SINGARAJA, Radar Bali.id – Penanganan secara niskala ditempuh warga Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Pasalnya, sejumlah warga dan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) mendadak mengalami kerauhan (kesurupan) pascaproyek jalan pintas (shortcut) Singaraja-Mengwitani titik 9-10 mulai berjalan.
Baca Juga: Diduga Pikiran Kosong, Gelar Upacara Kecil Agar Kesurupan Tak Terulang
Untuk memohon keselamatan, warga Desa Pegayaman menggelar ritual doa tolak bala pada Rabu (30/9/2026). Doa bersama ini dilaksanakan agar pengerjaan proyek strategis tersebut berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi semua pihak.
”Tolak bala ini dilaksanakan karena masyarakat resah setelah adanya kerauhan anak-anak yang masih SD,” ungkap Tokoh dan Pemerhati Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto.
Ritual digelar langsung di lokasi proyek shortcut kawasan Banjar Dinas Kubu, Desa Pegayaman. Dipimpin Guru Penghulu Imam Desa, H. Abdul Gofar Ismail, kegiatan tersebut diikuti ratusan warga setempat.
Di titik pertama, masyarakat membentuk formasi menghadap ke berbagai penjuru mata angin. Dipimpin H. Abdul, lantunan adzan dikumandangkan secara bersama-sama, disusul pembacaan doa tolak bala.
Selesai di titik proyek, rombongan melanjutkan prosesi menuju Musholla Misbahul Busthan yang masih berlokasi di Banjar Dinas Kubu. Sambil berjalan menapaki medan terjal, lantunan tahlil bergema sepanjang jalan. Di musala tersebut, adzan dan doa tolak bala kembali dilantunkan secara khusyuk.
Suharto menegaskan, aksi ini bukan bentuk penolakan terhadap proyek shortcut. Sebaliknya, warga sangat mendukung pembangunan infrastruktur tersebut.
”Tidak ada maksud menolak atau membenci proyek. Malah kami sangat mendukung agar program ini berjalan dengan baik dan warga tenang tanpa gangguan. Tidak ada lagi kesurupan-kesurupan,” tegas Suharto. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali