JEMBRANA, RadarBali.id - Keluarga I Gusti Putu Sugiarta, 38, nelayan asal Desa Cupel, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana merasa janggal atas peristiwa yang menimpa almarhum.
Baca Juga: Empat Hari Hilang di Perairan Pulukan, Nelayan Cupel Ditemukan di Perairan Banyuwangi
Pria yang sebelumnya dilaporkan hilang di Perairan Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, justru ditemukan terkubur seadanya di pesisir Pantai Alas Purwo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Keluarga korban menyoroti perbedaan lokasi hingga waktu pelaporan insiden. Suraya, 54, istri korban, menyebut komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 06.41 Wita. Siang harinya, Sugiarta dilaporkan hilang.
”Tetapi kru kapal baru melaporkan Kamis (10/9/2026) siang tanpa memberi tahu keluarga terlebih dahulu. Lokasi kejadian sebenarnya di Perairan Senggrong Banyuwangi, tapi dilaporkan kecelakaan di Perairan Pulukan,” ungkap Suraya pada Senin (14/9/2026).
Pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 23.00 Wita, Suraya sempat mendatangi salah satu kru kapal untuk menanyakan keberadaan suaminya. Namun, kru berdalih tidak ada sinyal dan hanya memberikan uang Rp100 ribu untuk membeli sayur tanpa mengabarkan bahwa Sugiarta telah hilang.
Kejanggalan lain muncul pada Kamis (10/9/2026). Ponsel Sugiarta yang semula pasif mendadak aktif kembali dan baru bisa dihubungi pada Jumat (11/9/2026) malam. Setelah itu, masuk telepon dari seseorang di Banyuwangi yang mengaku menemukan suami Suraya pada Kamis (10/9/2026) dan telah menguburkannya di dekat pantai bersama dua teman korban yang selamat.
Keluarga dan tetangga akhirnya berangkat ke lokasi di Banyuwangi pada Minggu (13/9/2026) siang bersama SH, 36, teman korban yang selamat. Jenazah Sugiarta ditemukan terkubur di kedalaman kurang dari satu meter di pesisir Muncar. Keluarga membongkar makam tersebut lalu mengevakuasi jenazah menggunakan dua sampan menuju Pengambengan, Jembrana, sebelum dilarikan ke RSU Negara.
”Ini masalah nyawa. Suami kerja di laut baru pertama kali dan tidak kenal dekat dengan dua orang ini, karena suami asli Tabanan,” tegas Suraya.
Hasil pemeriksaan luar menunjukkan jenazah mengalami lebam mayat, kulit terkelupas, kaku mayat, kulit kehitaman, perut membesar, serta mengeluarkan bau dan cairan pembusukan.
Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Gede Alit Darmana menjelaskan bahwa pihak keluarga memilih tidak melakukan otopsi meski opsi tersebut telah ditawarkan. Polisi juga menduga terjadi miskomunikasi terkait lokasi kejadian sejak awal.
”Pihak keluarga bilang akan rembuk dulu. Namun pagi ini kami dapat informasi pihak keluarga tidak mau dilakukan otopsi,” tandasnya.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali