GIANYAR, Radar Bali.id – Kemeriahan menjelang pergantian tahun menyisakan duka bagi keluarga Pande Made Mardana. Pura keluarga milik warga Banjar Penestanan Kelod, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, terbakar pada Minggu (28/12/2025) siang.
Penyebab kebakaran diduga kuat akibat percikan kembang api yang jatuh ke atap bangunan suci tersebut.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 13.11 Wita ini pertama kali diketahui oleh saksi Ni Made Sulastini,33. Ia mendapat laporan dari warga yang melintas bahwa terlihat kepulan asap dan api dari atap pelinggih. Saat dicek, api rupanya sudah membesar dan melalap bagian atap yang berbahan ijuk (duk).
Upaya pemadaman mandiri oleh warga dan pihak keluarga sempat dilakukan, namun material ijuk yang kering membuat api sulit dikendalikan.
Dua unit mobil Pemadam Kebakaran Kabupaten Gianyar Pos Ubud akhirnya tiba di lokasi pada pukul 14.25 Wita untuk menjinakkan si jago merah.
"Api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 15.00 Wita. Beruntung api tidak sempat menjalar ke bangunan lain di sekitarnya," ujar Kapolsek Ubud, Kompol I Wayan Putra Antara, yang memimpin langsung pengamanan di lokasi.
Dugaan Penyebab dan Kerugian
Meski penyelidikan masih berjalan, Kapolsek menyebutkan bahwa dugaan sementara api berasal dari percikan kembang api yang mendarat di atap pelinggih.
Sifat ijuk yang sangat mudah terbakar membuat api seketika menyambar. Akibat kejadian ini, korban diperkirakan mengalami kerugian material mencapai Rp200 juta.
Sorotan Terhadap Penggunaan Kembang Api
Musibah ini memicu reaksi keras dari Pj Perbekel Sayan, Mangku Ketut Gede Kesumawijaya. Ia menyesalkan penggunaan kembang api yang tidak terkontrol sehingga merugikan krama dan mengganggu kenyamanan wisatawan di kawasan Desa Sayan.
"Kami sangat berharap kesadaran bersama agar warga tidak lagi menyalakan kembang api. Selain sangat berbahaya dan berpotensi menyebabkan kebakaran seperti ini, suaranya juga mengganggu ketenangan lingkungan," tegas Mangku Kesumawijaya.
Ia juga mengimbau kepada para orang tua, tokoh adat, serta pemuda untuk memperketat pengawasan, terutama kepada anak-anak dan remaja, agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
"Mari kita saling mengingatkan demi keamanan desa kita bersama," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita