Kemacetan parah yang melumpuhkan jalur Denpasar–Gilimanuk selama berhari-hari ternyata menjadi ladang rezeki bagi warga sekitar. Kawasan Hutan Cekik yang biasanya sepi, kini berubah menjadi pusat ekonomi dadakan.
REZEKI nomplok sesaat ini muncul seiring antrean kendaraan yang mengular tanpa kepastian hingga puluhan jam. Ibaratnya: menunggu sampai badan berurat akar di jalan raya.
Heru, salah satu warga yang membuka lapak kopi dadakan, mengaku meraup untung besar sejak arus mudik tersendat.
"Kalau lagi padat begini, hasilnya bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah sehari," ungkapnya, Senin (16/3/2026). Para pemudik yang terjebak hingga semalam suntuk menjadikan kopi hangat dan air mineral sebagai buruan utama.
Selain pedagang makanan, fenomena ojek dadakan juga muncul sebagai solusi bagi pemudik yang sudah hilang kesabaran. Para tukang ojek ini menawarkan jasa menembus kemacetan menuju pelabuhan dengan tarif berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000.
Meskipun kemacetan ini menguras energi para pemudik, bagi warga yang jeli, situasi ini adalah "panen raya" tahunan yang tak boleh dilewatkan selama arus lalu lintas belum kembali normal.[*]
Editor : Hari Puspita