TABANAN, Radar Bali.id – Misteri hilangnya I Komang S, 12, remaja asal Banjar Jambe Baleran, Desa Dajan Peken, Tabanan yang terseret arus di Pantai Yeh Gangga belum juga terpecahkan.
Hingga memasuki hari keempat pencarian pada Minggu, (31/5/2026), tim SAR gabungan masih berjibaku menyisir perairan dan daratan meski hasil masih nihil.
Upaya pencarian siswa SMP ini dilakukan dengan mengerahkan segala sumber daya, termasuk teknologi udara. Basarnas menerjunkan drone untuk memantau area yang sulit dijangkau secara visual dari darat maupun laut.
Komandan Tim (Dantim) Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Dudi Librana Marjaya menjelaskan bahwa radius pencarian kini diperluas. "Kami menyisir radius 2,5 kilometer ke arah barat dan 1,5 kilometer ke arah timur dari titik lokasi kejadian. Pengamatan udara lewat drone juga kami optimalkan," jelas Dudi di lokasi kejadian.
Meski cuaca terpantau cerah, alam seolah menjadi tantangan utama. Gelombang laut yang tinggi, kondisi air yang pasang, serta embusan angin kencang di pesisir Tabanan menyulitkan tim untuk melakukan penyisiran secara maksimal.
"Kendala utama adalah ombak yang kurang mendukung karena air sedang pasang dan angin cukup kencang," tambahnya. Jika korban belum ditemukan, tim berencana memperluas kembali radius pencarian dengan tetap memantau situasi di lapangan.
Di sisi lain, Kapolsek Tabanan Kompol I Gusti Putu Dharmantha menyampaikan bahwa pencarian dilakukan melalui dua jalur. Tim menggunakan rubber boat untuk menyisir perairan, sementara penyisiran darat melibatkan bantuan dari Krama Banjar Jambe Baleran.
Selain upaya teknis (sekala), pihak keluarga korban juga menempuh jalur spiritual (niskala). Ritual nunas piuning telah dilaksanakan di Pura Batu Bolong. Menariknya, pemangku setempat sempat mengalami kerauhan (kesurupan) yang memberikan petunjuk bahwa posisi korban berada di sebelah barat pura.
Keluarga didampingi Jero Mangku juga menggelar prosesi Mapakeling di lokasi tempat korban terseret ombak. "Prosesi Mapakeling ini merupakan bentuk permohonan kepada Dewa Baruna sebagai penguasa laut, dengan harapan besar agar korban bisa segera ditemukan," tandas Kompol Dharmantha.
Peristiwa nahas ini bermula pada Kamis, 28/5/2026 sekitar pukul 15.30 wita. Saat itu, korban datang ke pantai bersama rekannya, Restu Muhamad Fadilah, untuk berenang. Namun, keduanya tiba-tiba tergulung ombak besar. Restu berhasil menyelamatkan diri, sementara Komang S terseret ke tengah laut meski rekannya sempat berusaha menarik tangannya namun gagal karena kuatnya arus. [*]
Editor : Hari Puspita