Belakangan ini banyak dikritik dan di-bully warganet di media sosial (medsos) soal pidatonya, tapi kedatangan Presiden RI Prabowo Subianto ke Gilimanuk, Jembrana, Selasa (25/8/2026), masih punya magnet tersendiri bagi sebagian warga. Sejak siang, masyarakat hingga pelajar berjubel di sepanjang jalur yang akan dilalui kepala negara.
MEREKA menunggu berjam-jam hanya untuk melihat langsung Presiden Prabowo. Presiden dijadwalkan melakukan groundbreaking proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar di Gilimanuk.
Baca Juga: Subsidi BBM Dipangkas Separo Tahun Depan, Prabowo Dorong Ekosistem Kendaraan Listrik
Pantauan di lokasi, Lapangan Gilimanuk menjadi salah satu titik yang dipadati warga. Lapangan tersebut disiapkan sebagai lokasi pendaratan helikopter yang membawa Presiden Prabowo beserta rombongan. Dari sana, rombongan kepala negara dijadwalkan bergerak menuju lokasi groundbreaking di sisi barat Monumen Lintas Laut Gilimanuk.
Meski kedatangan Presiden dijadwalkan sekitar pukul 15.00 Wita, antusiasme warga sudah terlihat sejak beberapa jam sebelumnya. Sejumlah pelajar bahkan ikut berjajar di pinggir jalan untuk menyambut orang nomor satu di Indonesia tersebut.
Kesibukan di lokasi semakin terlihat menjelang agenda utama. Sekitar pukul 12.30 Wita, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo, bersama jajaran pemerintah daerah turun langsung mengecek kesiapan lokasi groundbreaking.
Kunjungan Prabowo ke ujung barat Bali ini bukan sekadar seremoni. Gilimanuk menjadi salah satu lokasi penting dalam program pengembangan PLTS skala besar yang menjadi bagian dari agenda transisi energi nasional.
Di site Gilimanuk, PLTS dirancang berdiri di atas lahan sekitar 321 hektare. Kapasitas pembangkit yang disiapkan mencapai 300 MWp, dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 1.000 MWh. Nilai investasi proyek ini juga tidak kecil.
Total capital expenditure (capex) diperkirakan mencapai Rp9,157 triliun. Pembangkit tersebut nantinya terkoneksi dengan jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV jalur Negara-Gilimanuk.
Jika sesuai target, PLTS Gilimanuk ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau commercial operation date (COD) pada 2028. Pengembangan pembangkit menggunakan skema independent power producer (IPP). Dalam skema tersebut, pembayaran tenaga listrik dibedakan menjadi energy payment untuk PLTS dan capacity payment untuk sistem penyimpanan energi atau BESS.
Tak hanya mengejar tambahan pasokan listrik, proyek ini juga diproyeksikan memangkas ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM). Site Gilimanuk diperkirakan mampu menghasilkan energi sekitar 470 GWh sekaligus mengurangi penggunaan BBM hingga sekitar 151 ribu kiloliter setiap tahun.
Secara lebih luas, pengembangan energi surya di Bali ditargetkan mencapai kapasitas 1.000 MWp PLTS dengan dukungan BESS sebesar 3.300 MWh. Jika seluruh pengembangan tersebut beroperasi penuh, penggunaan BBM di Bali diproyeksikan dapat ditekan hingga sekitar 500 ribu kiloliter per tahun.
Bagi Jembrana, pembangunan PLTS skala raksasa tersebut sekaligus menempatkan Gilimanuk sebagai salah satu titik penting dalam peta pengembangan energi bersih di Bali. Groundbreaking yang dilakukan Presiden Prabowo menjadi penanda dimulainya proyek yang ditargetkan mengubah wajah pasokan energi di Pulau Dewata. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali