SEMARAPURA, Radar Bali.id – Cuaca ekstrem berupa guyuran hujan deras yang melanda wilayah Kabupaten Klungkung sejak Senin (25/5/2026) malam hingga Selasa (26/5/2026) pagi memicu rentetan bencana alam.
Selain laporan genangan banjir di sejumlah titik, bencana hidrometeorologi ini juga memicu tanah longsor parah yang menggerus jalur vital infrastruktur.
Baca Juga: Senderan Jebol, Rumah Kos di Peguyangan Nyaris Ambruk, 14 Jiwa Terdampak, Akses Jalan Putus Total
Badan jalan utama yang menghubungkan Desa Getakan menuju Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, dilaporkan amblas dan nyaris putus total.
Perbekel Desa Getakan, Cokorda Putra Parwata, membeberkan bahwa bencana amblasnya jalan penghubung antar-desa tersebut pertama kali diketahui warga pada Selasa (26/5) dini hari sekitar pukul 02.00 Wita.
"Awalnya bagian senderan bawah jalan yang jebol tergerus air, kondisi itu membuat pagar pengaman tebing di atasnya langsung melayang kehilangan tumpuan dasar. Selang beberapa saat, sedikit demi sedikit aspal badan jalan ikut rontok dan amblas ke jurang. Untuk antisipasi awal agar tidak semakin meluas dikikis air hujan, lokasi langsung kami tutupi kain terpal," terang Cok Parwata saat dikonfirmasi pada Rabu (27/5).
Dampak longsor tersebut juga memutus fasilitas umum lainnya. Satu tiang lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) yang berdiri di lokasi ikut tumbang dan hanyut terbawa material longsor ke dasar jurang. Cok Parwata berharap pihak pemerintah daerah bisa segera turun tangan melakukan perbaikan darurat sebelum jalur tersebut putus total. "Kami sudah memasang plang larangan melintas di sana. Untuk sementara waktu, kendaraan roda empat atau mobil dilarang keras melewati jalur ini karena sangat riskan," imbuhnya cemas.
Merespons laporan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Utama, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Kabupaten Klungkung, I Made Jati Laksana, mengaku tim teknisnya sudah terjun ke lapangan untuk melakukan opname dan pemetaan dampak kerusakan.
Berdasarkan hasil cek fisik di lapangan, dimensi kerusakan jalan yang amblas tergolong cukup masif. "Panjang jalan yang amblas mencapai sekitar 15 meter dengan kedalaman jurang tebing mencapai 20 meter. Sebagai penanganan darurat di lapangan, kami sudah memasang rambu peringatan dan garis polisi (police line), serta menutup area tanah yang terbuka dengan terpal agar air tidak terus mengikis struktur tanah," kata Jati Laksana.
Disinggung mengenai kepastian perbaikan, Jati Laksana menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menunggu anggaran induk tahun depan. Proses perbaikan permanen akan langsung dieksekusi dengan memanfaatkan pos anggaran rutin kebencanaan yang dimiliki dinas pada tahun anggaran 2026 ini, di mana total plafonnya mencapai Rp4 miliar.
"Saat ini tim kami sedang menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk menghitung detail kebutuhan penanganan fisik senderan dan pengaspalan ulang jalan tersebut agar bisa segera dikerjakan," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita