Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

“Kami Sudah Capek!”: Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi Menggantung, Warga Terdampak Terang-terangan Sudah Muak Janji Pemerintah

Juliadi Radar Bali • Kamis, 11 Desember 2025 | 14:50 WIB
PERTANYAKAN HAKNYA : Suasana pertemuan masyarakat dan Forum Perbekel Terdampak  Tol Gilimanuk-Mengwi di Balai Pertemuan Desa Antosari, Selemadeg Barat, Tabanan,Rabu (10/12/2025). (juliadi/radar bali)
PERTANYAKAN HAKNYA : Suasana pertemuan masyarakat dan Forum Perbekel Terdampak Tol Gilimanuk-Mengwi di Balai Pertemuan Desa Antosari, Selemadeg Barat, Tabanan,Rabu (10/12/2025). (juliadi/radar bali)

 

TABANAN, Radar Bali.id – Proyek pembangunan Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi yang tak kunjung jelas realisasinya memicu kegelisahan dan kemarahan masyarakat terdampak. Sejumlah warga dan Forum Perbekel Terdampak Tol menggelar pertemuan di Balai Pertemuan Desa Antosari, Selemadeg Barat, Tabanan, pada Rabu (10/12/2025) untuk mendesak kepastian dari pemerintah pusat dan Pemprov Bali.

Masyarakat dan enam Perbekel yang hadir menyatakan sudah lelah dan bosan dengan janji-janji pemerintah yang terus mengambang, sementara lahan dan rumah mereka sudah dipatok selama bertahun-tahun.

Ni Wayan Mulya, warga Banjar Dinas Peregreregan, Desa Lumbung, mengungkapkan keresahannya.

"Kami jujur bingung sekali, sudah lelah dengan janji. Kami sudah diajak sosialisasi, sudah ke lapangan ukur tanah. Kami sudah capek. Satu kata yang ingin kami dengar informasinya dari pemerintah: jadi atau tidak pelaksanaan Tol Gilimanuk-Mengwi," ungkap Mulya.

Rumah Roboh, Lahan Tak Bisa Digarap

Keresahan warga sangat mendalam karena ketidakjelasan proyek ini menciptakan beban psikologis dan material. Mulya mencontohkan, lahan dan rumahnya sudah diukur, namun tidak ada tindak lanjut pembebasan.

"Tanah dan rumah saya kena sudah diukur segala macam. Beberapa bagian rumah sudah ada yang roboh. Jawaban pemerintah mengambang. Jangan mengambang seperti ini, kami jadi beban di bawah. Lahan tidak bisa digarap," tambahnya.

Perbekel Desa Antosari, I Nyoman Suriawan, menambahkan bahwa selama empat tahun lebih sejak sosialisasi, progres proyek nyaris nol. Kondisi ini membuat warga takut memperbaiki rumah yang mulai rusak atau mengolah lahan.

"Sudah banyak rumah mau roboh takut dilakukan perbaikan oleh masyarakat. Bahkan karena tidak ada kejelasan, sudah ada warga cabut patok tol," jelasnya.

Desakan Kepastian Sebelum Penlok Kedaluwarsa

Ketua Forum Terdampak Tol, I Nyoman Arnawa, mendesak pemerintah pusat dan Pemprov Bali segera memberikan jawaban pasti, mengingat masa Penetapan Lokasi (Penlok) Tol Gilimanuk-Mengwi akan berakhir pada 7 Maret 2026 mendatang.

"Masyarakat di bawah ini ada harapan dan kecemasan. Empat tahun menunggu tidak ada kepastian. Kalau tidak jadi, kembalikan hak-hak masyarakat agar bisa mengolah hingga memperbaiki rumah mereka. Kalau jadi, berikan langkah dan mekanisme proses apa yang harus dilakukan masyarakat. Simpel saja itu yang diminta," tegas Arnawa.

Realisasi Tol Baru Sampai Tanah Pemprov

Menanggapi keluhan masyarakat, Kaur Pembantu Tata Usaha PPK Tol Gilimanuk-Mengwi, I Ketut Kariasa, membenarkan bahwa Penlok akan berakhir dalam tiga bulan ke depan.

Ia mengakui bahwa hingga Desember 2025, progres pembebasan lahan baru mencapai tanah Perumda milik Pemprov Bali.

"Sedangkan untuk tanah warga, sampai sekarang ini semua belum dilakukan pembebasan oleh pemerintah," ungkap Kariasa.

Kariasa menjelaskan bahwa proyek kini berada dalam tahap review studi kelayakan (Feasibility Study/FS) yang terpusat di Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya untuk sesi 2 (Pekutatan sampai Antosari) dan sesi 3 (Antosari sampai Mengwi). Kariasa berjanji akan menyampaikan keluh kesah masyarakat kepada pemerintah agar proses pengadaan tanah segera dilakukan.[*]

Editor : Hari Puspita
#tol denpasar - gilimanuk #pembebasan lahan #Hak warga #jalan tol