Deru ombak di Pantai Sangsit, Kecamatan Sawan, pagi itu mendadak pecah oleh kegaduhan yang tak biasa. Kamis (15/1/2026), di bawah rindangnya pohon ketapang yang berdiri kokoh di tepian pantai, sebuah drama kemanusiaan terungkap.
KEJADIAN yang benar-benar mengharukan. Bukan tentang keriuhan wisatawan, melainkan tentang perjuangan hidup seorang ibu dan bayi yang baru saja menghirup udara dunia.
Kejadian bermula saat Made Tanaya,46, seorang warga setempat, melintas di areal pantai. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok perempuan yang tampak asing tengah mendekap erat bungkusan kecil di pelukannya.
Setelah diamati lebih dekat, betapa terkejutnya Tanaya melihat bayi mungil yang masih lemah berada di tangan perempuan tersebut.
Kecurigaan Tanaya menguat; bayi itu tampak baru saja dilahirkan di ruang terbuka yang jauh dari kata layak.
Tanpa membuang waktu, ia segera memanggil warga sekitar dan melaporkan kejadian tersebut kepada Kelian Banjar Dinas Pabean serta Bhabinkamtibmas Desa Sangsit.
"Kondisinya sangat mengkhawatirkan karena mereka berada di lokasi terbuka," kenang Tanaya.
Evakuasi dan Penyelamatan
Suasana yang semula tegang perlahan mencair saat personel Polsek Sawan bersama tim medis tiba di lokasi. Dengan sigap, petugas mengevakuasi sang ibu dan bayinya ke Puskesmas Sawan I untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Identitas sang ibu kemudian terungkap. Ia adalah Neny Pungwam, seorang perempuan asal Desa Asarbei, Manokwari, Papua Barat. Berdasarkan pengamatan awal, Neny diduga merupakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sedang dalam kondisi rentan.
Mukjizat di Tengah Keterbatasan
Meski dilahirkan di bawah pohon ketapang dengan fasilitas seadanya, sebuah keajaiban muncul dari hasil pemeriksaan medis. Bayi laki-laki tersebut dinyatakan sehat dengan berat badan 2,9 kilogram dan panjang 43 sentimeter.
"Hasil pemeriksaan awal menunjukkan kondisi ibu dalam keadaan sehat. Begitu pula dengan bayi laki-lakinya," ujar Kasi Humas Polres Buleleng, Iptu Yohana Rosalin Diaz.
Langkah Kemanusiaan
Saat ini, pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan masa depan ibu dan anak ini. Fokus utama bukan sekadar prosedur hukum, melainkan perlindungan sosial dan pemulihan kesehatan mental bagi Neny.
"Penanganan dilakukan dengan mengedepankan sisi kemanusiaan. Kami ingin memastikan ibu dan bayi mendapatkan perawatan serta pendampingan yang layak," tegas Iptu Yohana.
Kini, di balik riuh rendahnya kabar ini, doa-doa mengalir untuk sang bayi laki-laki yang memulai langkah pertamanya di dunia dari bawah pohon ketapang di pesisir Buleleng.[*]
Editor : Hari Puspita