AMLAPURA, Radar Bali.id – I Gede Slamet, korban aksi pembakaran oleh seorang bos truk di Kecamatan Selat, hingga kini masih harus menjalani perawatan intensif di RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar.
Baca Juga: Sopir Truk Diduga Dibakar Bos Alami Luka Bakar 68 Persen dan Tak Miliki Biaya
Namun, tindakan operasi medis belum dapat dilaksanakan lantaran pihak keluarga terkendala biaya yang tergolong sangat besar.
Perbekel Desa Muncan, I Wayan Tunas, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya menggalang dana demi membantu meringankan beban finansial keluarga korban. Penggalangan dana dilakukan secara masif melalui berbagai komunitas, kolega, hingga simpatisan.
”Informasi terbaru yang saya terima pada Selasa (22/9/2026), biaya operasinya mencapai Rp 62 juta lebih. Apakah itu untuk sekali operasi atau sudah mencakup keseluruhan,” ujar Tunas saat dikonfirmasi pada Selasa (22/9/2026).
Tunas menambahkan, hingga saat ini korban belum bisa diajak berkomunikasi dan masih bergantung pada alat bantu pernapasan. ”Kondisinya belum membaik,” ucapnya prihatin.
Saat ini, fokus utama keluarga dan para simpatisan adalah mengupayakan agar Gede Slamet dapat melewati masa kritisnya. Mengenai proses hukum, pihak desa dan keluarga memercayakannya penuh kepada aparat kepolisian.
”Untuk soal kasusnya itu kami serahkan ke polisi. Biar polisi yang menangani perkara ini sesuai prosedur yang berlaku. Yang terpenting bagaimana sekarang Gede Slamet membaik,” tegas Tunas.
Musibah berat ini menjadi pukulan telak bagi keluarga korban yang hidup serba kekurangan, terlebih Gede Slamet merupakan tulang punggung keluarga. Pihak keluarga terpaksa harus bergantian pergi ke Denpasar untuk menjaga korban.
”Yang menjaga di sana bergantian antara bapak dan ibu korban, mengingat keduanya harus tetap bekerja mencari nafkah. Untuk menuju RS Ngoerah, mereka harus menggunakan sepeda motor menempuh jarak yang lumayan jauh dari rumah di Desa Muncan. Saat ini kondisi bapak dan ibunya juga sedang sakit karena kelelahan dan beban pikiran,” tutur Tunas.
Ia berharap Gede Slamet diberi kekuatan untuk melewati masa kritis, sekaligus mengimbau uluran tangan dari masyarakat luas untuk membantu meringankan biaya pengobatan luka bakar intensif yang dialami korban. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali