Jarum jam menunjukkan pukul 00.30 Wita ketika ketenangan malam pecah oleh suara gemuruh air yang mengerikan. Minggu (1/2/2026) dini hari, saat sebagian besar warga Banjar Dinas Kalanganyar, Desa Banjarasem, Seririt, sedang terlelap dalam dinginnya hujan, air dan lumpur itu meluap.
INI memang tidak lazim. Tukad Banyuraras, sungai yang biasanya mengalir tenang, tiba-tiba berubah menjadi "monster" air. Malam-malam,pula.
Debit air kiriman dari hulu—pertemuan Tukad Unggahan dan Tukad Pangkungparuk—meningkat tajam. Tak kuat menahan beban, tanggul sungai sepanjang 300 meter itu pun menyerah. Jebol.
Banjir Setinggi Dada dan Ternak yang Hanyut
"Air kiriman dari hulu sangat deras. Begitu tanggul jebol, air langsung menerjang permukiman. Ketinggiannya mencapai satu meter," kenang Kelian Banjar Dinas Kalanganyar, Gede Edy Santosa.
Dalam sekejap, air berlumpur masuk ke kamar-kamar warga. Sebanyak 11 rumah yang hanya berjarak 50 meter dari bibir sungai menjadi sasaran utama. Tembok-tembok penyengker (pagar) yang kokoh tak berdaya menghadapi terjangan arus hingga roboh.
Bukan hanya materi, nyawa hewan ternak pun tak selamat. Sebanyak 10 ekor ayam milik warga raib terseret arus, bahkan sebuah mesin pengaduk semen ikut hanyut terbawa banjir yang ganas malam itu.
Janji Perbaikan yang Didahului Bencana
Ironisnya, petaka ini seolah-olah "tragedi yang sudah diramalkan". Edy menyebutkan bahwa kondisi tanggul tersebut sebenarnya sudah kritis sejak lama. Sejak tahun 2010, laporan demi laporan telah disampaikan ke instansi terkait.
Harapan sempat muncul saat petugas dari Balai Wilayah Sungai (BWS) melakukan survei pada 27 Januari 2025 lalu. Rencana perbaikan telah dijadwalkan pada tahun 2026. Namun, alam tak bisa menunggu birokrasi.
“Ini sudah banjir ketiga kalinya sejak tanggul jebol, dan kali ini yang paling parah. Perbaikan belum sempat dilakukan, banjir sudah datang lebih dulu,” keluh Edy.
Gotong Royong di Atas Lumpur
Pasca kejadian, wajah Banjar Kalanganyar berubah pucat tertutup lumpur tebal. Sebanyak 21 Kepala Keluarga (KK) sempat mengungsi ke rumah kerabat demi keamanan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa memilukan ini.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, I Gede Suyasa, bergerak cepat memimpin asesmen di lapangan. Sinergi antara TRC BPBD, Damkar, TNI, dan Polri langsung terlihat di lokasi. Mesin-mesin pemadam kebakaran dikerahkan untuk menyemprot sisa lumpur yang menempel di lantai rumah warga.
Bantuan darurat berupa sembako, selimut, hingga matras telah disalurkan kepada warga terdampak. Kini, meski warga mulai kembali ke rumah masing-masing, rasa was-was masih membayangi. Di bawah langit Buleleng yang masih mendung, warga Kalanganyar hanya bisa berharap tanggul mereka segera dipermanenkan, sebelum air hulu kembali datang mengetuk pintu rumah mereka di tengah malam.[*]
Editor : Hari Puspita