalah melepaskan diri dari interkoneksi dengan Sumatera Utara (Sumut).
Apalagi terkait interkoneksi ini diatur hanya dalam Peraturan Menteri ESDM yang kemudian dijabarkan dengan Keputusan Dirut PLN.
“ Saya kira menyangkut hal ini bisa diselesaikan dengan pendekatan politik oleh Gubernur Aceh dan Anggota DPR RI yang mewakili Aceh untuk menemui Menteri ESDM dan Dirut PLN.Saya sudah sampaikan keprihatinan ini kepada beberapa Anggota DPR dan DPD RI yang mewakili Aceh,” jelasnya.
Beberapa dari mereka, seperti Dek Gam sudah memberi respon bahwa besok akan call Dirut PLN. Begitu pula respons dari Azhari Cage, Anggota DPD RI yang akan menyampaikan hal ini pada rapat dengan Menteri ESDM dan Dirut PLN.
Penjahit Kutabaro Tailor, mengeluh bahwa "sudah lebih 11 jam listrik mati. Kami tidak bisa buat apa-apa karena semua peralatan menggunakan listrik. Kami rugi".
Sementara pegiat media sosial Yusalfi Nyakman menyampaikan, masalah listrik di Aceh sudah bertahun-tahun. “Kok tidak selesai-tidak selesai. Apakah pimpinan kita tidak ada yang peduli ?” keluhnya.
Masalah kelistrikan ini, hemat saya perlu dibahas pada level strategis yang dilakukan oleh Pimpinan Aceh, Anggota DPR/DPD RI yang mewakili Aceh membahas bersama dengan Menteri ESDM dan Dirut PLN.
Jangan gara-gara interkoneksi, kita setiap tahun menjadi korban perasaan dan korban harta, yang tak jelas ganti ruginya". Pungkas Taqwaddin, Akademisi FH USK yang juga Ketua ICMI Aceh ini.[*]
Editor : Hari Puspita