AMLAPURA, Radar Bali.id – Industri peternakan rakyat di Kabupaten Karangasem tengah diguncang kecemasan hebat.
Di tengah jeratan kondisi merugi akibat puluhan ekor babi yang mati secara misterius, para peternak kini dibuat makin resah.
Pasalnya, hingga saat ini belum ada jawaban resmi dari otoritas terkait mengenai penyebab pasti kematian massal hewan ternak tersebut.
Salah seorang peternak rakyat di wilayah Desa Bungaya, Ketut Tampi mengaku sangat was-was dengan merebaknya fenomena ini. Di kandang miliknya saat ini, ia memelihara sembilan ekor babi yang terdiri dari indukan dan anakan.
”Saya jadi khawatir sekali. Takutnya seperti kasus yang dulu, banyak sekali babi mati massal karena virus ASF,” tuturnya dengan nada cemas, Minggu (28/6/2026).
Guna mengantisipasi penularan, beberapa peternak di Karangasem kini terpaksa menerapkan proteksi ekstra ketat secara mandiri.
”Saya mulai lakukan pembatasan kunjungan ke kandang. Bahkan kalau ada pembeli yang mau mengambil babi, badan dan pakaiannya saya semprotkan disinfektan terlebih dahulu,” imbuh Tampi.
Selain memperketat akses, kebersihan sanitasi kandang pun kini semakin ditingkatkan secara berkala. Tampi dan peternak lainnya tidak ingin kecolongan hingga memicu kerugian materi yang lebih besar. ”Semoga tidak sampai sekolaps dulu. Kami sangat berharap ada penanganan cepat dari pemerintah agar kematian babi ini tidak meluas,” ucapnya penuh harap.
Berdasarkan data yang dihimpun, sejak sebulan belakangan ini tercatat ada puluhan ekor babi mati mendadak di Karangasem tanpa diketahui penyebab pastinya.
Salah satu lonjakan kasus ditemukan di wilayah Desa Seraya Barat. Berdasarkan laporan resmi yang masuk ke Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem, sebaran kasus kematian babi juga merembet ke wilayah lain.
Di Desa Pertima, total ada 17 ekor babi yang dilaporkan mati. Selanjutnya di wilayah Timbrah tercatat ada 5 ekor babi mati, dan laporan terbaru di wilayah Perasi menunjukkan ada 10 ekor babi yang mengalami nasib serupa.
Merespons kondisi ini, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskeswan Kabupaten Karangasem dilaporkan telah turun ke beberapa titik lokasi kejadian untuk melakukan investigasi dan mengambil sampel.
Dari penuturan para peternak kepada petugas Puskeswan, gejala klinis sebelum babi-babi tersebut mati memang sangat mirip dengan babi yang terinfeksi African Swine Fever (ASF).
Di antaranya meliputi nafsu makan yang mendadak hilang total, kondisi fisik lemas, serta munculnya bintik-bintik kemerahan yang khas pada areal daun telinga babi. [*]
Editor : Hari Puspita