DENPASAR, Radar Bali.id – Perayaan malam pergantian tahun 2026 di Pulau Dewata yang seharusnya penuh sukacita berubah menjadi petaka di sejumlah titik.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di mana pesta kembang api terpusat di lapangan umum, tahun ini warga dan wisatawan terpantau lebih banyak menyalakan kembang api secara mandiri di pinggir jalan raya dan permukiman, yang memicu rentetan kebakaran.
Hingga Jumat (2/1/2026), laporan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) di berbagai kabupaten mengonfirmasi adanya kerugian materiil hingga miliaran rupiah akibat residu dan percikan kembang api yang menyambar bangunan.
Lokasi Kejadian Kebakaran
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut adalah lokasi-lokasi terdampak paling parah:
- Pecatu, Badung (Uluwatu): Kejadian paling menonjol terjadi di Jalan Labuan Sait, di mana sedikitnya 10 unit vila di Kompleks Vila Desa Harmonis ludes terbakar. Api diduga berasal dari percikan kembang api yang dinyalakan tamu di depan kamar, lalu menyambar atap alang-alang. Kerugian di lokasi ini ditaksir mencapai Rp3 miliar.
- Celuk, Gianyar: Sebuah bangunan suci berupa Piasan milik warga di Jalan Raya Celuk hangus terbakar tepat saat puncak pergantian tahun (00.35 Wita). Percikan kembang api dari jalan raya diduga jatuh di atas atap bangunan yang mudah terbakar.
- Tabanan: Dua buah pelinggih di Pura Puseh-Bale Agung dilaporkan terbakar setelah tersambar residu kembang api yang meluncur ke arah area pura.
- Jembrana: Petugas Damkar setempat melaporkan dua insiden kebakaran berbeda yang terjadi hampir bersamaan di malam tahun baru, yang juga dipicu oleh aktivitas petasan dan kembang api.
Tren Kembang Api Jalanan Jadi Sorotan
Pihak kepolisian dan Damkar menyoroti perubahan perilaku masyarakat tahun ini. Jika sebelumnya perayaan dipusatkan di lapangan atau pantai, kali ini kerumunan massa yang menyalakan kembang api justru memadati bahu-bahu jalan raya.
Hal ini tidak hanya membahayakan pengguna jalan, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran karena jarak antara kembang api dengan bangunan (terutama yang beratap alang-alang atau berbahan kayu) menjadi sangat dekat.
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy, menyatakan bahwa meskipun imbauan telah diberikan, kesadaran masyarakat dalam memilih lokasi aman untuk menyalakan kembang api masih rendah.[*]
Editor : Hari Puspita