NEGARA, Radar Bali.id – Penanganan bangkai paus bungkuk yang terdampar di pesisir Pantai Perancak, Kecamatan Jembrana, ternyata belum tuntas sepenuhnya.
Tapi, baru dua hari dikubur, bangkai mamalia laut sepanjang 7,70 meter tersebut kembali muncul ke permukaan pada Kamis (16/7/2026) pagi.
Baca Juga: Terkendala Pasang, Akhirnya Bangkai Paus Sperma Bisa Dikubur
Kemunculan kembali bangkai Megaptera novaeangliae tersebut diduga dipicu oleh tergerusnya pasir lokasi penguburan akibat sapuan air laut pasang.
Sontak, fenomena ini menarik perhatian warga serta pengguna jalan yang melintas di kawasan pantai.
Baca Juga: Paus Raksasa Bertanduk 8 Meter Terdampar di Pantai Perancak, Warga Terpental Terkena Kibasan Ekor
Perbekel Perancak, I Nyoman Wijana, membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan dari masyarakat terkait munculnya kembali bangkai paus tersebut. Setelah ditinjau ke lokasi, sebagian badan paus memang mencuat keluar dari timbunan pasir akibat abrasi dan hempasan gelombang.
”Laporan dari warga menyebutkan bangkai paus kembali muncul karena lokasi penguburannya tergerus air laut pasang,” ujar Wijana saat dikonfirmasi, Kamis (16/7/2026).
Menurut Wijana, peristiwa ini menjadi bahan evaluasi penting agar penanganan bangkai satwa laut berukuran besar ke depan tidak dilakukan terlalu dekat dengan garis pantai. Karakter ombak dan pasang surut di pesisir Perancak tergolong sangat dinamis sehingga rentan mengikis struktur tanah penguburan.
Pihak Desa Perancak berharap instansi teknis terkait segera melakukan evakuasi dan penguburan ulang di titik yang lebih tinggi dan aman dari jangkauan ombak. Penanganan cepat dinilai krusial agar tidak menimbulkan polusi udara berupa bau menyengat yang dapat mengganggu warga maupun wisatawan.
Seperti diberitakan sebelumnya, paus bungkuk tersebut ditemukan terdampar dalam kondisi mati pada Selasa (14/7/2026). Petugas sempat melakukan tindakan nekropsi untuk mengetahui kondisi biologis mamalia dilindungi tersebut sebelum akhirnya dikubur. Namun, kuatnya abrasi pantai membuat kuburan pasir tersebut kembali terbongkar alami.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali