Sopir Truk Diduga Dibakar Bos  Alami Luka Bakar 68 Persen dan Tak Miliki Biaya

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 05:36 WIB
KENA MUSIBAH: Keluarga korban yang diduga sopir truk dibakar bos.  (IST/radarbali.id)
KENA MUSIBAH: Keluarga korban yang diduga sopir truk dibakar bos. (IST/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Nasib nahas menimpa I Gede Selamet, 20, pemuda asal Banjar Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali. Ia kini terbaring tak sadarkan diri di ruang intensif luka bakar RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar, akibat dugaan pembakaran yang dilakukan oleh atasannya sendiri tempat ia bekerja sebagai sopir truk.

​Selamet mengalami luka bakar serius seluas 68 persen, masuk kategori derajat 2B hingga 3, disertai trauma inhalasi atau terhirup uap panas. Dokter Spesialis Bedah Plastik RSUP Prof. Ngoerah, dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, menjelaskan bahwa area terparah berada di bagian dada depan hingga melingkar ke belakang, yang membuat korban kesulitan bernapas.

​"Pada pasien ini yang paling berat itu daerah toraks depan, dada depan. Persis kayak baju yang dipakai pasien, sama melingkar sampai belakang. Itu yang dalam," jelas dr. Roy.

​Ia menambahkan, jeratan luka bakar melingkar di dada tersebut membuat korban sangat kesulitan bernapas mandiri. "Luka bakar dengan melingkar di dada, itu risiko untuk pasien itu bernapas sendiri atau sadar baik itu sangat fighting dia, sangat struggle," terangnya.

​Saat ini korban masih ditidurkan atau knockdown dan dipasang ventilator untuk melancarkan oksigenasi. Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr. I Putu Kurniyanta, menyebutkan bahwa tim medis fokus mengamankan jalan napas korban. "Sehingga ketakutan kami ke depan adalah pembengkakan jalan napasnya," ujar dr. Putu Kurniyanta.

SPESIALIS BEDAH: Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr. I Putu Kurniyanta dr. I Putu Kurniyanta, Sp.An-TI dan Dokter  Spesialis Bedah Plastik RSUP Prof. Ngoerah, dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid. (ist/radarbali.id)
SPESIALIS BEDAH: Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr. I Putu Kurniyanta dr. I Putu Kurniyanta, Sp.An-TI dan Dokter Spesialis Bedah Plastik RSUP Prof. Ngoerah, dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid. (ist/radarbali.id)

 

​Terkait proses pemulihan, tim medis memprediksi korban membutuhkan 10 hingga 12 kali tindakan operasi cangkok kulit secara bertahap jika mampu melewati masa kritis dua minggu pertama. dr. Roy juga menekankan tingginya risiko medis akibat kombinasi luka bakar dan trauma inhalasi.

"Kalau dia luka bakar 68% tanpa trauma inhalasi, itu masih survivable, masih bisa. Tapi dengan adanya trauma inhalasi itu 300 kali lipat angka kematiannya," tegasnya.

Penderitaan keluarga Selamet kian bertambah akibat kendala biaya. Status perawatan korban ditetapkan sebagai pasien umum dan tidak di-cover BPJS Kesehatan karena dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Paman korban, I Nengah Sridana, mengungkapkan  tagihan pengobatan sementara telah membengkak.

​"Total rincian pengeluaran untuk sementara per hari ini mulai dari masuk sampai sekarang sudah Rp63 juta. Pada tindakan pertama saja kata dokter butuh Rp19 juta sekian," ucap Sridana.

​Keluarga Selamet yang merupakan masyarakat kurang mampu dengan orang tua bekerja sebagai petani dan pedagang kecil kini harus mengandalkan bantuan. Sejatinya Gede Selamet selama ini tulang punggung keluarga.

"Ini juga mengandalkan donasi dari teman-teman. Kami butuh bantuan untuk biaya hidup selama menemani di sini dan biaya obat selanjutnya agar dokter bisa mengambil tindakan," tambah Sridana.

​Di tengah kesulitan tersebut, Sridana mengungkap adanya iktikad dari pihak keluarga pelaku. Keluarga pelaku sempat mendatangi keluarga korban untuk berdamai, berjanji menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat keluarga korban bersedia mencabut laporan polisi demi penangguhan penahanan. Namun, janji itu sepertinya batal setelah mereka mengetahui besarnya biaya medis awal.

​"Tapi pas tanyakan biaya tindakan pertama ke bapaknya pelaku, dia bilang tidak sanggup. Setelah itu sampai sekarang tidak ada datang atau menghubungi lagi," ungkap Sridana.

​Adapun dugaan motif penganiayaan ini dipicu oleh persoalan setoran truk yang belum diserahkan selama kurun waktu 15 hari. Korban diketahui tertunda menyetor karena sedang sakit demam selama dua hari sebelum insiden terjadi.

​"Dia kerja baru sekitar 4 bulan. Yang saya tahu mungkin karena masalah setoran truk. Tapi saat itu korban memang lagi sakit tidur dua hari, panas dingin. Namun korban ini orangnya tertutup, tidak pernah cerita atau curhat masalah pekerjaan ke orang tua," jelas Sridana.

​Bagi masyarakat atau para dermawan yang ingin mengulurkan bantuan untuk penanganan medis I Gede Selamet, pihak keluarga telah membuka saluran donasi melalui rekening komunitas atau dadia Sangging Prabangkara.***

 

 

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
RSUP Prof. Ngoerah sopir truk dibakar Selat Karangasem