GIANYAR, Radar Bali.id - Nasib nahas menimpa seorang petani air nira, I Gede Rupada, 28. Pemuda asal Banjar Bingin, Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng ini mengalami patah tulang belakang.
Ini terjadi setelah terjatuh dari pohon enau setinggi sekitar 12 meter di Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 12.30 Wita.
Baca Juga: Kemnaker Siapkan Tiga Langkah Perkuat K3 dan Kurangi Kecelakaan Kerja
Peristiwa tragis itu bermula ketika korban sedang memanen air nira atau tuak seorang diri. Korban memanjat pohon enau di kebun milik Made Naru yang berlokasi di Banjar Lungsiakan, Desa Kedewatan.
Nahas, saat korban sudah berada di pucuk pohon untuk mengambil hasil sadapan, tali pengaman yang melingkar di pinggangnya mendadak putus. Kehilangan keseimbangan seketika, korban langsung tehempas ke tanah dari ketinggian belasan meter.
Akibat benturan keras tersebut, korban mengalami cedera serius pada tulang belakang hingga tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Karena lokasi kebun yang cukup terpencil dan jauh dari pemukiman, tidak ada warga yang melihat langsung detik-detik jatuhnya korban.
Korban baru mendapatkan pertolongan sekitar pukul 13.00 Wita. Saat itu, seorang warga bernama I Wayan Sudiarsa, 30, yang kebetulan melintas di sekitar lokasi, mendengar suara rintihan dan teriakan minta tolong yang lemah dari arah kebun. Setelah ditelusuri, saksi terkejut menemukan korban sudah tergeletak lemas di tanah menahan sakit.
Saksi kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Bhabinkamtibmas Desa Kedewatan, Aiptu I Nyoman Sutama, yang selanjutnya berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gianyar untuk proses evakuasi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya Presasta, membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya langsung menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) begitu menerima laporan dari lapangan.
"Informasi kami terima dari Bhabinkamtibmas Desa Kedewatan bahwa salah satu warga yang bekerja sebagai petani nira terjatuh dari pohon enau dengan ketinggian sekitar 12 meter. Kami langsung menggerakkan anggota TRC untuk melaksanakan evakuasi bersama rekan-rekan PMI dan ambulans," ujar Dibya.
Proses evakuasi berlangsung dramatis dengan melibatkan personel gabungan dari BPBD, PMI, serta dibantu warga setempat. Petugas harus ekstra hati-hati mengangkat tubuh korban menggunakan tandu mengingat cedera tulang belakang yang dialaminya cukup rawan.
"Setelah proses evakuasi selesai, korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Karena lokasi yang paling dekat berada di wilayah Badung Utara, korban dilarikan ke Rumah Sakit Windu Usada," pungkas Dibya.[*]
Editor : Hari Puspita