Gelar Piknik Waras, AJI Denpasar Suarakan Isu Ekologi hingga Peringatkan Bahaya Pemerintah yang Penuh Penjilat

Marsellus Pampur • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 03:45 WIB
PIKNIK WARAS : (Dari kiri) Ngurah Suryawan, Ni Kadek Novi Febriani dan Ni Komang Yuko Utami, saat diskusi di acara piknik waras. (foto:AJI Denpasar)
PIKNIK WARAS : (Dari kiri) Ngurah Suryawan, Ni Kadek Novi Febriani dan Ni Komang Yuko Utami, saat diskusi di acara piknik waras. (foto:AJI Denpasar)

DENPASAR, Radar Bali.id – Memperingati hari jadi ke-32 Aliansi Jurnalis Independen (AJI), AJI Denpasar menggelar kegiatan unik bertajuk "PIKNIK WARAS: Merawat Akal Lewat Diskusi, Menjaga Fisik dengan Berlari" di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (8/8/2026).

Baca Juga: Buntut Peristiwa Demo Agustus 2025: Kasus Kekerasan Jurnalis DetikBali Naik Sidik, LBH dan AJI Denpasar Desak Penetapan Tersangka Oknum Polisi

Mengusung konsep piknik santai di ruang terbuka hijau sembari membuka lapak baca, puncak acara diisi diskusi kritis bertema Refleksi Tri Hita Bencana di Tengah Kondisi Bali Sekarang dan Mendatang.

Diskusi yang dipandu Koordinator Divisi Pendidikan AJI Denpasar, Ni Komang Yuko Utami ini bertujuan merawat nalar kritis jurnalis dan masyarakat luas di tengah ancaman bencana lingkungan di Bali.

Yuko menjelaskan bahwa konsep piknik sengaja dipilih agar interaksi berjalan lebih cair namun tetap menyentuh esensi persoalan. "Pendekatan refleksi dengan konsep piknik di ruang terbuka hijau publik ini menjadi cara menjalin interaksi yang lebih cair tapi tetap serious. Termasuk menjalin percakapan kritis antar lintas generasi merespons berbagai hal tentang Bali dan ruang hidup kita," ungkapnya.

Buku karya akademisi dan antropolog I Ngurah Suryawan berjudul Tri Hita Bencana: Ekonomi Politik Keserakahan Manusia Bali Kontemporer menjadi pemantik utama. Berhadir langsung sebagai pembicara, Suryawan menegaskan bahwa kehancuran lingkungan di Bali tidak hanya disebabkan oleh oligarki, tetapi diperparah oleh hadirnya kelas komprador.

"Yang saya lihat, dari dulu ada kelas komprador. Menjilat ke atas dan menekan ke bawah," tegas alumni UGM Jogjakarta tersebut. Ia menambahkan, bukunya setebal 150 halaman itu memang diterbitkan sengaja sebagai pemantik gerakan sosial.

Suryawan juga membedah sejarah ruang di Bali pascaperistiwa 1965, intervensi kapital, hingga fenomena budaya yang kerap menegasikan peran perempuan dalam ritus adat. "Selalu yang ditampilkan adalah soal dana upakara, ditambah fenomena bansos, namun lupa akan andil tubuh perempuan yang paling lelah menyiapkan semuanya," jelasnya.

Sementara itu, Ketua AJI Denpasar, Ni Kadek Novi Febriani menyampaikan bahwa pada usia ke-32 yang jatuh pada Jumat (7/8/2026), AJI mengusung tema nasional "Bertahan, Bersuara, Berkarya". Melalui kegiatan ini, AJI Denpasar ingin menekankan pentingnya independensi jurnalis dalam meliput isu ekologi.

"Sama halnya dengan kondisi ekologi di Bali yang semakin mengkhawatirkan, alam sering kali dianggap sekadar aset yang bisa diperas. Maka, jurnalis yang meliput isu ekologi harus menjadi penjernih dan berpihak pada kemanusiaan. Tidak bisa netral," tegas Febri.

Di penghujung diskusi, para peserta yang terdiri dari perwakilan organisasi pers (PWI Bali, PFI Denpasar, IWO Bali, IJTI Bali), pers mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum menuliskan keluh kesah terkait isu publik, seperti minimnya fasilitas transportasi umum di Bali. Acara kemudian ditutup dengan lari bersama sejauh 3,2 kilometer menuju Sekretariat AJI Denpasar di Jalan Sedap Malam sebagai simbolisasi 32 tahun usia AJI. [*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
ultah kerusakan lingkungan tri hita karana diskusi aji denpasar