GIANYAR, Radar Bali.id – Keluarga Puri Kantor Ubud tengah bersiap menggelar upacara Mecaru Ngeresigana Kerubuhan pada 20 Februari 2026 lusa.
Ritual ini dilakukan menyusul insiden tumbangnya pohon beringin bersejarah yang menimpa area suci puri beberapa waktu lalu.
Penglingsir Puri Kantor Ubud, Tjokorda Gede Putra Asmara Sukawati, menjelaskan bahwa upacara tersebut merupakan bagian krusial dari pemulihan secara adat dan spiritual. Sebelum ritual puncak dilaksanakan, pihak keluarga akan terlebih dahulu melakukan koordinasi ke Geria (kediaman pendeta).
"Kami nunas pemargi selanturnyane (memohon arahan selanjutnya)," ungkap sosok yang akrab disapa Cok Putra ini, Selasa (17/2/2026).
Pohon beringin yang roboh tersebut bukan pohon sembarangan. Diperkirakan telah berusia sekitar 300 tahun, keberadaannya tumbuh bersamaan dengan sejarah berdirinya Puri Ubud. Cok Putra menceritakan, beberapa hari sebelum roboh, dahan pohon memang sempat diterjang angin kencang yang sangat lama hingga akhirnya tumbang ke dua arah.
Di sisi lain, proses evakuasi fisik masih terus dikebut oleh BPBD Gianyar. Kepala Pelaksana BPBD Gianyar, Ida Bagus Putu Suamba, menyebutkan timnya harus bekerja ekstra hati-hati karena ukuran pohon yang raksasa dan posisinya yang menimpa bangunan.
"Evakuasi ke arah selatan kami utamakan. Karena sebagian reruntuhan berada di atas bangunan puri, kami memerlukan peralatan khusus agar tidak menimbulkan kerusakan tambahan," jelas Suamba. Meski sempat terkendala hujan, proses pembersihan sisa-sisa dahan terus dilanjutkan dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas dan warga sekitar.[*]
Editor : Hari Puspita