AYO, DISIPLIN SANITASI! Puluhan Babi di Tejakula Mati Mendadak Akibat Demam Babi Afrika, Distankan Buleleng Warning Peternak

Francelino Junior • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 06:26 WIB
Ilustrasi virus penyakit babi. (ilustrasi gemini/radar bali)
Ilustrasi virus penyakit babi. (ilustrasi gemini/radar bali)

SINGARAJA, Radar Bali.id - Ancaman kasus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika kembali menghantui Kabupaten Buleleng.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, puluhan ekor babi milik peternak rumahan dilaporkan mati mendadak di wilayah Kecamatan Tejakula pada minggu lalu.

Baca Juga: Awas! Virus ASF Merebak Lagi, Peternak Diminta Disiplin Terapkan Biosekuriti dan Disinfektan, Lockdown?

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Buleleng pun langsung bergerak cepat mengimbau para peternak untuk memperketat sanitasi kandang.

Baca Juga: VIRUS ASF Merebak, Disperpa Badung Gencarkan Biosecurity, Begini Bahayanya

Kepala Distankan Buleleng, Gede Melandrat mengungkapkan bahwa temuan kasus ASF ini memang menjadi tantangan berat.

Penyakit ini tergolong sangat berbahaya karena polanya yang sulit diprediksi, sering kali tanpa menunjukkan gejala klinis awal, namun langsung menyebabkan kematian mendadak pada ternak babi.

”Sekitar 25 babi mati mendadak di wilayah Kecamatan Tejakula. Kasusnya tidak mengelompok dalam satu blok, melainkan menyebar di beberapa pemilik yang merupakan peternak rumahan. Untuk umur babinya rata-rata sudah enam bulan,” ujar Gede Melandrat saat dikonfirmasi pada Kamis 28/5/2026.

Pihak dinas mengakui tidak dapat mengambil sampel bangkai babi tersebut. Langkah ini sengaja dihindari guna mencegah risiko penyebaran virus yang berpotensi terbawa keluar dari wilayah terinfeksi. Terlebih lagi, setelah babi dipastikan mati mendadak, para peternak langsung mengubur atau membakarnya demi memutus rantai penularan.

Melandrat mengingatkan masyarakat bahwa kunci utama pencegahan dan pengendalian virus ASF ini adalah membatasi kunjungan ke kandang yang diduga atau telah terinfeksi. Kebiasaan saling menjenguk antartetangga atau sesama peternak saat ada hewan yang sakit justru mempercepat perluasan wabah.

Selain pembatasan akses, menjaga kebersihan dan sanitasi kandang menjadi hal yang mutlak karena penularan ASF paling banyak dipicu oleh lingkungan kandang yang kotor. Hingga saat ini, belum ada obat maupun antivirus resmi untuk menyembuhkan penyakit ini.

”Jika memungkinkan, optimalkan penggunaan pakan dari bahan lokal. Jangan asal membeli pakan dari luar daerah yang belum jelas higienitasnya, sebab penularan ASF ini juga sangat rentan terjadi melalui media pakan,” tegas Melandrat. [*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
wabah ternak babi sanitasi ASF buleleng