NEGARA, Radar Bali.id – Memasuki puncak musim kemarau pada bulan Agustus, ancaman kebakaran lahan di Kabupaten Jembrana kian meningkat.
Dalam beberapa pekan terakhir, petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) lebih sering menerima laporan kebakaran yang dipicu vegetasi serta material kering yang mudah terbakar.
Baca Juga: Gunung Bromo Terbakar, Helikopter Dikerahkan Lakukan Water Bombing
Masyarakat mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan agar musibah tidak meluas.
Terbaru, kebakaran lahan kembali melanda Kabupaten Jembrana. Api melalap lahan kebun serta tumpukan sekam di Banjar Petanahan, Desa Batu Agung, Kecamatan Jembrana pada Sabtu (8/8/2026) siang. Beruntung, kobaran api berhasil dipadamkan sebelum merembet lebih luas ke permukiman warga.
Kepala Seksi Pemadam dan Penyelamatan Jembrana, Kade Bagus Darmawan, mengatakan laporan kebakaran masuk sekitar pukul 13.41 Wita. Informasi pertama disampaikan oleh warga yang melihat kobaran api muncul dari tumpukan sekam milik usaha penggilingan padi.
"Api awalnya membakar sebagian tumpukan sekam, kemudian merembet ke lahan kebun milik warga di sekitarnya. Petugas langsung bergerak setelah menerima laporan," ujarnya.
Regu piket Damkar yang berjaga di Mako Damkar tiba di lokasi hanya dalam waktu sekitar lima menit. Sebanyak tiga unit armada dikerahkan untuk memadamkan api. Proses pemadaman berlangsung sekitar satu jam dengan menghabiskan total 11.500 liter air untuk menjinakkan api yang membakar lahan seluas kurang lebih 10 are tersebut.
Hingga proses pemadaman selesai, tidak ada korban jiwa maupun kerugian material bernilai besar yang dilaporkan. Sementara itu, penyebab pasti kemunculan api masih dalam penelusuran petugas.
Kade Bagus Darmawan mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Cuaca panas dan kondisi lahan yang kering membuat api sangat mudah menyebar, terlebih jika terdapat tumpukan jerami, sekam, maupun rumput kering.
"Kami mengimbau masyarakat tidak membakar sampah atau sisa pertanian sembarangan serta segera melapor apabila menemukan titik api agar bisa ditangani lebih cepat dan tidak meluas," tegasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali