Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Gegara Unggahan Medsos Fotonya Hoaks, Puluhan Jurnalis Geruduk Kantor DPD RI Bali, AWK Minta Maaf dan Janji Ubah SOP Medsos

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 30 Maret 2026 | 22:35 WIB
DIGERUDUK DAN MINTA MAAF: Anggota DPD RI Bali Arya Wedakarna saat ditemui di kantor DPD RI Bali Jalan Cok Agung Tresna, Renon,Denpasar. (ni kadek novi febriani)
DIGERUDUK DAN MINTA MAAF: Anggota DPD RI Bali Arya Wedakarna saat ditemui di kantor DPD RI Bali Jalan Cok Agung Tresna, Renon,Denpasar. (ni kadek novi febriani)

DENPASAR, Radar Bali .id– Kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Perwakilan Bali mendadak tegang. Puluhan wartawan yang tergabung dalam Perhimpunan Jurnalis PENA NTT Bali mendatangi kantor tersebut untuk melayangkan protes keras kepada anggota DPD RI, Arya Wedakarna (AWK).

Baca Juga: Proses Lanjut Kasus Ujaran Kebencian AWK, Polda Bali Surati Bareskrim Polri

Aksi ini dipicu oleh unggahan di akun Instagram pribadi AWK yang me-repost berita bohong (hoax) dari sebuah media online. Unggahan tersebut dinilai menyudutkan salah satu jurnalis dan dibumbui dengan caption yang dianggap menggiring opini rasis serta berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).

Ledakan amarah para kuli tinta ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum PENA NTT, Agustinus Apollonaris Klasa Daton, didampingi Ketua Penasehat, Emanuel Dewata Odja, beserta jajaran pengurus lainnya.

Fakta yang Terbalik dan Jejak Digital yang Kejam

Ketua Penasehat PENA NTT, Emanuel Dewata Odja alias Edo, membeberkan duduk perkara yang menyulut emosi rekan-rekannya. Akun Instagram AWK mengunggah tangkapan layar berita dari situs kuatbaca.com yang berjudul "Sekuriti di Bali Perk40s WN Australia di Kamar Mandi Tempat Hiburan".

Fatalnya, foto yang dipasang dalam berita tersebut adalah foto VSG—seorang jurnalis Kompas.com yang juga anggota PENA NTT—dengan mata disensor. Padahal, VSG sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus kriminal tersebut.

"Meskipun bapak Arya Wedakarna tadi mengatakan sudah take down berita tersebut, tapi jelas jejak digital masih melekat. Untuk itu kami hadir hari ini bersurat kepada bapak," tegas Edo.

Edo mengingatkan bahwa sebagai pejabat publik, AWK memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya ke publik karena dampaknya yang sangat masif dalam menggiring opini.

PENA NTT Beri Ultimatum 1 x 24 Jam

Dalam surat kecaman yang dibacakan oleh Ketua PENA NTT Bali, Agustinus Apollonaris Klasa Daton, organisasi tersebut mengutuk keras kecerobohan AWK yang mentransmisikan informasi palsu tanpa hak.

Mereka pun melayangkan dua tuntutan tegas dan memberikan tenggat waktu singkat:

1.    Mendesak AWK mengklarifikasi secara terbuka dalam waktu 1 x 24 jam melalui akun Instagram miliknya bahwa tindakannya me-repost berita tersebut adalah tindakan ceroboh tanpa verifikasi.

2.    Meminta maaf secara terbuka kepada jurnalis VSG dan seluruh anggota keluarga besar PENA NTT-Bali.

AWK Klaim Masalah Selesai, Salahkan Admin dan Dukung Jalur Hukum

Ditemui seusai pertemuan, Arya Wedakarna justru mengklaim bahwa riak-riak masalah ini sebenarnya sudah selesai karena perwakilan jurnalis dan istri korban sudah datang menemuinya. AWK berkilah bahwa unggahan tersebut dilakukan oleh tim admin medianya dan sumber beritanya pun berasal dari luar Bali.

Ia bahkan mendukung penuh jika PENA NTT ingin menyeret media kuatbaca.com ke ranah hukum. "Saya dapat info bahwa dari pihak beliau-beliau itu akan melaporkan media tersebut ke Dewan Pers dan juga ke Polisi. Dan saya dukung, memang harus ke Dewan Pers saja," ungkapnya santai.

Menanggapi tudingan rasisme pada caption-nya, AWK membela diri dengan dalih bahwa secara hukum dirinya sama sekali tidak menyebutkan nama suku tertentu. Baginya, siapa pun yang berbuat kriminal di Bali harus ditindak tegas, termasuk warga lokal Bali sendiri.

"Saya sudah baca berkali-kali tidak ada itu menyebut nama suku apa pun. Kalau Arya Wedakarna kan tegas saja, kalau ada juga dari orang Bali yang berbuat salah ya juga kita harus hukum," jelas AWK.

Meski sempat bersikukuh, senator asal Bali ini akhirnya meminta maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi. Ia mengaku telah menegur keras tim admin medsosnya baik yang berada di Jakarta maupun di Bali dan berjanji akan memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) penyebaran informasi ke depannya. [*]

Editor : Hari Puspita
#senator #dpd #medsos #foto hoaks #arya wedakarna #permintaan maaf #awk