Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kota Singaraja memicu duka mendalam. Perubahan cuaca yang mendadak dari panas terik ke hujan lebat pada Jumat (12/6/2026) siang, mengakibatkan banjir bandang di sejumlah titik. Nahas, bencana ini menelan satu korban jiwa yang hanyut terbawa arus.
INI memang mengagetkan. Korban diketahui bernama Ricardo Razaq Alghivieri, 20. Mahasiswa semester dua Prodi Ilmu Komputer, Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik dan Kejuruan Undiksha ini tinggal di Perum Griya Mahadewa Blok A4, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng.
Baca Juga: Longsor di Karangasem : Akses Jalan Raya Tertutup, Sejumlah Warga Terpaksa Mengungsi
Remaja asal Kampung Kajanan ini dilaporkan hanyut bersama sebagian bangunan rumahnya yang tergerus luapan air.
Baca Juga: Mengenal Fenomena Super New Moon: Dampak Gravitasi hingga Ancaman Banjir Rob di Pesisir
Ibu korban, Siti Sofana Syamsia, 43, menceritakan detik-detik mencekam sebelum anak sulungnya itu hilang terseret arus sekitar pukul 13.00 Wita. Menurutnya, saat air mulai naik, Ricardo sempat keluar rumah dan memperingatkan keluarga bahwa luapan air semakin meninggi. Ia meminta orang tuanya tetap di dalam rumah agar tidak panik.
”Setelah itu, saya bilang 'nak kok (temboknya) retak?' Dia langsung minta saya keluar, sedangkan dia masuk ke dalam. Setelah itu bangunan langsung ambruk. Dia sebenarnya belum jatuh. Tapi tiba-tiba terpeleset, terperosok, dan langsung tenggelam,” tutur Siti dengan nada bergetar.
Melihat sang kakak terperosok, sang adik, Raffi Alief Alvaro, 13, bersama ibunya langsung spontan mencoba melakukan penyelamatan. Raffi sempat meraih sebatang bambu dan menyodorkannya ke arah hilir karena tangan kakaknya masih sempat terlihat di permukaan air. Namun, derasnya arus membuat upaya tersebut gagal.
Kabar hanyutnya korban langsung memicu aksi cepat warga setempat untuk melakukan pencarian awal. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke Pos Pencarian dan Pertolongan (SAR) Buleleng. Sekitar pukul 14.00 Wita, tim gabungan dari SAR, Polres Buleleng, dan BPBD Buleleng diterjunkan ke lokasi untuk menyisir area.
Petugas membagi tim menjadi beberapa Search and Rescue Unit (SRU). Ada yang menyisir sekitar lokasi kejadian, hingga ke arah hilir di pinggir Pantai Penimbangan. Memasuki sore hari, volume air yang mulai menyurut dimanfaatkan tim untuk mengintensifkan pencarian ke arah utara dari titik awal korban terjatuh.
Titik terang akhirnya muncul sekitar pukul 16.15 Wita. Berkat informasi dari masyarakat sekitar, posisi korban berhasil terdeteksi di dalam saluran air. Kondisinya cukup memprihatinkan karena berada di bawah reruntuhan bangunan dan tertimbun material pasir. Dari luar, petugas hanya bisa melihat bagian kaki dan kepala korban yang mengintip di balik puing-puing.
Proses evakuasi pun berjalan dramatis dan penuh kehati-hatian. Struktur puing yang labil membuat petugas tidak bisa gegabah.
”Kami lakukan evakuasi secara manual, karena sangat berisiko. Reruntuhan bangunan tidak stabil kalau dipaksakan secepat mungkin. Korban akhirnya berhasil dievakuasi pelan-pelan sekitar pukul 17.05 Wita. Jenazah langsung dibawa ke RSUD Buleleng,” terang Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Buleleng, Kadek Donny Indrawan. [*]
Editor : Hari Puspita