Sebelum Kebakaran, Lurah Legian Kerap Tegur Aksi Bakar Sampah Warga di Gudang Rongsokan

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 21:54 WIB
TIM POLDA BALI: Mobil rantis Polda Bali masih menyemprot kepulan asap dari puing-puing kebakaran gudang rongsokan di Legian Kuta, Rabu (2/9/2026). (ADRIAN SUWANTO/radarbali.id)
TIM POLDA BALI: Mobil rantis Polda Bali masih menyemprot kepulan asap dari puing-puing kebakaran gudang rongsokan di Legian Kuta, Rabu (2/9/2026). (ADRIAN SUWANTO/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Kobaran api melahap kawasan permukiman, gudang rongsokan, dan bedeng di Banjar Margaya, Desa Pemecutan Kelod, yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Legian pada Senin dini hari (31/8/2026). 

Jauh sebelum kebakaran hebat itu,  Lurah Legian kerap mendapati warga setempat membakar sampah sembarangan, hingga Linmas berulang kali harus turun tangan menegur karena kepulan asapnya mengusik kenyamanan warga Legian.

​Dampak dari amukan si jago merah Senin (31/8)  meluas. Bukan hanya warga sekitar yang merugi, para wisatawan dan pelaku usaha turut merasakan sesaknya udara akibat pekatnya kepulan asap.

"Dampak asap dirasakan warga sekitar Jatayu, Nakula dna Dewi Sri," katanya. 

​Lurah Legian, Ni Putu Eka Martini, saat ditemui dalam wawancara pada hari Selasa (1/9/2026), menuturkan  pihaknya langsung bergerak cepat menerjunkan jajaran Linmas untuk berjibaku melakukan pengamanan bersama armada Pemadam Kebakaran (Damkar) sejak pukul 22.30 Wita.

​"Situasi sempat panik dan berdekatan dengan lingkungan Jatayu-Nakula. Kepanikan luar biasa karena kencangnya api dan asap. Linmas kami atensi sampai selesai karena pemadaman berlangsung cukup lama mengingat medan yang sulit dijangkau armada Damkar," ungkap Lurah Eka.

​Di tengah musibah yang terjadi di batas dua wilayah tersebut, solidaritas warga Kelurahan Legian spontan yang bahu-membahu untuk menyumbangkan  makanan serta logistik untuk meringankan beban korban terdampak di Dusun Margaya.

"Warga kami dari Jatayu memberikan logistik kepada warga terdampak di wilayah Dusun Margaya, Pemecutam Kelod,"terangnya. 

Kendati di balik musibah memang  terdapat  persoalan menahun. Pihak kelurahan sebelumnya telah berulang kali berinisiatif memediasi gesekan akibat pembakaran sampah mandiri tersebut.

Sayangnya, berakhir tanpa solusi dan jalan keluar. Meski terus dilakukan mediasi, hingga akhirnya terjadi bencana berskala besar.

​"Sebelumnya sering ada mediasi terkait aksi pembakaran sampah yang dilakukan warga di lokasi tersebut, yang dampaknya dirasakan langsung oleh warga dan pengusaha di Legian," jelasnya. 

Ia mengenang bagaimana jajaran Linmas Legian kerap harus menegur langsung pelaku pembakaran sampah di area perbatasan agar asapnya tidak terus berdampak pada warga Legian.

​Mengingat lokasi kejadian yang bersisian langsung dengan simpul pariwisata, Lurah Eka mengimbau seluruh pihak tinggal di Dusun Margaya, Pemecutan Kelod  untuk menjaga supaya tidak terjadi musibah kebakaran.

Eka juga menyinggung,  akses menuju lokasi kejadian adalah jalan milik Kabupaten Badung, khususnya Kelurahan Legian. Seperti Jalan Jatayu, Jalan Nakula, dan kawasan perbatasan Badung-Legian harus dijaga ketat agar petaka serupa tak lagi singgah.

"Mohon dengan sangat karena akses menuju lokasi tempat kebakaran menggunakan akses jalan dimiliki Kabupaten Badung yaitu Jalan Jatayu dan Jalan Nakula," sentilnya. 

​Alumnus IPDN, Jawa Barat ini meminta  berhenti melakukan aksi bakar sampah di terlebih menganggu warga lain dan juga berada di salah satu jantung  pariwisata daerah.

"Dampaknya dirasakan langsung oleh Legian sebagai destinasi wisata. Ini sangat tidak diharapkan karena dapat mengganggu stabilitas wisdom, wisman, serta kenyamanan warga kami di sekitar area Jatayu dan lokasi sekitar," pungkasnya.***

 

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
gudang rongsokan Legian Kuta polda bali kebakaran