NEGARA, Radar Bali.id – Memasuki puncak musim kemarau, kasus kebakaran lahan di Kabupaten Jembrana mulai menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Dalam sepekan terakhir saja, sedikitnya terjadi tiga peristiwa kebakaran lahan di lokasi berbeda. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, petugas pemadam kebakaran hampir setiap hari menerima laporan amukan si jago merah.
Baca Juga: Badah! Tak Kunjung Padam, Kebakaran Hutan di Lereng Gunung Agung Malah Meluas Lagi
Kondisi tersebut memaksa personel Pemadam Kebakaran (Damkar) Jembrana siaga penuh untuk merespons setiap laporan masyarakat. Langkah cepat dilakukan agar kobaran api tidak meluas, mengganggu aktivitas warga, maupun merembet ke kawasan permukiman padat.
Terbaru, kebakaran lahan kembali melanda Kabupaten Jembrana pada Rabu, 22/7/2026. Lahan kosong seluas sekitar 10 are di Banjar Rangdu, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo mendadak terbakar sekitar pukul 10.45 Wita. Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh seorang warga yang melintas, yang kemudian langsung melaporkannya ke Mako Damkar Jembrana.
Regu I Damkar yang sedang bersiaga tiba di lokasi sekitar sembilan menit setelah menerima laporan. Sebanyak tiga armada dikerahkan untuk menjinakkan si jago merah. Proses pemadaman berlangsung intensif selama kurang lebih dua jam dengan menghabiskan pasokan air hingga 15.000 liter.
Tidak ada korban jiwa maupun kerugian material bangunan yang dilaporkan dalam kejadian tersebut. Namun, penyebab pasti munculnya titik api masih belum diketahui. Peristiwa ini makin menambah deretan kasus kebakaran lahan di Jembrana seiring meningkatnya potensi bencana pada musim kemarau.
Kasatpol PP Jembrana I Ketut Eko Suailo Artha Permana menyatakan bahwa pada musim kemarau, potensi kebakaran memang melonjak drastis. Vegetasi dan lahan yang mengering membuat api sangat cepat menyebar saat ada pemicu. ”Petugas Damkar selalu bersiaga agar dapat secepat mungkin menuju lokasi saat menerima laporan. Upaya kami adalah membantu mengamankan masyarakat dengan memadamkan api sebelum meluas dan membahayakan permukiman,” ujarnya.
Menurut Eko, sebagian besar kebakaran lahan dipicu oleh kelalaian manusia. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih waspada dalam beraktivitas, terutama yang berhubungan dengan penggunaan api di ruang terbuka.
Pihaknya mengimbau warga agar tidak sembarangan membakar sampah saat cuaca panas dan berangin tajam, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan. ”Musim kemarau membuat risiko kebakaran lebih tinggi. Kami mengajak masyarakat bersama-sama mencegah kebakaran dengan lebih berhati-hati. Jangan membakar sampah sembarangan, jangan membuang puntung rokok sembarangan, dan hindari segala hal yang dapat memicu kebakaran,” tegasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali