NEGARA, Radar Bali.id — Munculnya satwa laut berukuran jumbo menggegerkan warga pesisir Pantai Pengeragoan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana pada Sabtu (12/9/2026).
Baca Juga: Kagetkan Warga, Hiu Paus Terdampar Didorong Balik ke Laut
Mamalia laut yang terdampar di perairan dangkal Dusun Pengeragoan Dauh Tukad, Desa Pengeragoan tersebut diduga kuat merupakan spesies hiu paus.
Kehadiran satwa raksasa tersebut pertama kali dilaporkan oleh warga sekitar pukul 08.30 Wita. Menindaklanjuti laporan warga, petugas Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polres Jembrana langsung turun ke lokasi untuk melakukan pemantauan.
Baca Juga: Duh, Tak Tertolong, Paus Sperma yang Terdampar di Pantai Nusasari Akhirnya Mati
Kasat Polairud Polres Jembrana, AKP I Putu Suparta, 48, menyatakan bahwa secara kasatmata satwa tersebut memiliki ciri-ciri fisik yang mengarah pada hiu paus (Rhincodon typus). Ciri mencolok terlihat dari ukuran tubuhnya yang besar memanjang, warna kulit gelap bertotol atau berpola bintik-bintik putih, serta bentuk sirip punggung yang menonjol.
”Dari ciri fisiknya memang mengarah ke hiu paus. Namun untuk memastikan spesies pastinya, kami masih menunggu pemeriksaan langsung dari tim ahli terkait,” ujar Suparta.
Proses pemeriksaan dan penanganan satwa belum bisa dilakukan secara maksimal. Hingga pukul 10.30 Wita, kondisi air laut masih pasang tinggi, sehingga petugas mengalami kesulitan untuk mendekati lokasi satwa di perairan dangkal.
Di tengah antusiasme warga yang berdatangan ke pantai, pihak kepolisian mengimbau agar masyarakat tidak melakukan tindakan gegabah. Satwa berukuran besar dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan jika didekati atau ditangani tanpa prosedur yang benar.
”Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menyentuh, menarik, memukul, menaiki, maupun memindahkan satwa tersebut. Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk JSI (Jaringan Satwa Indonesia),” tegas Suparta.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi pasti dan identifikasi resmi satwa tersebut masih menunggu penanganan lebih lanjut dari tim konservasi. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali