NEGARA, Radar Bali.id – Proses nekropsi (autopsi pada hewan) bangkai paus sperma betina sepanjang 17 meter yang terdampar di Pantai Nusasari, Melaya, berlangsung dramatis hingga Rabu (6/5/2026) petang.
Di bawah guyuran hujan deras, tim medis berjibaku mengungkap penyebab kematian mamalia raksasa Physeter macrocephalus tersebut, sembari mengadang aksi warga yang mencoba menjarah bagian tubuh satwa dilindungi ini.
Dugaan Gagal Napas dan Gravitasi
Relawan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI), Abdullatif Muhammad, mengungkapkan ada beberapa faktor teknis yang diduga kuat menjadi penyebab kematian.
Sebagai mamalia laut, paus sangat bergantung pada daya apung air. Saat terdampar di perairan dangkal, ia terkena crush syndrome.
"Tanpa daya apung, organ dalam paus tertarik oleh gravitasi. Ini sangat merusak kondisi tubuhnya," jelas Abdullatif.
Baca Juga: Duh, Tak Tertolong, Paus Sperma yang Terdampar di Pantai Nusasari Akhirnya Mati
Selain itu, diduga kuat air masuk ke saluran pernapasan (blow hole) saat paus terombang-ambing di pantai, yang membuatnya mengalami kondisi serupa tenggelam.
Indikasi Penjarahan Gigi Paus
Ironisnya, di tengah upaya penelitian, petugas menemukan bukti adanya percobaan pengambilan gigi paus secara paksa oleh orang tak dikenal.
"Kami menemukan ada retakan dan bekas upaya pengambilan paksa pada bagian gigi," tegasnya. Petugas pun harus memberikan peringatan keras kepada kerumunan warga yang nekat menerobos garis pembatas dan membuka terpal penutup saat proses bedah berlangsung.
Kini, tim telah mengambil lebih dari 20 sampel organ dan kulit untuk diuji di laboratorium serta pemeriksaan DNA guna memastikan secara ilmiah penyebab kematian sang raksasa laut tersebut.[*]
Editor : Hari Puspita