Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kenapa Tidak Berkurban? Ketika Alasan Lebih Tebal dari Dompet

Siti Patimah • Selasa, 26 Mei 2026 | 10:02 WIB
Kenapa Tidak Berkurban? Ketika Alasan Lebih Tebal dari Dompet
Kenapa Tidak Berkurban? Ketika Alasan Lebih Tebal dari Dompet

 

 

Oleh : Mulyawan Safwandy Nugraha

Setiap menjelang Idul Adha, ada yang selalu datang lebih cepat dari takbir. Bukan kambing. Bukan juga sapi. Tapi alasan. Kalimatnya hampir sama setiap tahun. “Belum bisa kurban. Masih banyak cicilan.” Kalimat ini seperti doa yang dibaca terbalik. Diulang, dihafal, lalu dipercaya sendiri.

Saya tidak ingin menghakimi. Saya juga pernah berada di posisi itu. Tapi kita perlu jujur, walau sedikit saja. Jujur itu kadang tidak nyaman. Tapi dari situlah kita mulai waras.

Coba kita hitung pelan. Tahun ini, berapa kali kita ganti HP? Berapa kali kita nongkrong yang kalau dijumlah bisa jadi satu kaki kambing? Atau berapa cicilan yang kita bayar tepat waktu tanpa pernah lupa? Aneh. Untuk hal dunia, kita disiplin. Untuk kurban, kita jadi filosof. Banyak pertimbangan.

Masalahnya bukan di dompet. Dompet kita sering lebih jujur dari hati kita. Masalahnya ada di prioritas. Kita ini kadang bukan tidak mampu. Kita hanya terlalu pintar memberi alasan.

Padahal kurban itu sederhana. Tidak perlu menunggu kaya. Kalau menunggu kaya, bisa jadi kita wafat duluan sebelum sempat menyembelih kambing. Dalam agama ini, yang diminta bukan kesempurnaan. Yang diminta itu kesungguhan.

Bayangkan satu kecamatan. Dua ribu kepala keluarga. Semua berkurban. Tidak perlu semua sapi. Kambing juga sah. Apa yang terjadi? Daging mengalir ke rumah-rumah yang biasanya hanya akrab dengan tahu dan tempe. Anak-anak yang selama ini hanya lihat daging di warung, hari itu makan dengan gembira. Itu bukan sekadar makan. Itu rasa dihargai.

Kurban itu tidak hanya memberi makan. Ia mengangkat martabat. Yang memberi belajar rendah hati. Yang menerima tidak merasa dikasihani. Ada doa di situ. Ada rasa persaudaraan yang tidak dibuat-buat.

Kalau itu terjadi setiap tahun, kita tidak perlu banyak seminar tentang keadilan sosial. Cukup hidupkan kurban. Selesai sebagian masalah.

Sekarang soal caranya. Ini yang sering dianggap rumit, padahal sederhana. Satu kambing, misalnya satu setengah juta. Dibagi setahun. Sekitar empat ribu per hari. Ini lebih murah dari kopi yang kadang kita minum sambil bilang hidup lagi berat.

Kalau empat ribu masih terasa berat, mungkin yang berat bukan uangnya. Tapi niatnya.

Buat saja amplop kecil. Tulis di situ, “Menuju Allah.” Masukkan uang tiap hari. Tidak usah banyak. Yang penting rutin. Lama-lama jadi kambing. Kalau mau lebih ringan lagi, patungan sapi. Tujuh orang. Nabi juga mengajarkan itu. Jadi tidak perlu gengsi.

Yang perlu kita ubah itu cara pandang. Kurban bukan pengeluaran. Ini cara kita membersihkan hati dari rasa memiliki yang berlebihan. Kita ini sering merasa punya segalanya. Padahal kita hanya dititipi sebentar.

Ibrahim tidak menunggu cukup. Ia taat dulu. Baru Allah cukupkan. Kita sering terbalik. Kita ingin cukup dulu, baru taat. Akhirnya tidak pernah dua-duanya.

Maka jangan tanya lagi, “Saya mampu atau tidak?” Itu pertanyaan lama. Jawabannya juga lama. Tidak ke mana-mana.

Coba tanya yang lebih jujur, “Saya ini sebenarnya mau atau tidak?”

Kadang jawabannya sederhana. Kita mau ganti HP. Tapi belum tentu mau berkurban.

Dan itu bukan soal ekonomi. Itu soal hati.
Ayo berkurban...

Editor : Siti Patimah, SH
#Kenapa Tidak Berkurban? Ketika Alasan Lebih Tebal dari Dompet #kurban