Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Tragis Penghobi Memancing Asal Klungkung yang Tewas Tersambar Petir : Sang Istri Punya Firasat tapi Tak Kuasa Mencegah

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Selasa, 10 Februari 2026 | 07:58 WIB
MALAPETAKA DI LUAR DUGAAN : Prosesi pengabenan I Wayan Rencana Yasa, warga Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. (Dewa Ayu Pitri Arisanti)
MALAPETAKA DI LUAR DUGAAN : Prosesi pengabenan I Wayan Rencana Yasa, warga Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. (Dewa Ayu Pitri Arisanti)

 

Hidup dan mati tetap rahasia mutlak Sang Pencipta. Begitu pun akhir hidup yang dialami I Wayan Rencana Yasa yang punya hobi memancing ikan ini. Meskipun istrinya sempat mencegah untuk tidak memancing, tapi suratan takdirnya memang sampai di situ.

SUASANA  di Krematorium Pitra Puja Puspa Pau, Desa Tihingan, pada Senin (11/2/2026) siang itu begitu menyesakkan. Di bawah langit yang masih tampak muram, Ni Kadek Ayu Serla Dewi tak kuasa membendung air matanya.

Tangisnya pecah mengiringi prosesi pengabenan suaminya, I Wayan Rencana Yasa,37, pria yang pergi terlalu cepat akibat sambaran petir saat memancing di Danau Batur.

Bagi keluarga, kematian Wayan adalah sebuah kejutan yang pahit. Sehari-harinya, pria asal Desa Nyanglan ini dikenal sebagai pribadi yang polos, namun sangat rajin dan bisa diandalkan.

Sebagai sopir pengantar kacang di Desa Nongan, Karangasem, Wayan menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan. Memancing adalah satu-satunya pelarian manisnya dari lelahnya bekerja.

"Sejak remaja dia memang hobi memancing. Kalau ada waktu libur atau pulang kerja, pasti memancing," tutur Nengah Lungsur (60), ayah korban, dengan suara berat menahan sedih.

Firasat Sang Istri dan Mimpi Buruk

Namun, Minggu (8/2/2026) itu sebenarnya berbeda. Serla Dewi, sang istri, sempat menaruh firasat buruk. Selain karena cuaca belakangan ini ekstrem dengan curah hujan tinggi, Dewi dihantui mimpi aneh.

 Ia bermimpi buang air besar—sebuah pertanda atau simbol dalam kepercayaan masyarakat setempat yang sering dikaitkan dengan kehilangan anggota keluarga.

Dewi sempat melarang Wayan berangkat. Ia memohon agar suaminya tetap di rumah demi keamanan. Namun, kegemaran Wayan terhadap aroma danau tak terbendung. Saat ia berangkat, langit memang sedang cerah.

Tak ada yang menyangka bahwa di tengah danau, saat Wayan sedang bersukacita karena umpannya disambar ikan sekitar pukul 14.30 Wita, petir justru menyambar tubuhnya.

Sambaran halilintar itu begitu dahsyat. Nengah Darma Yasa ,45, kerabat korban, menceritakan betapa kuatnya energi listrik tersebut hingga merusak barang-barang elektronik.

"Telepon genggam dan kunci remote motor mereka rusak total setelah tersambar petir. Saya dihubungi warga setempat karena ponsel mereka tak bisa lagi digunakan," ungkapnya.

Bertahan Demi Masa Depan Anak

Kini, Wayan meninggalkan dua buah hati yang masih sangat kecil: Putu Rukma,4, dan Kadek Deva yang baru berusia satu tahun. Kehilangan ini tak hanya meninggalkan luka batin, tapi juga beban hidup yang harus dipikul Dewi seorang diri.

Sebelumnya, Dewi memilih berhenti bekerja untuk fokus mengurus anak keduanya. Namun kini, kenyataan memaksanya untuk kembali kuat.

"Saya ingin kembali bekerja, mungkin menggoreng kacang lagi seperti dulu di tempat suami saya bekerja. Anak-anak masih kecil, mereka sedang senang-senangnya jajan dan butuh biaya," ucap Dewi lirih sambil mengenang masa-masa ia dan suaminya bekerja di tempat yang sama.

Nengah Lungsur hanya bisa memandang puing-puing perabuan anaknya dengan tatapan kosong. Meski pedih, ia mengaku telah ikhlas. Baginya, Wayan pergi dalam kondisi sedang menjalankan hobinya—sesuatu yang sangat ia cintai.

"Dia anak yang baik ke masyarakat. Kami sangat kehilangan sosoknya yang jujur," tutup Lungsur sembari menutup prosesi perpisahan terakhir bagi sang putra.[*]

Editor : Hari Puspita
#musibah #pengabenan #Tersambar Petir #pemancing #klungkung